Disiplin lead Indonesia memasuki fase baru mulai 2025. Ajang pertama tahun ini, seri Piala Dunia Panjat Tebing di Wujiang, China, jadi momentum mereka tebar pesona.
23 Apr 2025 14:04 WIB · Olahraga
Pada dinding panjat setinggi 15 meter, Sukma Lintang Cahyani (20) menggapai satu demi satu pegangan atau poin. Tangannya terulur, kakinya memijak. Sering kali, tubuhnya terayun dengan mengandalkan tangan sebagai pegangan atau tubuhnya melintang di antara poin-poin dengan tangan dan kaki menjadi penahan. Gerakannya luwes, seperti tengah menari, tetapi di dinding.
Lintang tengah berlatih panjat tebing disiplin lead pada Sabtu (19/4/2025) siang itu. Di halaman parkir Hotel Santika Kota Harapan Indah, Bekasi, tempat pemusatan latihan nasional panjat tebing, Lintang berusaha mencapai titik tertinggi pada dinding yang berkontur dengan kemiringan signifikan tersebut.
Tidak seperti disiplin speed atau kecepatan, lead lebih menguji ketangkasan dan ketahanan pemanjat. Dalam perlombaan, setiap pemanjat mendapatkan satu kali kesempatan memanjat setinggi-tingginya dalam waktu enam menit. Tantangannya, setiap perlombaan biasanya menyajikan jalur pemanjatan yang berbeda-beda.
Lintang berlatih guna memantapkan persiapan menuju seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Wujiang, China, 25-27 April 2025. Bersama pemanjat putri lain, Nur Diatul Jannah, serta dua pemanjat putra, Musauwir dan Muhammad Rizky, Lintang menjadi wakil Indonesia untuk disiplin lead pada ajang yang digelar di Fenhu Culture and Sports Center tersebut.
Lintang dan kawan-kawan akan memulai perlombaan pada putaran kualifikasi, Jumat (25/4/2025). Mereka menjadi bagian dari 62 peserta yang berasal dari berbagai negara, masing-masing untuk kategori putra dan putri.
”Ini turnamen pertama tahun ini, jadi tentu saya sangat antusias karena di sinilah kemampuan dan hasil latihan kami akan diuji. Saya bertekad mengawali tahun ini dengan hasil bagus,” ucap Lintang.
Lintang mengemban misi pribadi. Pemanjat asal Yogyakarta ini ingin melampaui pencapaian seri Piala Dunia Panjat Tebing di Wujiang tahun lalu. Saat itu, Lintang terhenti pada babak semifinal atau 26 besar. Dia menempati peringkat terbawah.
Di Wujiang mendatang, Lintang memasang target menembus babak final atau delapan besar. Target tinggi itu ditatap Lintang dengan penuh semangat dan motivasi, alih-alih merasa terbebani. ”Ini tantangan juga buat diri sendiri,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/23/272404a0-324e-487b-aa25-86947d963b9c_jpg.jpg)
Tekad untuk melampaui pencapaian tahun lalu juga diutarakan Musauwir (20). Seperti Lintang, langkah Musauwir pun terhenti pada babak semifinal saat itu. Pemanjat asal Aceh ini menempati peringkat ke-25.
Menurut Musauwir, peningkatan dari hasil tahun lalu adalah sebuah keharusan. Itu akan menjadi modal yang bagus untuk menatap turnamen-turnamen sepanjang 2025. Apalagi, tahun ini, Musauwir dan pemanjat lead lainnya akan lebih sering diikutkan perlombaan seiring sudah memasuki fase baru pelatihan.
”Target pribadi memanjat semaksimal mungkin, semoga bisa menembus final dan baru setelah itu pelan-pelan menargetkan podium,” tutur Musauwir.
Pelatih tim panjat tebing Indonesia, Hendra Basir, mengatakan, para atlet lead memang sudah mulai memasuki fase kedua dalam persiapan jangka panjang menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Pada fase ini, mereka berlatih untuk bisa bersaing di kancah internasional.
Pada fase pertama tahun 2020-2024, latihan berfokus pada pengembangan dan pembangunan fondasi atlet. Dalam tahap ini, daya tahan jadi fokus utamanya. Setelah itu, tahun 2025-2028, atlet akan belajar berkompetisi sehingga jam terbang untuk beradu dalam berbagai kompetisi akan bertambah.
Dengan fase baru ini, komposisi pengiriman atlet ke ajang internasional pun berubah. Jumlah atlet lead yang berlaga otomatis bertambah dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu, misalnya, Indonesia hanya mengirim dua atlet lead di Wujiang, yakni Musauwir dan Lintang.
Selain itu, kata Hendra, Wujiang juga akan mengawali perubahan ”perlakuan” pada dua disiplin panjat tebing. Tekanan besar yang sebelumnya begitu besar disematkan kepada disiplin speed, terutama pada tahun lalu, mulai dikurangi tahun ini. Sebagian besar atlet speed menjalani pemulihan sembari tetap mempertahankan performa.
Sebaliknya, disiplin lead akan mulai mendapatkan beban dan tekanan untuk mulai unjuk gigi dan menebarkan pesonanya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika disiplin ini belum terlalu mendapatkan tekanan karena masih dalam fase pertama.
”Keinginan kami, paling tidak tembus final. Itu saja sudah keren sekali,” ujar Hendra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/23/9be8cd58-54d8-4bb6-b514-3f16f6d468ae_jpg.jpg)
Ketika fase kedua ini berjalan dengan benar, fase terakhir adalah berlatih untuk menang. Tahap ini setara dengan speed saat ini. ”Target tertingginya (lead) adalah finalis Olimpiade Los Angeles 2028. Ini target tertingginya. Berbeda dengan speed ya, target tertingginya adalah mempertahankan medali emas,” ucap Hendra.
Wujiang merupakan seri kedua Piala Dunia Panjat Tebing 2025 setelah seri pertama juga digelar di China, tepatnya di Keqiao. Namun, seri Keqiao hanya melombakan disiplin boulder. Sementara di Wujiang, giliran disiplin lead dan speed yang dilombakan.
Di Wujiang, para pemanjat tebing Indonesia disiplin lead, yang selama ini kalah pamor dari disiplin speed, bersiap tampil sebagai bintang yang mencuri sorot. Inilah saatnya mereka menebar pesona, memanjat dinding dengan semangat, dan menggenggam masa depan setinggi puncak yang harus mereka jangkau.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto