Jonatan Christie menegaskan pengalaman dan keunggulan di atas kertas tetap ada artinya saat mengalahkan Alwi Farhan di Indonesia Terbuka 2026.
05 Jun 2026 12:46 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Di turnamen level Super 1000 seperti Polytron Indonesia Terbuka 2026, persaingan bisa begitu ketat sekaligus cair. Unggulan bisa dikalahkan pemain di luar peringkat 10 besar dunia, rekor kemenangan bisa tumbang tanpa diduga, dan pemain muda bisa mengalahkan seniornya. Namun, ”anomali” seolah tidak berlaku bagi Jonatan Christie.
Pertandingan melawan yuniornya, Alwi Farhan, di babak 16 besar, Kamis (4/6/2026), tetap jadi milik Jonatan seperti pertemuan perdana di Korea Terbuka 2025. Jonatan membuktikan bahwa pengalaman dan keunggulan di atas kertas tetap ada artinya, termasuk dalam kondisi yang sebenarnya sangat memihak Alwi.
Bermain melawan teman sendiri, senegara, pastinya tidak mudah. Apalagi, Alwi juga pemain muda dan minggu lalu sedang mendapatkan kepercayaan dirinya setelah mengalahkan Shi Yu Qi.
Tak hanya karena selalu bisa menyerap energi Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Alwi juga sedang pede-pedenya. Tunggal putra nomor satu di pelatnas ini untuk pertama kalinya menembus semifinal turnamen level 750 di Singapura Terbuka 2026. Dalam perjalanannya, dia mengalahkan peringkat satu dunia, Shi Yu Qi (China).
”Saya kira malah saya kalah straight tadi, ha-ha-ha. Tadi Alwi juga mainnya cukup baik,” kata Jonatan selepas pertandingan.
”Bermain melawan teman sendiri, senegara, pastinya tidak mudah. Apalagi, Alwi juga pemain muda dan minggu lalu sedang mendapatkan kepercayaan dirinya setelah mengalahkan Shi Yu Qi. Itu suatu hal bagus,” ujarnya lagi.
Wajar Jonatan sempat berpikir akan kalah dari Alwi. Pemain berusia 21 tahun ini memang menunjukkan diri bisa menciptakan laga ketat dengan seniornya. Riuh Istora lewat sorakan dan tepukan balon dari penonton yang memenuhi tribune makin menambah semangatnya.
Alwi juga datang membawa kenangan baik ketika juara di Istora pada Januari lalu. Dia naik podium dalam turnamen Indonesia Masters yang menjadi gelar pertamanya dari turnamen level Super 500.
Modal itu membuat Alwi tak segan melawan Jonatan yang kini tak lagi menghuni pelatnas. Pada gim pertama, Alwi bahkan tak pernah membiarkan Jonatan unggul setelah dua poin beruntun sang senior pada awal laga.
Dengan permainan bertempo cepat dan penempatan kok yang menyulitkan lawan, Alwi selalu bisa menjauh dari kejaran Jonatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/bd711e177538a16cdf2f0ae7590da766-MYE_1329.jpg)
Namun, Jonatan menunjukkan kematangannya pada gim kedua dan penentu. Jonatan memaksa Alwi mengikuti permainan reli-reli panjang yang jadi keunggulannya. Dia dikenal sabar membangun serangan dan meladeni tekanan lawan.
Gim penentu memang tak serta-merta mudah bagi Jonatan. Setidaknya ada delapan kali skor imbang, menunjukkan mereka saling kejar angka. Adapun sepanjang laga, sebagian besar Jonatan yang mengejar yuniornya.
Itu termasuk saat Jonatan mampu menyamakan kedudukan setelah tertinggal empat angka di posisi 11-15 pada gim ketiga. Akan tetapi, setelah dikejar Jonatan, Alwi hanya bisa menambah satu angka. Sementara Jonatan melaju untuk memenangi laga.
Jonatan menilai dirinya punya waktu istirahat dan persiapan yang lebih panjang daripada Alwi. Setelah jadi runner-up India Terbuka, Januari lalu, Jonatan tersingkir dua kali di babak awal. Di Singapura Terbuka, dia juga pulang lebih dulu setelah kalah pada babak pertama.
”Mungkin pengalaman juga jadi faktor penentu karena saya banyak melewati fase-fase seperti pertandingan tadi. Jadi, ada pengalaman untuk tahu menyikapi kondisi seperti tadi,” ujar Jonatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/04/d8849afe-7ef8-440d-951d-61d03b6dc365.jpg)
Jonatan menunjukkan pengalaman tidak pernah berbohong. Dengan ikut lebih banyak turnamen internasional daripada Alwi, Jonatan lebih sering berada dalam situasi tertinggal dan tertekan. Pengalaman itulah yang membuat Jonatan tahu cara mengatasinya agar bisa mengejar dan membalikkan keadaan.
Pengalaman adalah tentang merasakan lebih dulu apa yang belum atau baru saja dirasakan orang lain. Jauh sebelum Alwi berapi-api tampil di Istora, Jonatan sudah tahu luar-dalam turnamen di tempat ikonik itu, termasuk Indonesia Terbuka.
Jonatan sudah bermain di Indonesia Terbuka sejak 2015, saat berusia 17 tahun. Saat itu, BWF masih menggunakan istilah Super Series/Super Series Premier untuk turnamen level tertinggi. Sementara Alwi baru saja menjalani debut di turnamen bergengsi tersebut pada tahun lalu.
Terlepas dari hasil itu, Jonatan senang dengan perlawanan ketat Alwi. Kata Jonatan, dia seperti melihat dirinya sewaktu muda dulu di Alwi yang penuh daya juang dan kepercayaan diri tinggi. Dia pun berharap yuniornya itu bisa terus mengasah kemampuan dengan pengalaman yang diraih dari berbagai turnamen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/c22e620c3b20f4c65387b6c2eac84873-MYE_0645.jpg)
Sementara itu, Alwi tak memungkiri kalah pengalaman dari Jonatan. Selain itu, ia juga masih kesulitan mengontrol ambisi dan kerap salah menilai permainan. Namun, dari Jonatan pula, Alwi belajar untuk bisa tetap tenang ketika situasi tertinggal.
”Jujur tadi nafsu banget. Kelihatannya bola dari Koh Jonatan enak buat diserang, tetapi ternyata pertahanannya rapat sekali sehingga malah menguras banyak tenaga saya,” ujar Alwi.
Dengan mengalahkan Alwi, Jonatan melaju ke perempat final melawan Yushi Tanaka (Jepang) yang mengalahkan Shi Yu Qi, dua gim langsung, 21-16, 21-11. Jonatan juga masih berada di jalur untuk membayar rasa penasaran untuk menjuarai Indonesia Terbuka.
Langkah terdekat Jonatan menuju podium juara terjadi di edisi 2021 ketika mencapai semifinal. Namun, saat itu Jonatan dihentikan Viktor Axelsen yang akhirnya menjadi juara.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar