Jeda gencatan senjata di Gaza dimanfaatkan untuk mencari dan menemukan anggota keluarga yang terkubur reruntuhan rumah mereka. Sekitar 8.000 orang masih terkubur.
14 Feb 2026 13:03 WIB · Internasional
AFP/OMAR AL-QATTAA
Lima perempuan termangu menyaksikan tim pertahanan sipil Gaza yang bekerja di reruntuhan bangunan bertingkat yang telah rata dengan tanah di lingkungan Sheikh Radwan, Kota Gaza, Palestina, pada Sabtu (7/2/2026). Di sudut yang lain, belasan anak laki-laki bercampur dengan pria dewasa menyaksikan hal yang sama.
Sebuah alat berat dikerahkan untuk memindahkan material bangunan. Beberapa kali proses ini berhenti sejenak untuk melihat kemungkinan ditemukannya sisa-sisa korban yang tertimbun bangunan. Salem, salah satu warga Gaza, dibantu sanak keluarga, hari itu memulai pencarian keluarganya yang tertimbun bangunan saat terjadi serangan udara Israel pada Desember 2023.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/14/35354853-4926-4d63-bd65-7af706a2c469.jpg)
Tak berapa jauh dari tempat itu, Mahmoud Hammand berjongkok di tengah tumpukan puing yang dulunya adalah rumahnya. Ia menyendok gundukan tanah, menaruhnya ke dalam saringan besar, dan menggoyang-goyangkannya. Saat butiran tanah turun melalui saringan, ia memeriksanya dengan cermat sebelum membuangnya.
Sebagaimana yang dilakukan Salem, Hammand juga berupaya menemukan anggota keluarganya di balik reruntuhan. Beberapa hari terakhir, dia beruntung. Tulang-tulang kecil muncul.
Dia yakin bahwa itu adalah anak perempuan yang belum lahir yang dikandung istrinya saat serangan udara Israel menghantam bangunan keluarga mereka lebih dari dua tahun lalu. Serangan itu menewaskan istri dan kelima anaknya.
Dia memindahkan pecahan-pecahan itu ke dalam kotak berisi tulang-tulang yang telah dikumpulkannya selama berbulan-bulan menggali reruntuhan sendirian menggunakan beliung, sekop, dan tangannya. ”Saya tidak akan menemukan mereka semua,” katanya.
Masih membekas dalam ingatan Hammand, hari itu 6 Desember 2023 sekitar pukul 11.30. Sebuah serangan Israel menghantam gedung enam lantai tempat keluarga dan saudara laki-lakinya tinggal di lingkungan Sabra, Kota Gaza.
Hammad yang berusia 39 tahun baru saja keluar dari apartemen untuk naik ke lantai atas di mana istrinya, Nema Hammad, yang sedang hamil sembilan bulan, dan kelima anak mereka, yang berusia 8 tahun hingga 16 tahun, sedang menyelesaikan sarapan. Beberapa hari sebelum serangan itu, militer Israel telah menjatuhkan selebaran di area tersebut, memerintahkan orang-orang untuk pergi dan menuju bagian selatan Jalur Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/14/ba12a349-8425-4399-9556-83dd1d1dded9.jpg)
Mahmoud Hammad menolak untuk pergi. Untuk sementara waktu, Nema Hammad dan anak-anaknya pergi ke rumah orangtuanya di Distrik Jabaliya. Tetapi, Nema ingin kembali.
Hammand mencoba mencegahnya dengan alasan pengeboman Israel di sekitar mereka. Namun, pada 5 Desember, ia mendapati istri dan anak-anaknya di depan pintu rumahnya. ”Kita harus memilih, hidup bersama atau kita akan menjadi martir bersama,” kata istrinya kepadanya.
Sehari kemudian Israel menyerang daerah itu. Hammand selamat, tetapi mengalami berbagai luka, termasuk patah tulang di dada, panggul, lutut, dan pendarahan internal di dada. Namun, saudara laki-lakinya, ipar perempuannya, dan keempat putra mereka tewas.
Setelah serangan itu, para tetangga berhasil menemukan jenazah putra sulungnya, Ismail, dan dua anak dari saudara laki-lakinya. Sisanya tetap berada di bawah reruntuhan.
Setelah pulih dari luka-lukanya, Hammad kembali ke reruntuhan rumahnya dan mendirikan tempat berlindung di dekatnya untuk tinggal. Ia memulai pencarian jenazah mereka.
Pertama-tama ia meminta bantuan dari korps Pertahanan Sipil Gaza. Namun, tim penyelamat tidak pernah datang, entah karena terlalu berbahaya di tengah pengeboman Israel yang hebat atau karena mereka tidak memiliki peralatan dan mesin untuk menyingkirkan puing-puing.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/14/cf04617f-2533-46ae-8793-2cf09a870317.jpg)
Jadi, dia mulai menggali sendiri. Dia mulai dari langit-langit dan dinding yang runtuh, memecahnya menjadi batu-batu kecil dan memasukkannya ke karung. Tumpukan puluhan karung kini mengelilingi lokasi tersebut seperti tembok.
Pada akhir tahun 2024, ia menggali hingga ke apartemen saudara laki-lakinya, yang berada di lantai tiga, di mana ia menemukan jasad saudara laki-laki dan iparnya. Ia menguburkan mereka di pemakaman sementara yang dibuat oleh penduduk daerah tersebut selama perang untuk menampung jenazah sampai dapat dipindahkan ke pemakaman yang layak.
Sejak Oktober, Hammad melanjutkan penggalian. Dia terus menggali sampai di apartemennya sendiri yang berada di lantai dasar. Sekarang dia fokus membersihkan puing-puing dari sisi timur karena di situlah dia tahu istrinya berada di saat-saat terakhirnya.
”Mereka sedang makan puding beras di ruang tamu,” katanya. Sambil menyaring tanah, ia menemukan pecahan tulang kecil. Ia membagikan gambar tulang-tulang itu melalui Whatsapp kepada seorang dokter yang mengatakan bahwa pecahan tersebut, termasuk tulang rahang, tampaknya milik bayi kecil.
Ia yakin itu adalah sisa-sisa jenazah bayi perempuan yang telah mereka tunggu-tunggu. Mereka berencana menamainya Haifa, diambil dari nama salah satu ipar perempuan Hammad yang tewas akibat serangan Israel beberapa minggu sebelum serangan terhadap rumah mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/14/025682dc-e2f5-4a8d-bc14-2e2817a1e44d.jpg)
Penemuan pecahan tulang itu memberinya harapan. Setelah mengumpulkan cukup banyak sisa jenazah, ujarnya, dia akan menguburkannya dengan layak.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sekitar 8.000 orang masih terkubur di bawah reruntuhan. Adanya kesepakatan gencatan senjata pada bulan Oktober telah meningkatkan upaya penggalian meskipun terhambat oleh kurangnya alat berat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/14/4ee6bf26-b655-482b-b295-7558c6d9c1cf.jpg)
Hingga kini, lebih dari 700 jenazah telah ditemukan dari bawah bangunan. Jumlah itu ditambahkan ke daftar korban tewas akibat perang yang kini berjumlah lebih dari 72.000.
Gaza menjadi tempat paling hancur di dunia dengan 61 juta ton puing, kira-kira setara dengan 15 Piramida Agung Giza atau 25 Menara Eiffel berdasarkan volumenya, menurut PBB. (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul