Potret sepasang pengungsi Topan Fung-wong di Filipina.
10 Nov 2025 08:52 WIB · Internasional
AP/Kantor Komunikasi Presiden Malacanang
Di dalam tenda oranye, Judy Bertuso yang berusia 63 tahun mencondongkan tubuh ke depan untuk menyuapi suaminya, Apollo, di pusat evakuasi di Quezon City, Filipina, Minggu, (9/11/2025). Apollo duduk di kursi roda karena masa pemulihan akibat serangan stroke. Tubuh suaminya yang ringkih tampak jelas di dinding plastik transparan tenda. Judy, dengan kaus oblong dan celana pendek kusut, memegang mangkuk dan sendok sambil menyuapi Apollo.
Pemandangan itu diabadikan fotografer Associated Press saat berada di lapangan basket di Quezon City yang saat itu menjadi tempat pengungsian warga yang terdampak topan Fung-wong. Judy tampak lelah, tetapi ia terlihat sabar dan tidak tergesa-gesa. Gerakannya tenang dan lembut, mungkin mencerminkan kehidupan mereka selama ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/10/2c6cc41b-81ed-4c19-85d5-9781dcddb06f_jpg.jpg)
Mereka berdua telah meninggalkan rumah yang berada di tepi sungai sehari sebelumnya karena khawatir akan banjir yang disebabkan topan super Fung-wong. Sebelumnya, rumah mereka terendam banjir saat hujan deras pada bulan Oktober.
Saat ada peringatan radio dan televisi yang mendesak warga untuk pindah ke dataran tinggi sebelum badai datang, mereka segera mengungsi. Fung-wong menjadi badai terkuat yang mengancam Filipina tahun ini.
Badai ini membawa angin berkecepatan hingga 185 kilometer per jam dan telah menghantam pantai timur laut negara itu pada Minggu (7/11/2025). Lebih dari satu juta penduduk terpaksa meninggalkan rumah, mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Di dalam lapangan basket, puluhan keluarga menempati deretan tenda-tenda yang terang benderang. Angin menderu di luar. Di dalam, dengungan percakapan pelan terdengar dari satu tenda ke tenda lainnya, diselingi oleh permainan dan celoteh anak-anak yang ramai.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/10/5e158ccb-82a9-4f63-a8b3-dc43fd9f944f_jpg.jpg)
Di tengah kebisingan dan ketidakpastian topan Fung-wong, Judy kembali menstabilkan sendoknya. Tangannya sedikit gemetar saat menyuapi Apollo, seolah berkata, ”Tenanglah, walaupun badai mungkin mengamuk di luar tembok ini, ada (aku) yang menjagamu.” (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu Widiantoro