Fotografer perang Samar Abu Elouf tetap menyuarakan damai untuk Palestina, tanah airnya. Dia percaya foto bisa menjadi jembatannya.
30 Jul 2025 18:00 WIB · Tokoh
Unggahan di akun Instagram @samarabuelouf pada Minggu (27/7/2025) terasa unik sekaligus ironis. Fotografer Samar Abu Elouf, pemilik akun, mendapat kiriman tiga foto dari kakaknya yang tinggal di Gaza, Palestina, yaitu Shireen dan Nahla.
Foto pertama memperlihatkan kemasan tisu basah. Namun, di foto kedua, isi kemasan dalamnya bukanlah tisu basah, melainkan makanan ringan buatan warga Gaza. Foto ketiga menunjukkan kemasan tisu basah berisi makanan ringan yang diletakkan di rak dan dijual.
”Ini makanan pengganti masa perang,” kata Shireen.
Hal itu menjawab kebingungan Samar kenapa makanan itu ada di dalam bungkus tisu basah. Samar takjub dengan kreativitas itu.
”Saya tinggal di Gaza pada awal perang dan selalu takjub melihat orang-orang di sana menjalani hidup, beradaptasi dengan kondisi terberat, dan menemukan alternatif. Mereka pantang menyerah,” kata Samar.
Unggahan itu hanya satu dari banyak unggahan Samar tentang Palestina, khususnya Gaza, dalam beberapa tahun terakhir. Meski tidak lagi tinggal di Gaza, ia mendapatkan foto-foto itu dari kerabat yang masih terjebak dalam konflik bersenjata.
”Jika saya tidak bisa kembali ke Gaza, saya akan membawa Gaza kepada dunia,” ujar Samar. Ia kehilangan belasan anggota keluarga sejak konflik Palestina-Israel meletus pada Oktober 2023.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/16/0699ea579bdbaf2209565bc2b52f1585-POY_2025Contest_Samar_Abu_Elouf_portrait_Amjad_Al_Fayoumi.jpg)
Lahir, besar, dan dikenal lewat banyak karya fotografi tentang Palestina, sejak Desember 2024 Samar tinggal di Doha, Qatar, bersama empat anaknya. Namun, keputusan menjadi pengungsi itu diambil dengan berat hati.
Ia tak pernah takut nyawanya diambil perang, ia khawatir anak-anaknya jadi korban. ”Ketakutan terbesar saya menjadi orang yang difoto sedang berduka di atas jasad anak-anaknya,” ujarnya.
Meski begitu, Samar belum ingin berhenti. Selain mengabarkan nasib warga di Gaza dan pengungsi Palestina di Qatar, ia kerap menjadi pembicara dalam berbagai acara.
Kini, Samar juga belajar bahasa Inggris. Dia berharap, bahasa Inggris bisa membantunya mendapat tugas jurnalistik di zona konflik lain, seperti Ukraina atau Sudan.
”Sebagai jurnalis foto, saya hendak menyuarakan orang-orang tertindas di mana pun,” kata Samar kepada CNN.
Kini dikenal sebagai fotografer perang kawakan, Samar baru mengenal kamera di usia 26 tahun. Saat itu, ia masih ibu yang ingin menjadi lebih dari sekadar mengurus rumah tangga.
Untuk itu, dia mulai mencoba menulis hingga belajar akuntansi. Namun, fotografilah yang akhirnya berhasil memikat hatinya. Lewat foto ia punya misi memperkenalkan keindahan Gaza kepada dunia.
”Gaza terjalin erat dengan hati dan jiwa saya. Saya mencintai lautnya, energinya,” kata Samar.
Namun, bukan perkara mudah bagi dia untuk belajar fotografi. Mantan suami dan keluarganya tak setuju. Toh, ia tetap melakukannya.
”Saya agak keras kepala,” kata Samar.
Gaza terjalin erat dengan hati dan jiwa saya. Saya mencintai lautnya, energinya.
Tahun 2010, dia nekat mendaftar kursus fotografi. Ia belajar lewat tutorial daring gratis tentang komposisi, pencahayaan, dan penyuntingan.
Tanpa uang cukup dan kamera pribadi, dia berkendara melintasi Gaza. Misinya, mencari fotografer yang bersedia meminjamkan peralatannya.
Hingga akhirnya ia berkenalan dengan banyak fotografer baik hati. Samar pun memotret berbagai hal di Palestina. Pantai yang indah, hangatnya Idul Fitri, hingga kelamnya serangan dan demonstrasi menentang pendudukan militer Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/49d80f908dbf8b29a1b1a9511dac6755-wires_photo_93.jpg)
Dalam setahun, kemampuan Samar kian teruji. Serangkaian foto perempuan dan anak-anak Palestina miliknya terpilih untuk mengikuti pameran universitas di Gaza. Semua foto diambil menggunakan kamera pinjaman.
Tahun 2012, masih menggunakan peralatan pinjaman, ia memenangi kompetisi foto yang diselenggarakan Badan PBB untuk Pekerjaan dan Pemulihan Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA).
Fotonya menggambarkan anak-anak Palestina dengan wajah-wajah yang diterangi cahaya lilin. Mereka sedang merayakan ulang tahun di sebuah kamp pengungsi.
”Itu adalah momen menentukan bagi saya sebagai fotografer. Orang-orang ternyata dapat melihat emosi pribadi saya terpancar melalui foto,” ujarnya.
Selepas itu namanya mulai dikenal. Dia bahkan mulai bekerja di berbagai media berita, termasuk Reuters, Middle East Eye, dan Al Ghaidaa, sebuah majalah wanita lokal.
”Saya pertama kali meliput perang tahun 2012. Saat mendengar serangan udara, saya sedang mengajar kelas fotografi. Dari sana saya bergegas karena banyak orang dibawa ke rumah sakit,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/17/ecf8291f37898fc0b2addd64ca2c13df-NETHERLANDS_WPP_WORLDPRESSPHOTO_PHOTOGRAPHY_AWARD_129070688.jpg)
Namun, di antara sejumlah karya yang sudah ditorehkan, Samar menyebut dirinya masih diragukan. Beberapa rekan prianya sempat mengejeknya. Mereka meremehkan bakat fotografinya.
Itu juga yang diduga membuatnya pernah kesulitan mendapat peralatan keselamatan saat liputan di tahun 2015. Saat hendak meliput protes pendudukan Israel di perbatasan, ia tak kebagian helm dan jaket antipeluru. Namun, hal itu tak membuatnya mundur.
Samar lantas membuat helm dari panci masak yang ia beri tulisan ”TV”. Rompi dari kantong plastik bertuliskan ”Press” pun ia buat dan kenakan. Salah seorang fotografer lantas mengabadikan momen itu.
”Saya menjadi terkenal di Gaza karena foto saya itu. Tentara Israel dan orang-orang lainnya tertawa. Mereka bertanya apa yang saya masak untuk mereka di dalam panci itu. Namun, saya tidak peduli,” katanya.
Kegigihannya itulah yang membuatnya karyanya bertenaga dan penuh warna. Fotonya memperlihatkan kematian, pengungsian, dan keputusasaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/29/15ff2cd5d31a36580282ed86316b465d-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_MALNUTRITION_131442716.jpg)
Di saat bersamaan, Samar mampu menghadirkan momen-momen penuh kegembiraan dan ketangguhan, terutama saat konflik kembali meluas sejak Oktober 2023.Apresiasi dari berbagai pihak pun berdatangan.
Pada 21 Februari 2024, misalnya, ia mendapat penghargaan George Polk bersama koleganya, Yusef Masoud. Foto-foto yang dimuat di The New York Times memperlihatkan kondisi buruk saat invasi Israel ke Gaza.
Selanjutnya, International Women's Foundation menobatkan Samar sebagai penerima ke-10 Penghargaan Anja Niedringhaus Courage in Photojournalism pada 4 April 2024. Itu merujuk pada 12 foto bertajuk ”Gaza Under Attack” yang diambil Oktober-November 2023 dan dimuat di The New York Times.
Pada 24 Oktober 2024, dengan foto yang sama, ia juga mendapat penghargaan atas karyanya tersebut dengan Penghargaan Kebebasan Pers Internasional dari kelompok advokasi nirlaba, Canadian Journalists for Free Expression (CJFE). ”Saat di panggung, saya teringat keluarga saya,” ujar Samar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/15/5c6e88a197138e830061867a27616df6-FOTO_BERJUDUL_MAHMOUD_AJJOUR_AGED_NINE_KARYA_SAMAR_ABU_ELOUF.jpg)
Puncak pengakuannya didapat saat Samar menerima penghargaan foto dalam World Press 2025 yang digelar di Belanda pada 17 April 2025. Fotonya tentang Mahmoud Ajjour yang dimuat di The New York Times dipilih menjadi yang terbaik.
Mahmoud adalah anak laki-laki yang terluka parah saat melarikan diri dari serangan Israel di Gaza. Kedua lengannya diamputasi. Kini, Mahmoud tinggal di lokasi yamg sama dengan Samar di Qatar.
Joumana El Zein Khoury, Direktur Eksekutif World Press Photo, menggambarkan foto itu sangat ”tenang” tetapi berdampak. Samar mampu menangkap penderitaan mendalam seorang anak sekaligus berbicara tentang dampak konflik global yang lebih luas.
Menanggapi itu, Samar mengatakan, kisah Mahmoud adalah bagian dari kisah panjang anak-anak yang mesti diamputasi akibat perang. Dia berharap, fotonya bisa cukup penting untuk menghentikan perang.
”Perang sudah membuat banyak orang kehilangan,” kata Samar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/23/cf0dfb62-f30f-42a3-ba76-703728d27899_jpg.jpg)
Selain doa untuk anak-anak, Samar juga tak henti mengirimkan semangat untuk koleganya, sesama jurnalis yang masih mempertaruhkan nyawa di Gaza. Jurnalis, katanya, adalah profesi paling berbahaya di Gaza.
”Dulu orang memilih dekat dengan jurnalis karena aman. Sekarang orang menjauh karena tahu jurnalis menjadi target. Karena kameranya, keluarga jurnalis juga terancam,” katanya. Mengutip investigasi awal Committee for Protect Journalists (CPJ), setidaknya 186 jurnalis dan pekerja media tewas di Gaza dan Lebanon hingga 24 Juli 2025.
Kini, dari Qatar, Samar masih menunggu kapan perang usai. Sebelum itu terjadi, dia belum ingin berhenti menyuarakan perdamaian lewat foto. Samar percaya pada kekuatan sebuah foto untuk mengubah sesuatu meski mungkin bukan hari ini. (AFP/AP/REUTERS)
Lahir: Gaza, 29 Agustus 1983
Profesi: Fotografer
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Dwi AS SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan