Kisah pasangan yang melangsungkan pernikahan di gereja yang dilanda banjir di Filipina.
24 Jul 2025 08:03 WIB · Internasional
Jamaica Agular berhenti sejenak di depan pintu gereja yang tertutup. Hari itu, Selasa (22/7/2025), ia melangsungkan pernikahan dengan pria pilihannya, Jade Rick Verdillo, di Gereja Barasoain, di Malolos, Provinsi Bulacan, Filipina. Sebagaimana layaknya pengantin, hari itu ia mengenakan gaun putih panjang lengkap dengan riasan dan aksesori di kepala. Tangannya menggenggam karangan bunga yang didominasi warna putih. Di dalam gereja telah menunggu keluarga dan kerabat kedua mempelai.
Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Filipina sejak Senin malam telah menyebabkan banjir besar yang melumpuhkan aktivitas warga. Puluhan ribu penduduk terpaksa dievakuasi dari rumah-rumah mereka dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Pemerintah menutup sekolah dan kantor pemerintahan di Manila dan di sejumlah provinsi sekitarnya. Hujan deras yang menyebabkan banjir kali ini disebabkan hujan monsun yang terus berlangsung di berbagai wilayah Filipina. Badai Tropis Wipha yang menerjang sejak Jumat lalu memperparah bencana ini.
Gereja yang dipilih Jamaica untuk menikah tak luput dari bencana banjir. Genangan air setinggi lutut terlihat di sekitar dan di dalam gereja. Satu-satunya yang luput dari banjir hanya altar gereja yang dibuat sedikit lebih tinggi dari lantai utama. Namun, banjir hari itu tidak mengurungkan niatnya menjalani ritual pernikahan yang sakral.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/24/9a201a9c-2791-4267-b8e9-edf3fee5c499_jpg.jpg)
Jamaica pelan membuka pintu gereja, lantas berjalan melewati lorong yang dipenuhi air setinggi lutut. Ujung bawah gaun putih pengantinnya mengapung di belakangnya. Calon suaminya, Jade, bergegas menyambutnya. Mereka lantas bergandengan, berjalan pelan menembus genangan menuju altar.
Senasib dengan kedua mempelai, semua tamu undangan dan kerabat kompak bertelanjang kaki karena banjir. Alas kaki mereka letakkan di salah satu kursi yang luput dari banjir. Pria yang bercelana panjang menggulung celana setinggu lutut, sedangkan para wanita membiarkan ujung rok terendam air.
Bencana banjir yang melanda sebagian besar wilayah Malolos tidak menyurutkan niat mereka. Mereka memutuskan untuk terus maju karena menurut mereka semua pernikahan punya tantangannya sendiri. ”Kami baru saja mengumpulkan keberanian dan memutuskan akan tetap melangsungkan pernikahan hari ini,” kata mereka.
Pasangan pengantin baru ini telah menjalin hubungan selama 10 tahun. Saat mengetahui gereja yang menjadi lokasi pernikahan dilanda banjir, Jade mengatakan, tantangan dalam hidupnya belum berakhir. Banjir ini hanyalah salah satu perjuangan yang harus mereka atasi. Meski cuaca buruk, sejumlah keluarga dan teman tetap hadir di pesta pernikahan mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/24/7b05fd09-1765-481d-b084-a5adbb8e5b37_jpg.jpg)
Seusai melangsungkan pernikahan, suasana ceria terlihat saat kedua mempelai mendapatkan ucapan selamat dari tamu dan kerabatnya. Mereka berpose layaknya suasana pernikahan pada umumnya. Joggo Santos, salah satu tamu undangan, memuji pernikahan yang luar biasa itu dengan mengatakan, ”Kalian menyaksikan cinta yang berjaya karena meski melawan cuaca, badai, hujan, banjir, pernikahan tetap berjalan.” (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto