Volatilitas membuka peluang melalui strategi berburu saham diskon dengan pendekatan ”value investing”.
21 Apr 2026 18:16 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Erika Kurnia
JAKARTA, KOMPAS — Volatilitas pasar global yang masih tinggi pada triwulan II-2026 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi investor di pasar modal Indonesia. Pengamat menilai bahwa saham berkapitalisasi besar, termasuk dari sektor komoditas, tetap prospektif, terutama bagi investor yang menerapkan strategi selektif dan terdiversifikasi.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam paparan Media Day yang digelar secara daring, Selasa (21/4/2026), menyebutkan, pasar global pada triwulan II-2026 masih dipengaruhi oleh dinamika suku bunga dan ketegangan geopolitik. Dinamika di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak juga sangat berpengaruh.
Risiko kenaikan harga komoditas yang semestinya bisa menguntungkan pengusaha pun dibayangi risiko inflasi inti dan pengetatan moneter. Ini mungkin terjadi di banyak negara dalam beberapa bulan ke depan.
Volatilitas membuka peluang melalui strategi berburu saham diskon dengan pendekatan ’value investing’.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai, kondisi global saat ini membuka ruang bagi investor untuk berinvestasi pada perusahaan yang bisa mendapatkan peluang positif dari situasi mutakhir. Investor juga bisa mengakumulasi saham dengan prospek fundamental baik di tengah pelemahan pasar.
”Volatilitas membuka peluang melalui strategi berburu saham diskon dengan pendekatan value investing. Momentum dividen dan kinerja emiten dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama pada saham komoditas dan big caps,” ujar Nafan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/04/537bcfb8-3879-4f52-ae32-24fcb4aa00b0.jpg)
Di pasar saham domestik, sejumlah saham berbasis komoditas dinilai prospektif seiring kuatnya harga emas dan dinamika geopolitik global. Saham yang dimaksud seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM), Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), United Tractors Tbk (UNTR), dan Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Sentimen positif di sektor ini datang dari agenda hilirisasi mineral dan energi baru dan terbarukan (EBT), reformasi pasar modal, serta potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan dapat melampaui 5,39 persen secara tahunan.
”Saham-saham komoditas, yang sebagian milik konglomerasi, bisa jadi yang akan menjadi motor pengerak indeks. Ini karena sahan konglomerasi juga secara bobot masih berpengaruh besar dalam indeks,” ujar Nafan.
Saham berkapitalisasi besar yang dinilai menarik untuk dikoleksi pada triwulan II-2026 antara lain Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Bank Mandiri Tbk (BMRI), serta XL Axiata Tbk (EXCL).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/4e055fed610f61f460c3f8559437122b-Screenshot_20260421_173053_Samsung_Internet.jpg)
Pada sektor keuangan, sejumlah saham bank besar, seperti Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan Bank Mandiri Tbk (BMRI), berpotensi menjadi saham defensif, terutama dalam menjaga likuiditas pasar melalui aliran dividen.
Namun, ia mengingatkan adanya risiko dari sisi makro, misalnya potensi kenaikan kredit bermasalah seiring program pembiayaan besar dan tekanan suku bunga tinggi yang dapat menahan kinerja sektor ini.
Selain sektor-sektor tersebut, ia melihat sektor teknologi mulai memasuki fase pemulihan. Berdasarkan indikator relative rotation graph (RRG), sektor teknologi berada di area improving dan berpotensi menjadi sektor pemimpin apabila tren penguatan berlanjut.
Secara umum, Nafan menjelaskan, terdapat sejumlah katalis positif yang dapat menopang pergerakan IHSG, seperti realisasi laba emiten big caps atau kapitalisasi besar, potensi pertumbuhan laba perusahaan hingga dua digit atau ratusan juta rupiah, serta aliran dana dividen yang kembali masuk ke pasar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/17/d384ef65e9ccd932988ebad0dd812bd1-17764190676612994442742851884178.jpg)
Di sisi lain, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko atau tekanan (headwinds), seperti ketegangan geopolitik yang dapat memicu inflasi impor, pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berada di atas Rp 17.000 per dolar AS, serta potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.
”Kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi sektor properti dan teknologi, serta membuat investor asing cenderung lebih defensif,” katanya.
Untuk itu, Nafan menyarankan investor menerapkan strategi diversifikasi lintas sektor, mengombinasikan saham defensif seperti perbankan, konsumer, dan telekomunikasi dengan saham yang terus bertumbuh seperti pertambangan.
Ia juga menekankan pentingnya pembelian bertahap (averaging) dan tidak menginvestasikan seluruh dana sekaligus mengingat pergerakan pasar masih fluktuatif.
Sepanjang periode April hingga Juni 2026, ia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak pada kisaran support atau batas bawah 7.346–7.447 dan resistance atau batas atas 7.677-7.774 dalam jangka pendek.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/17/d384ef65e9ccd932988ebad0dd812bd1-17764190676612994442742851884178.jpg)
Senior Portfolio Manager Manulife Aset Manajemen Indonesia, Rizki Ardhi, juga menilai sektor komoditas dan energi tetap menarik sebagai lindung nilai terhadap fluktuasi nilai tukar dan harga energi global.
Menurut dia, dalam jangka panjang sektor konsumsi juga berpotensi pulih seiring penurunan biaya input dan perbaikan pertumbuhan ekonomi.
”Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, strategi utama adalah memastikan diversifikasi yang optimal dan memosisikan portofolio untuk berbagai skenario,” kata Rizki.
Dengan kombinasi peluang dan risiko tersebut, pelaku pasar menilai volatilitas bukan sekadar tantangan, melainkan juga momentum bagi investor untuk menyusun strategi investasi yang lebih adaptif dan terukur.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan