Saham-saham bank dan konglomerat terpuruk sepanjang pekan pertama Februari 2025. Apa yang terjadi?
07 Feb 2025 16:30 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham dalam negeri terpuruk sepanjang pekan pertama Februari 2025. Berbagai saham berfundamental baik, seperti perbankan hingga saham konglomerat, tidak lagi mampu menggendong harga saham lainnya setelah ditinggal investor asing. Bagaimana investor yang masih bertahan harus bertindak?
Pasar saham memburuk pada perdagangan Kamis (6/2/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 2,1 persen ke level 6.875 menyusul Rp 2,3 triliun dana investor asing cabut dari bursa.
Pada Jumat (7/2/2025), koreksi IHSG kembali berlanjut hingga menembus batas support di 6.700. Posisi indeks pun terhitung sudah minus 5 persen dibanding level 7.076 pada perdagangan Jumat (31/1/2025).
Analis Pasar Modal Stocknow.id, Hendra Wardana, mengatakan, penurunan terdalam yang dialami IHSG Jumat ini terjadi manakala indeks saham regional justru menguat. Situasi ini diakibatkan sejumlah faktor.
Faktor yang dimaksud ialah terkait ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat dan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih rendah dari ekspektasi. Ada pula sentimen negatif dari keluarnya saham-saham konglomerat, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), di daftar calon indeks MSCI.
Tekanan terbesar juga terjadi di perbankan. Saham-saham bank besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Persero Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BBNI), mengalami koreksi tajam setelah laporan keuangan triwulan IV-2024 menunjukkan perlambatan laba.
BCA yang masih mencatat pertumbuhan laba 12,7 persen pada triwulan IV-2024 secara tahunan justru turun 3,1 persen secara triwulanan. Sementara laba BNI yang tumbuh 2,7 persen secara tahunan, labanya tergerus minus 8 persen secara triwulanan.
Sementara Bank Mandiri, laba pada triwulan IV-2024 turun 11 persen dibanding triwulan sebelumnya. Adapun pertumbuhan laba tahunannya hanya 1,3 persen.
”Ketidakpastian di sektor ini turut menyeret IHSG semakin dalam mengingat bobot saham perbankan yang besar dalam indeks,” kata Hendra kepada Kompas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/06/fe9408925b0e99688ce1909aee0cccae-Screenshot_20250206_140926_Ajaib.jpg)
Melihat kondisi ini, tekanan pada IHSG diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Ini terutama jika belum ada katalis positif yang mampu mengimbangi sentimen negatif dari dalam negeri.
”Namun, koreksi yang terjadi juga bisa membuka peluang bagi investor yang mulai mencari saham dengan valuasi menarik,” ujarnya.
Emiten media, menurut Hendra, memiliki prospek defensif di tengah penurunan pasar, terutama dengan pergeseran tren ke digital yang membuka peluang pertumbuhan baru. Emiten perbankan syariah juga memiliki prospek menarik di industri perbankan syariah, yang terus berkembang dengan strategi ekspansi agresif.
Di tengah ketidakpastian ini, ia menyarankan investor agar berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi jangka pendek dan menerapkan strategi manajemen risiko yang ketat.
”Pendekatan bertahap dalam mengoleksi saham-saham berfundamental kuat dapat menjadi langkah bijak sambil terus mencermati perkembangan global dan kebijakan ekonomi domestik yang akan menjadi faktor penentu arah pasar ke depan,” tuturnya.
Analis pasar modal dari PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai, level 6.700 menjadi level support atau terendah yang wajar setelah IHSG sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di 7.900 pada 19 September 2024. Secara historis, menurut dia, IHSG yang diguncang sentimen negatif bisa terkoreksi hingga 20 persen dari level tertingginya.
”Volatilitas di pasar saham adalah hal yang normal,” kata Wawan saat dihubungi secara terpisah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/06/d1b62b4b-df80-4455-989e-d6e33fc4ccbf.jpg)
Ia menilai, aksi jual saham oleh investor asing tetap dapat masuk kembali. Sebab, secara fundamental emiten-emiten di Indonesia masih membukukan profitabilitas.
Meski demikian, strategi yang ia sarankan untuk dilakukan investor saat pasar saham sedang volatil adalah mendiversifikasi dana investasi ke aset pasar uang atau pendapatan tetap sambil wait and see atau mencermati perkembangan makroekonomi.
”Bagi investor yang belum memiliki posisi saham, maka ini menjadi kesempatan baik untuk stock-picking atau membeli saham-saham berfundamental baik seperti big banks (bank-bank besar) yang sedang koreksi,” katanya.
Bagi yang sudah memiliki portofolio saham, Wawan mengatakan, investor bisa mempertimbangkan kebutuhan likuiditasnya. Jika investor masih mempertimbangkan dividen dari emiten yang masih profit, menahan saham untuk jangka panjang bisa dilakukan. Namun, bila ada kebutuhan jangka pendek, jual rugi atau cut loss saham dapat dipertimbangkan.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung Saputra