Saat Rempah Mi Bangladesh Menggoda Lidah Orang Jakarta

Mi bangladesh menjadi fenomena baru di Jakarta. Kedai yang menyajikan makanan berbahan baku mi instan dengan bumbu rempah itu mulai menjamur di beberapa sudut kota.

30 Jan 2025 11:33 WIB · Gaya Hidup

Oleh Prayogi Dwi Sulistyo

Banyak pengunjung kedai mi Bangladesh yang sangat menikmati makanan khas Aceh tersebut. Bagi mereka, mi Bangladesh unik karena memiliki cita rasa yang penuh dengan rempah, meskipun hanya berbahan baku mi instan.

Harganya cukup terjangkau yakni Rp 15.000 untuk mi Bangladesh biasa. Jika ingin tambahan telur setengah matang atau yang disebut dengan puding, maka perlu menambah Rp 10.000. Perpaduannya semakin sempurna dengan adanya bawang goreng dan potongan sawi. Pedas, gurih dan manis menjadi satu. Kuah kentalnya menggoda rasa.

Mi Bangladesh cocok bersanding dengan kopi sanger yang juga khas Aceh. Kopi ini menggabungkan rasa pahit dan manis yang terdapat pada susu kental. Jika suka manis, maka tinggal diaduk. Namun, jika tidak suka manis, maka biarkan saja susunya mengendap di bawah kopi.

Tidak sulit untuk menemukan kedai mi Bangladesh. Para pemilik kedai biasanya memasang tulisan mi Bangladesh di depan kedai mereka.

Di Kedai Mie Bangladesh Taste of Atjeh Tebet, Jakarta Selatan, misalnya. Pada Rabu (22/1/2025) malam, banyak pengunjung yang menikmati mi Bangladesh hingga 20 meja yang tersedia hampir terisi semua. Parkir kedai ini pun sampai penuh. Kedai ini mulai melayani pengunjung pukul 12.00 dan pesanan terakhir pukul 22.35.

Suasana Kedai Mie Bangladesh Tebet di Jakarta Selatan, Senin (20/1/2025). Menu Indomie Bangladesh menjadi favorit kedai yang baru buka pada 1 Januari 2025 tersebut. Sebanyak 100 porsi Indomie Bangladesh ludes saat hari Sabtu atau Minggu. Kedai buka jam 12.00 WIB hingga 23.00 WIB. KOMPAS/AGUS SUSANTO 20-1-2025

Salah satu pengunjung kedai ini, Arin (26), warga Jakarta Utara sangat menyukai mi Bangladesh karena cita rasa yang unik. Ia mengetahui adanya mi Bangladesh sejak tahun lalu. Saat itu, ia lewat di depan salah satu kedai mi Bangladesh. Lalu, ia mencari tahu lewat video blog makanan di Youtube.

“Cari di Youtube bentuknya seperti apa. Kalau mi instan biasanya enak lah. Terus aku lihat sepertinya menarik. Terus aku coba,” tutur karyawan swasta tersebut.

Menurut Arin yang menyukai mi instan, mi Bangladesh berbeda dengan kedai mi instan lain karena menggunakan rempah. Selain itu, kedai mi Bangladesh bersih dan nyaman untuk makan.

24 jam

Pengunjung Warkop Agam DKI di Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Kamis (23/1/2025) malam juga merasakan nikmatnya makan mi Bangladesh. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 21.45, mereka tampak santai menikmati mi Bangladesh karena kedai itu buka 24 jam.

Habibi (34), Razi (38) dan Natalia (33) yang tinggal di Tanjung Duren, misalnya. Habibi dan Razi yang berasal dari Aceh menyukai Mi Bangladesh karena ada makanan asal daerahnya di Jakarta.

Suasana Warkop Agam DKI di Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Kamis (23/1/2025) malam. Kedai ini menyajikan menu spesial mi Bangladesh dan buka 24 jam.

Habibi mengetahui ada mi Bangladesh di Jakarta ketika melintasi depan kedai. Karena penasaran apakah rasanya sama dengan di daerahnya, ia pun mencobanya. “Di sini rasanya sudah hampir sama karena kebetulan chef (koki)-nya juga orang Aceh,” ujarnya.

Ia menyukai mi Bangladesh karena rasa bumbu rempahnya. Bagi Razi, orang Aceh menyukai mi Bangladesh bukan karena viral di media sosial, tetapi sudah menjadi makanan sehari-hari.

Berbeda dengan Habibi dan Razi, Natalia yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat, mengetahui mi Bangladesh dari media sosial. Banyak video blog makanan yang membuat konten mi Bangladesh. “Kayaknya enak. Penasaran dengan cerita (Razi). Biasanya abang (Razi) yang masakin (mi Bangladesh),” tuturnya sambil tertawa.

Natalia pun mencoba masakan mi Bangladesh di kedai. Ia mengaku tertarik dengan mi Bangladesh karena banyak video yang memperlihatkan makanan tersebut penuh rempah. Itu sesuai dengan seleranya.

Mereka bertiga juga menyukai kedai mi Bangladesh yang rapi. Itu berbeda dengan kedai warung kopi pada umumnya yang sempit. Alhasil, mereka bisa nongkrong dengan leluasa. Apalagi, Warkop Agam DKI buka selama 24 jam. Bagi mereka bertiga, yang terpenting adalah makanannya enak.

Mi Bangladesh (kiri) bersanding dengan roti canai gula.

Pengunjung lainnya, Tya (36) pun menyukai mi Bangladesh. Bagi perempuan asal Yogyakarta itu, mi Bangladesh kaya rasa karena ada bumbu rempah. Porsinya juga cukup untuk makan malam. Ia mengaku tahu mi Bangladesh dari media sosial dan menjadi bahan pembicaraan di tempat kerjanya.

Akan tetapi, menurut Tya, harga Mi Bangladesh cukup mahal untuk ukuran masakan dengan bahan baku mi instan. Sebab, biasanya masakan mi instan dijual dengan harga di bawah Rp 15.000. Meski demikian, ia tetap tertarik untuk mencoba mi Bangladesh lagi. Dia ingin mengajak teman dan keluarganya untuk mencicipi mi Bangladesh. Apalagi, kedainya nyaman untuk makan karena luas, bersih dan rapi.

Tren

Penanggung jawab Unit Bisnis Food and Beverage di Kedai Mie Bangladesh Taste of Atjeh, Sendy Aria Wiguna, menceritakan, kedainya buka sejak 10 Desember 2023. Lalu, mereka membuka cabang di Medan (Sumatera Utara) pada 4 Juli 2024 dan Bandung (Jawa Barat) pada 31 Agustus 2024.

Mereka menggunakan jargon mi Bangladesh karena saat ini sedang tren di kalangan anak muda. Kata “Bangladesh” memberikan ciri khas dibandingkan dengan kedai warung makan mi instan lainnya. Selain mi Bangladesh, mereka menyajikan masakan dan minuman khas Aceh seperti mi Aceh, kopi sanger, kopi saring Aceh, roti canai kari, nasi goreng kampung, nasi goreng Aceh dan sebagainya.

Kedai Mie Bangladesh menjadi sebuah brand awal yang dikelola PT Kreasi Anak Medan. “Berjalannya waktu mungkin akan berubah brand yang tidak merubah konsep Kedai Mie Bangladesh Taste of Atjeh itu sendiri,” jelas Sendy.

Muhajir, pemuda asal Langsa, Aceh Timur memasak menu Indomie Bangladesh Puding Biasa di Kedai Mie Bangladesh Tebet, Jakarta Selatan, Senin (20/1/2025). Menu Indomie Bangladesh menjadi favorit kedai yang baru buka pada 1 Januari 2025 tersebut. Menu Indomie Bangladesh dimasak selama 3 menit. Sebanyak 100 porsi Indomie Bangladesh ludes saat hari Sabtu atau Minggu. Kedai buka jam 12.00 WIB hingga 23.00 WIB. KOMPAS/AGUS SUSANTO 20-1-2025

Ia pun menceritakan bahwa kata “Bangladesh” merupakan nama orang yakni Abdullah Arsyad yang berasal dari kampung Delima, Sigli, Aceh. Nama tersebut disingkat menjadi Bang Lah Delima Sigli sehingga membentuk kata Bangladesh.

Bumbu mi Bangladesh mulai terkenal dan viral di Medan. Saat ini, telah merambah ke berbagai kota besar. Kedai Mie Bangladesh Taste of Atjeh merupakan salah satu yang memopulerkan masakan mi Bangladesh dengan bumbu asli Bangladesh yang didatangkan langsung dari Medan.

Kepala juru masak Kedai Mie Bangladesh Taste of Atjeh, Riki Wahyudi (22) yang berasal dari Aceh, menceritakan bahwa mi Bangladesh banyak terdapat di Medan. Kedai mi Bangladesh tidak ada di Aceh karena dianggap sudah biasa. “Di Aceh, di pasar ada bumbu Aceh,” ungkapnya.

Selain bumbu khusus tersebut, mi Bangladesh menggunakan rempah seperti cengkeh dan kapulaga. Itu yang membedakan dengan masakan mi instan pada umumnya. Mi Bangladesh biasanya menggunakan tambahan telur setengah matang yang direbus dengan tingkat kematangan yang pas. Telur setengah matang ini disebut dengan poding atau puding.

Pengelola Warkop Agam DKI, Muhammad Zaki menceritakan, kedainya mulai buka sejak dua bulan yang lalu. Sebelumnya, ia telah dua tahun bekerja di Warkop Agem Senyum Ketawa. Warkop ini salah satu yang terkenal di Medan.

Pengunjung menikmati Mi Banglahdes'e di Warkop Agem Senyum di Kawasan Multatuli, Medan, Sumatera Utara, Kamis (23/1/2025).

Zaki yang berasal dari Sigli pun menjelaskan bahwa kata Agam merupakan sebutan untuk anak laki-laki bagi orang Aceh. Biasanya kedai yang menggunakan kata Agam menambah kata di belakangnya seperti kedainya yang menggunakan kata DKI karena merujuk pada kota Jakarta.

Berbeda dengan penjelasan Sendy, Zaki mengetahui kata Bangladesh dipakai karena bumbunya menggunakan rempah-rempah seperti di Bangladesh. Namun, ia tidak tahu detailnya. Menurutnya, Warkop Agem Senyum Ketawa yang pertama kali mempopulerkan mi Bangladesh di Medan.

Mi Bangladesh menjadi menu spesial di Warkop Agam DKI. Karena itu, frasa mie Bangladesh disematkan di bawah nama Warkop Agam DKI.

Prospek

Zaki melihat prospek penjualan mi Bangladesh di Jakarta sangat bagus. Saat ramai pengunjung, 20 dus mi instan habis. Ketika sepi, mereka menghabiskan minimal 10 dus. Kedainya ramai dikunjungi pada Sabtu, Minggu, dan Senin malam.

Oleh karena itu, kata Zaki, usaha mi Bangladesh ini bisa untuk jangka panjang. Apalagi, kedai Agam di Medan bisa berdiri hingga puluhan tahun. “Karena ini bukan kuliner yang baru viral. Bukan yang baru buka. Ini sudah bertahan lama. Saya yakin masyarakat tidak ada bosannya makan Indomie (mi instan),” jelasnya.

Menu mie Bangladesh puding (kiri) dan mie Aceh daging (kanan) serta kopi sanger di Warkop Mie Bangladesh Ciputat "Aneuk Nanggroe" di Tangerang Selatan, Selasa (21/1/2025). Warkop tersebut buka sejak September 2024. KOMPAS/AGUS SUSANTO 21-1-2025

Menurutnya, mi instan cocok dimakan kapan saja dan bisa menjadi pengganti nasi sehingga kedainya buka 24 jam. Untuk rasa, ia menyesuaikan dengan kebiasaan orang di Pulau Jawa yang menyukai makanan manis. Kedainya menggunakan mi instan goreng yang sedikit memiliki rasa manis.

Menurut Pengajar Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN), AG Eka Wenats, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (24/1/2025), media sosial berpengaruh terhadap gaya hidup orang sehingga menyukai mi Bangladesh. "Yang jelas orang Indonesia suka mengkonsumsi sesuatu yang baru," kata Eka.

Mi Bangladesh merupakan sesuatu yang baru dengan ramuan yang eksotik yakni aroma rempah-rempah yang memadukan rasa asin, pedas, dan manis. Itu yang membuat orang menjadi suka dengan mi Bangladesh dan akhirnya menjadi viral.

Sesuatu menjadi viral karena disukai banyak orang. Dalam hal ini, mi Bangladesh disukai banyak anak muda karena murah serta mudah diperoleh. Karena murah, maka mudah dikapitalisasi oleh pengusaha.

Menu Indomie Bangladesh Puding Biasa dan minuman jus terong Belanda disajikan di Kedai Mie Bangladesh Tebet, Jakarta Selatan, Senin (20/1/2025). Menu Indomie Bangladesh menjadi favorit kedai yang baru buka pada 1 Januari 2025 tersebut. Sebanyak 100 porsi Indomie Bangladesh ludes saat hari Sabtu atau Minggu. Kedai buka jam 12.00 WIB hingga 23.00 WIB. KOMPAS/AGUS SUSANTO 20-1-2025

Eka melihat fenoma mi Bangladesh hanya akan berlangsung musiman yakni setengah tahun atau setahun. Sebab, makanan dipengaruhi oleh selera masyarakat yang berubah-ubah. Jika ada makanan yang baru, maka akan berganti tren.

Oleh karena itu, perlu ada strategi dalam mengolah rasa atau memodifikasinya agar orang tidak bosan. Mereka yang lebih cepat dan murah serta memiliki kapital yang lebih besar juga bakal bertahan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Prayogi Dwi Sulistyo
 | 

Editor:

Dahono Fitrianto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .