Keberhasilan misil-misil hipersonik Iran menghunjam langit pada Sabtu (14/6/2025) dini hari, membuktikan kecanggihan rudal Iran mengatasi sistem pertahanan Israel.
20 Jun 2025 10:01 WIB · Internasional
Ibarat hujan api dari langit, penampakan serangan 300 lebih kombinasi rudal dan drone Iran di langit seluruh kawasan Israel membuat malam hari menjadi terang benderang oleh nyala ledakan dari rudal-rudal Iran yang dicegat sistem pertahanan udara Israel.
Terlihat sistem pertahanan Iron Dome, David Sling, dan David Arrow kerepotan dan belingsatan menghadapi serangan Iran kali ini. Ini berbeda dengan serangan ratusan rudal dan drone Iran tahun 2024 lalu. Pada serangan 13 April 2024, Iran mengirim lebih dari 300 pesawat nirawak (drone), rudal, dan misil ke wilayah Israel. Serangan balasan Iran atas tewasnya dua jenderal militer dan beberapa anggota IRGC oleh Israel di kantor konsulat Iran di Damaskus, Suriah, itu tercatat tak menyebabkan korban jiwa atau kerusakan.
Serangan itu terjadi lagi pada 2 Oktober 2024, di mana Iran menyerang seluruh kawasan Israel dengan 350 kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone bunuh diri (kamikaze). Saat itu Iran murka atas terbunuhnya pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dalam sebuah apartemen militer di Teheran. Namun, bantuan pertahanan dari sistem pertahanan udara Angkatan Laut AS serta negara-negara NATO yang berjaga di seputar perairan Mediterania telah menjatuhkan hampir semua rudal dan drone yang diluncurkan Iran.
Pada serangan kali ini terdengar puluhan ledakan dahsyat yang mengguncang kota-kota utama Israel. Tercatat, ibu kota Tel Aviv dan Haifa menjadi sasaran rudal Iran. Yaakov Lappin, seorang analis urusan militer di Pusat Riset Alma, sudah pernah menyatakan kekhawatirannya pada serangan Iran tanggal 13 April 2024.
”Jika terjadi serangan gabungan massal, dalam satu rentetan, pada saat yang sama, mereka dapat membanjiri sistem hingga tingkat tertentu. Berapa banyak proyektil yang berhasil menembus dan jenis kerusakan yang mereka timbulkan tidak diketahui,” katanya. Kini, tercatat, sebanyak puluhan rudal hipersonik ataupun rudal jelajah Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel.
Untuk pertama kalinya, gedung-gedung di Tel Aviv, Haifa, dan kota besar lainnya menjadi santapan empuk rudal Iran. Gelegar ledakan hulu ledak menggema dan menggetarkan seluruh kota, beberapa direkam secara langsung oleh warga Israel, yang memberikan kesan berbeda pada penyerangan kali ini.
Kekuatan ledakan dari sebuah misil hipersonik kali ini bisa benar-benar dilihat dan dirasakan warga Israel. Gedung puluhan lantai luluh lantak terbelah, seluruh gedung di sekelilingnya mengalami kerusakan parah dan gedung yang dalam jarak cukup jauh mengalami kehancuran fasad dan dinding.
Pada serangan Oktober 2024 lalu, bukti dari kekuatan ledakan sebuah hulu ledak yang ditumbukkan dengan kecepatan luar biasa adalah terciptanya kawah selebar puluhan meter dengan kedalaman belasan meter.
Rudal-rudal hipersonik yang diluncurkan Iran rata-rata membawa hulu ledak sebesar ratusan kilogram, yang menjadi berkali-kali lipat tingkat kekuatannya seiring dengan kecepatan tumbukan.
Dengan tingkat keampuhan rudal hipersonik seperti itu, bisa dibayangkan kekhawatiran warga Israel seandainya negara mereka tak mampu menahan serangan yang dilancarkan Iran. Dan, kekhawatiran mereka itu kini sebagian terbukti.
Laman Sputnik menyebut, tingkat efektivitas pencegatan oleh sistem Iron Dome Israel hanya berkisar 10-15 persen. Sebaliknya, pihak Israel dan pengamat Barat menilai, 10-15 persen rudal Iran berhasil menembus kota-kota Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/06/c452e846-b118-4137-bb8a-6a14252a5192_jpg.jpg)
Sistem pertahanan udara Israel sudah berlapis-lapis, pertahanan rudal jarak dekat dengan sistem Iron Dome (sd 60 km); pada jarak menengah dilindungi oleh sistem David Sling (sd 70 km), dan pada tingkat tertinggi dilindungi oleh sistem Arrow (s/d jarak 150 km). Dalam kondisi diserbu oleh ratusan rudal danproyektil konvensional, seperti pada saat serangan Hamas pasca 7 Oktober 2023, nyaris tak ada satu pun yang lolos dari hadangan rudal Iron Dome.
Namun, para ahli peperangan Iran rupanya terus mengembangkan kemampuan rudal dan strategi pertempuran mereka supaya bisa mengatasi kehebatan Iron Dome. Kemampuan Iran menjebol sistem Iron Dome Israel bukan dilakukan dengan semata mengandalkan kecepatan hipersonik rudal Fattah-2 yang dipakai, tetapi juga perubahan taktik penyerangan.
Hal itu, antara lain, dengan membanjiri langit Israel dengan ratusan rudal hipersonik, drone dan rudal pengecoh pada saat gelombang serangan yang sama. Jika rudal hipersonik digunakan setelah atau bersamaan dengan serangan rudal konvensional dan drone dalam jumlah besar, sistem pertahanan Israel bisa menjadi kewalahan. Strategi ini dikenal sebagai ”saturation attack” atau serangan jenuh, di mana volume serangan melebihi kapasitas sistem pertahanan.
Laman Sputnik memberitakan, serangan pertama Iran yang menimbulkan banyak kehancuran di Israel, berasal dari 200 rudal hipersonik, 100 lebih drone Shahed-136, dan 100-an rudal pengecoh. Rudal pengecoh ini diluncurkan untuk menguras sistem antiserangan udara Israel, terutama Iron Dome yang membutuhkan waktu cukup lama, 11 menit untuk mengisi ulang rudal.
Ketika rudal sedang diisi ulang, rudal hipersonik sesungguhnya diluncurkan dari Iran dan hanya membutuhkan waktu 7 menit sebelum menghantam sasaran. Selisih jeda waktu yang hanya dalam hitungan menit ini agaknya ditengarai menciptakan ”lubang” dalam sistem antiserangan udara Israel.
Ditambah lagi, antisipasi terhadap serangan 300 rudal ini tak dilakukan oleh pesawat dan kapal-kapal NATO sebagaimana dilakukan pada Oktober 2024 lalu. Saat itu, meski ada tiga ratusan ”paket” rudal-drone Iran, sebagian dirontokkan di udara sebelum mencapai langit Israel oleh jet tempur ataupun rudal NATO.
Kondisi ini terjadi karena ketika terjadi serangan Israel ke Iran, pesawat jet dan kapal perang NATO tidak dalam posisi siaga sebagaimana krisis pada 2 Oktober 2024 lalu. Saat itu tercatat mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, hingga Italia berperan dalam mencegat rudal Iran. Sementara saat ini, pengerahan pesawat jet oleh Perancis dan Inggris baru dilakukan dua hari setelah terjadi serangan yang ternyata mampu menembus Tel Aviv.

:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/20/8cc855d9606785c1393e62eda404bb6b-figure_1_iran_missiles_IISS.png)
Iran mengklaim memiliki rudal hipersonik seperti Fattah yang memiliki kemampuan penetrasi tinggi dan presisi. Menurut kantor berita Iran, IRNA pada Jumat (9/8/2024), IRGC mengumumkan penambahan sistem militer baru ke Angkatan Laut IRGC. Dengan jumlah mencapai 2.654 buah, sistem baru itu, antara lain, berupa rudal jarak jauh dan jarak menengah, pesawat nirawak untuk pertempuran dan pengintaian, serta unit perang elektronik. Rudal-rudal itu memiliki kemampuan baru yang lebih canggih, yaitu hulu ledak berdaya ledak tinggi dan tidak dapat dilacak radar.
Serangan kali ini ada perbedaan yang menyeruak: Iran benar-benar menggunakan rudal hipersonik canggih Fattah (Parsi: penakluk) yang selama beberapa waktu terakhir sudah menjadi pembahasan di kalangan ahli militer NATO dan militer Israel sendiri. Kekhawatiran tentang kecanggihan rudal hipersonik Fattah itu tecermin dalam laporan laman militer Eropa, Defence Industry, tanggal 8 Juni 2023 dan dianalisis oleh wartawan pengamat kemiliteran Israel, Arie Egozi.
Berbeda dengan tudingan negara barat bahwa Iran mendapatkan teknologi rudal dari negara-negara seperti Rusia atau Korea Utara, Iran tampaknya berhasil mengembangkan secara lebih mandiri teknologi rudal, khususnya teknologi hipersonik. Sejauh ini, baru China dan Rusia yang dianggap telah menerapkan secara mapan teknologi hipersonik dalam arsenal rudal mereka. Rusia membuktikan hal itu dengan meluncurkan berbagai jenis rudal hipersonik mereka dalam perang dengan Ukraina.
Sementara itu, Iran agaknya agak kurang diyakini oleh Barat akan mampu mencapai teknologi hipersonik secara cepat. Faktanya, kini badan penelitian dan pengembangan (R&D) Iran telah menghasilkan rudal hipersonik Fattah adalah asli buatan Iran. Fattah bukan replika atau salinan dari desain lainnya sebagaimana banyak diduga selama ini, paling tidak pada teknologi roket hipersoniknya. Alih-alih mencontek negara lain, Iran tampaknya telah berhasil mengejar kesenjangan teknologi dengan Rusia ataupun negara Barat.
Korps Pengawal Revolusiner Islam (IRGC) Iran sebenarnya telah menunjukkan rudal balistik hipersonik Fattah pertama kali pada tanggal 6 Juni 2023. Tahap pertama rudal Fattah dikembangkan pada rudal Khaibar Shekan yang kemudian dikembangkan menjadi rudal Khorramshahr dan dianggap sebagai rudal ’generasi baru’ di bidang rudal Iran.
Rudal tersebut memiliki diameter sekitar 1 meter dan panjang sekitar 15,3 meter. Pada saat itu oleh para ahli rudal Israel, Fattah diklasifikasikan sebagai rudal hipersonik karena dengan kemampuan melesat di atas kecepatan 5 mach (6.500 kpj), bahkan mencapai 15 mach saat di lapisan stratosfer.
Rudal Fattah memiliki berat lepas landas sekitar 12 ton, termasuk di dalamnya hampir 9 ton bahan bakar. Di tahap masuk kembali ke atmosfer dari lapisan stratosfer, rudal akan melepaskan bagian ujungnya yang runcing dan berfungsi untuk ”kembali ke Bumi” atau reentry vehicle-RV berbobot 1 ton, dan hulu ledak berbobot antara 350 hingga 450 kg. Hulu ledak seberat itu sudah cukup untuk diberi berbagai jenis peledak, termasuk peledak nuklir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/14/557c34ca-97ed-4d1a-9fda-8a9099a11339_gif.gif)
Rudal Fattah masuk kembali ke atmosfer/trophosphere menggunakan sistem panduan dan navigasi berdasarkan Inertial Navigation Unit (INU) dan Global Navigation Satellite System (GNSS), yang mencakup GPS dan GLONASS. Tingkat circular error probable (CEP) atau akurasi bidikan yang dicapai dengan panduan navigasi itu adalah antara 10 meter dan 25 meter, dengan kondisi hulu ledak jenis high explosive fragmentation (HEF).
Reentry Vehicle (RV) dilengkapi dengan motor roket yang kokoh mirip dengan motor tendangan yang digunakan pada peluncur satelit, khususnya Arash-24. RV mencakup empat sirip kemudi untuk mengendalikan rudal selama fase dorongan dan masuk kembali.
Kheibar Shekan dan Khorramshahr merupakan rudal jarak jauh generasi ketiga Korps Garda Revolusi Islam, yang menggunakan bahan bakar padat dan dalam fase pendaratan, memiliki kemampuan manuver untuk melewati perisai rudal. Radius operasi Kheibar Shekan lebih dari 1.400 kilometer dengan kemampuan manuver sangat tinggi, sedangkan rudal Khorramshahr memiliki jangkauan 2.000 km.
Rudal Fattah tampaknya telah dikembangkan sehingga memiliki jangkauan setara rudal Khorramshahr, dengan dampak ancaman nyata terhadap Israel hingga wilayah Eropa. Dalam serangan pada 2 Oktober 2024, jelas-jelas bahwa jangkauan rudal Fattah telah mengatasi kendala 1.800 km jarak antara Iran dan Israel.
Perangkat luar angkasa AS, seperti satelit pertahanan, dapat mendeteksi peluncuran rudal, tetapi tidak dapat memberikan prediksi titik dampak/sasaran dari rudal. Sepanjang seluruh fase penerbangan, termasuk pembakaran roket RV dan manuver 3D RV, berpotensi menyimpangi kemampuan pertahanan sistem pertahanan antirudal balistik Barat.
Selama fase balistik, rudal Fattah diperkirakan akan menggunakan lintasan ketinggian rendah, yang akan membatasi jangkauan radar darat dan sensor elektro-optik karena geometri garis pandang (LOS). Pada fase manuver pull-up (tahap rudal menanjak tinggi sebelum menghunjam), RV mencapai ketinggian sekitar 15 km, sebagian besar sensor yang tidak berada di dekat titik obyek mungkin kehilangan garis pandang ke target RV. Manuver pull-down (turun tajam dari ketinggian secara cepat), yang melibatkan manuver high-G (gravitasi), juga dapat mengecoh kemampuan pelacakan oleh Iron Dome.
Keseluruhan kemampuan rudal Fattah dengan kemampuan hipersoniknya yang unik ini kembali mengejutkan Israel dan Barat sehingga memaksa skenario pertahanan udara harus disesuaikan. Sistem Iron Dome dan sistem patriot harus mengembangkan software dan kemampuan pelacakan-penyergapan, atau secara agresif membumihanguskan Fattah di tempatnya sesaat diluncurkan
Dengan kemampuan menembus jejaring berlapis sistem kubah pelindung pertahanan udara Israel, maka diduga keras bahwa rudal-rudal hipersonik yang dipakai Iran saat ini sudah diperbaiki dalam berbagai hal. Mereka lebih cepat, lebih canggih membidik target musuh, dan lebih besar daya ledaknya.
(Litbang Kompas)
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
Andreas Yoga PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .