Inflasi tengah terjadi di sana-sini. Ekonomi semakin berbiaya tinggi. Isi dompet masyarakat semakin tergerogoti.
04 Jun 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Isi dompet rasanya makin cepat menipis. Perut kenyang, tetapi kantong bolong. Membeli bensin dan elpiji nonsubsidi bikin mengelus dada. Barang idaman makin mahal. Mau bepergian naik pesawat harus berpikir dua kali. Maklum, sana-sini terjadi inflasi.
Pada 2 Juni 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingkat inflasi nasional pada Mei 2026, sebesar 0,28 persen secara bulanan, 3,08 persen secara tahunan, dan 1,35 persen secara tahun kalender. Tingkat inflasi ini masih di kisaran target inflasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pada 2026, yakni 1,5-3,5 persen.
Kendati begitu, inflasi pada Mei 2026 terjadi merata di seluruh komponen utama, yakni inti, pangan bergejolak (volatile food), dan harga yang diatur pemerintah (administered price). Pada bulan tersebut, tingkat inflasi inti sebesar 0,22 persen secara bulanan dan 2,59 persen secara tahunan.
Tingkat inflasi komponen pangan bergejolak sebesar 0,22 persen secara bulanan dan 6,24 persen secara tahunan. Sementara tingkat inflasi bulanan dan tahunan komponen harga yang diatur pemerintah masing-masing sebesar 0,52 persen dan 2,07 persen.
Inflasi inti pada 2026 mencerminkan transmisi depresiasi rupiah yang terbungkus dalam inflasi impor.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/02/cd489edf483a73407e71255f39cf03b8-Screenshot_2026_06_02_152601.png)
Secara bulanan, inflasi inti pada Mei 2026 mencerminkan transmisi depresiasi rupiah yang terbungkus dalam inflasi impor (imported inflation). Dengan kata lain, pelemahan nilai tukar rupiah telah membuat harga barang impor, bahan baku impor, bahan antara, komoditas ekspor, dan input produksi menjadi lebih mahal.
BPS mencatat, komoditas yang berandil besar dalam inflasi komponen inti, antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop/notebook, dan pelumas/oli mesin. Kenaikan harga sejumlah komoditas itu tidak terlepas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Berdasarkan data BI, nilai tukar rupiah sepanjang Mei 2026 berada di kisaran Rp 17.362-Rp 17.883 per dolar AS. Posisi rupiah tersebut berada di atas asumsi dasar ekonomi makro nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok pemerintah Rp 16.500-Rp 16.900 per dolar AS.
Untuk inflasi komponen pangan bergejolak, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pokok menjadi indikatornya. Beberapa komoditas itu, antara lain, adalah cabai merah yang mengalami inflasi bulanan sebesar 25,64 persen, tomat 9,82 persen, bawang merah 6,65 persen, minyak goreng 2,87 persen, dan beras 0,38 persen.
Kenaikan harga komoditas pangan pada Mei 2026 itu dipicu sejumlah faktor. Pertama, peningkatan permintaan menjelang hari besar keagamaan, seperti Idul Adha. Kedua, penurunan produksi pangan, terutama cabai merah, tomat, dan bawang merah, akibat cuaca ekstrem, serangan hama dan penyakit, serta kekeringan di sejumlah daerah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/04/a04dfcaf2bc3af62bdd653e903d16986-20260504TOK14.jpg)
Adapun inflasi komponen harga yang diatur pemerintah menggambarkan transmisi kenaikan harga minyak mentah dunia melalui kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, avtur, dan pelumas/oli mesin. Hal itu tecermin dalam inflasi bulanan bensin yang sebesar 0,49 persen, tarif angkutan udara 2,75 persen, solar 4,72 persen, dan pelumas/oli mesin sebesar 3,85 persen.
Merujuk data BPS, pada Mei 2026, harga rerata minyak mentah di pasar internasional senilai 100,43 dolar AS per barel. Padahal, dalam asumsi dasar ekonomi makro APBN 2026, harga minyak mentah dipatok senilai 60-80 dolar AS per barel dengan titik tengah 70 dolar AS per barel.
Benar kata pemerintah bahwa inflasi pada Mei 2026 masih terkendali. Namun, di balik angka inflasi itu, isi dompet masyarakat kian tergerus. Perut kenyang, tetapi kantong bolong. Membeli bensin, solar, dan elpiji nonsubsidi bikin mengelus dada. Untung saja, harga BBM dan elpiji nonsubsidi tidak dinaikkan.
Barang idaman atau penopang komunikasi dan transaksi, serta investasi pekerjaan, seperti telepon seluler dan laptop/notebook, makin mahal. Mau bepergian naik pesawat pun harus berpikir dua kali. Itulah dampak inflasi yang terjadi di sana-sini.
Bahkan, Tim Ekonom PT Bank Permata Tbk menilai, inflasi pada Mei 2026 lebih tepat dibaca sebagai inflasi dari sisi biaya dan pasokan, bukan karena permintaan masyarakat yang terlalu kuat. Inflasi tidak lagi hanya berasal dari pangan atau energi, tetapi mulai menjalar ke biaya produksi serta harga barang dan jasa yang lebih luas (Kompas, 2/6/2026).
Selama pemerintah belum mampu menstabilkan harga sejumlah pangan pokok, inflasi pangan bisa terus membayangi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/26/3e15d0c4f7da49f340634bb382541be0-usdidr_cur_2.png)
Apakah inflasi sana-sini itu bakal terhenti pada Mei 2026? Selama perang Iran versus Israel-Amerika Serikat belum tuntas dan jalur maritim Selat Hormuz di Teluk Persia belum dibuka sepenuhnya, inflasi yang dipicu gejolak harga minyak mentah masih berpotensi berlanjut.
Selama rupiah masih terdepresiasi atau belum kembali ke level minimal asumsi ekonomi makro APBN 2026, yakni Rp 16.500 per dolar AS, inflasi impor masih bakal menghantui. Namun, tenang saja. Toh, kata Presiden Prabowo Subianto, masyarakat di desa tidak memakai dolar AS (Kompas, 17/5/2026).
Selain itu, selama pemerintah belum mampu menstabilkan harga sejumlah pangan pokok, inflasi pangan bisa terus membayangi. Padahal, jika inflasi sejumlah pangan pokok pada Mei 2026 dapat dikendalikan, tingkat inflasi nasional bisa lebih rendah.
Jika inflasi sana-sini tersebut terus berlanjut dan bahkan meningkat, suku bunga acuan BI berpotensi ditahan tinggi atau dinaikkan kembali. Suku bunga perbankan bisa terkerek naik sehingga berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit. Ujung-ujungnya, ekonomi nasional semakin berbiaya tinggi dan lambat tumbuh.
Di sisi lain, sejumlah risiko lain, seperti potensi El Nino, peningkatan permintaan progam Makan Bergisi Gratis (MBG), dan belanja pemerintah yang lebih ekspansif, tengah mengintai. El Nino, misalnya, diperkirakan bakal melanda pada semester II-2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/23/280c76ee8ba5fc05b0b9039bda5632f2-IMG_9834.jpeg)
Sebelum EL Nino terjadi, produksi beras nasional justru diramal turun. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan April 2026, BPS memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-Juli 2026 sebesar 21,95 juta ton atau turun 0,35 persen dibandingkan dengan Januari-Juli 2025 yang sebanyak 22,03 juta ton.
Penurunan produksi beras itu berpotensi mengerek harga beras. Ingat, pada Mei 2026, inflasi bulanan dan tahunan beras di tingkat eceran masing-masing sebesar 0,39 persen dan 4,55 persen. Tanpa ada intervensi yang lebih masif dari pemerintah, tingkat inflasi beras bisa terus merangkak naik.
Setidaknya pemerintah bisa meredam inflasi pangan untuk meringankan beban masyarakat. Salah satunya dengan menggelontorkan cadangan beras pemerintah (CBP) secara lebih masif dan merata, bukan malah dijadikan ajang mencetak rekor sejarah.
Sejak akhir April 2026, CBP yang dikelola Perum Bulog tembus di atas 5 juta ton. Capaian itu melebihi prestasi Orde Baru atau kala Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden ke-2 RI Soeharto dan merupakan rekor tertinggi sejak Indonesia merdeka.
Selain itu, pertahankan harga BBM dan elpiji nonsubsidi. Jika fiskal menjadi kendala, efisienkan kembali anggaran negara yang digulirkan untuk program MBG dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Sekali lagi. Tingkat inflasi hingga Mei 2026 memang masih terkendali meskipun sana-sini terjadi inflasi. Namun, di balik angka inflasi itu, biaya ekonomi makin tinggi dan isi dompet masyarakat makin tergerogoti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/996b1b2c90d4dbd1fccba913fbb5bf0f-Screenshot_2026_06_03_172234.png)
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase