PENDAKIAN EVEREST

”Saya Hanya Bekerja”

Sama seperti saat pemecahan rekor tahun lalu, ucapan ”saya hanya bekerja” kembali dikatakan Kami Rita saat memecahkan rekor pendakian ke-32 Everest.

18 Mei 2026 10:17 WIB · Internasional

AP/Pasang Rinzee Sherpa

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Musim pendakian Gunung Everest yang baru saja dimulai telah mencatatkan beberapa rekor capaian para pendakinya. Setidaknya ada dua pendaki Nepal yang telah tercatat memecahkan rekor.

Pendaki Nepal yang dijuluki ”Manusia Everest”, Kami Rita Sherpa, berhasil mendaki Gunung Everest untuk ke-32 kalinya pada Minggu (17/5/2026). Sementara Lhakpa Sherpa juga memecahkan rekornya sebagai perempuan pendaki dengan pendakian ke puncak Everest untuk ke-11 kali.

Baik Kami Rita maupun Lhakpa telah memecahkan rekornya sendiri yang sebelumnya dicapai tahun lalu. ”Ini adalah tonggak sejarah lain dalam sejarah pendakian gunung Nepal,” kata Himal Gautam, juru bicara Departemen Pariwisata Nepal. Negara ini adalah rumah bagi delapan dari 10 puncak tertinggi di dunia.

Pemandu gunung Sherpa Kami Rita disambut saat tiba bandara Tribhuvan saat dia bersiap untuk berangkat mendaki Gunung Everest untuk rekor ke-31 kalinya, di Kathmandu, India, pada 20 April 2025.
Pendaki Nepal Lhakpa Sherpa di bandara di Kathmandu, Nepal, Selasa, 17 Mei 2022.

Kami Rita Sherpa, 56 tahun, mencapai puncak setinggi 8.849 meter, yang menjadi puncak tertinggi di dunia, saat memandu klien dari perusahaan 14 Peaks Expedition. Ia mencapai puncak pada Minggu pukul 10.12 waktu Nepal. Kami Rita lahir di Desa Thame di Distrik Solukhumbu, desa yang sama dengan Tenzing Norgay. Norgay dan Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru adalah orang pertama yang mendaki Everest pada tahun 1953.

Kami Rita memulai pendakian pertama kali ke Everest pada tahun 1994. Sejak saat itu hampir setiap tahun ia mencapai puncak gunung tertinggi di dunia ini, kecuali pada tahun 2014, 2015, dan 2020 ketika ekspedisi ke Everest ditutup karena sejumlah alasan. Dia juga tercatat mencapai puncak Everest dua kali dalam tahun yang sama beberapa kali.

<p>Para pendaki mendaki Khumbu Icefall dalam perjalanan mereka ke puncak Gunung Everest di Kathmandu, Nepal, Sabtu (9/5/2026). (AP/Pasang Rinzee Sherpa)</p><p>Antrean para pendaki saat mendekati puncak Gunung Everest di Nepal, 18 Mei 2025. (AP/Khuunga Sherpa)</p><p>Jejak lampu pendaki gunung terlihat dari Everest Base Camp saat rombongan pendaki naik menuju puncak Gunung Everest, Nepal, Minggu (10/5/2026). (AP/Pasang Rinzee Sherpa)</p>

Para pendaki mendaki Khumbu Icefall dalam perjalanan mereka ke puncak Gunung Everest di Kathmandu, Nepal, Sabtu (9/5/2026). (AP/Pasang Rinzee Sherpa)

Antrean para pendaki saat mendekati puncak Gunung Everest di Nepal, 18 Mei 2025. (AP/Khuunga Sherpa)

Jejak lampu pendaki gunung terlihat dari Everest Base Camp saat rombongan pendaki naik menuju puncak Gunung Everest, Nepal, Minggu (10/5/2026). (AP/Pasang Rinzee Sherpa)

Kami Rita dan Lhakpa adalah bagian komunitas pemandu Sherpa yang keahlian dan keterampilannya sangat penting bagi keselamatan dan keberhasilan pendaki yang bercita-cita untuk berdiri di puncak gunung setinggi 8.849 meter ini. 

”Saya hanya bekerja.” Itu kalimat yang sama yang diucapkan Kami Rita setelah menyelesaikan pendakian Everest ke-32. Kalimat yang sama diucapkan pada Mei tahun lalu saat menuntaskan pendakian ke-31. Selain Everest, Kami Rita telah mendaki puncak-puncak lain yang termasuk tertinggi di dunia, antara lain K2, Cho Oyu, Manaslu, dan Lhotse.

Sementara Lhakpa Sherpa, yang tahun ini berumur 52 tahun dan dikenal sebagai ”Ratu Gunung”, pertama kali berdiri di puncak Everest pada tahun 2000. Ia menjadi perempuan Nepal pertama yang berhasil mendaki puncak tertinggi di dunia.

”Dengan memecahkan rekor melalui kompetisi sehat di Everest, hal itu akan membantu menjadikan pendakian lebih aman, lebih bermartabat, dan lebih terkelola dengan baik,” tambah Gautam.

Pendaki berlatih di Khumbu Icefall untuk persiapan mendaki ke puncak Gunung Everest, Nepal, Sabtu (2/5/2026). AP/Pasang Rinzee Sherpa
Para pendaki mengantre di bawah Camp 4 dalam perjalanan ke puncak Gunung Everest di Nepal, 17 Mei 2025.

Serac yang menghalangi

Ratusan pendaki pelan-pelan mulai mendekati puncak Everest di ketinggian 8.849 meter sejak Kamis (14/5/2026), setelah sehari sebelumnya sebuah tim pendaki Nepal berhasil mencapai puncak dan menyelesaikan pemasangan tali serta pengaman di sepanjang jalur menuju puncak.

Keberhasilan tim yang terdiri atas 12 pendaki dan pemandu Sherpa yang berasal dari Nepal ini menandai dimulainya periode pendakian musim semi di gunung ini. Musim pendakian Everest tahun ini mundur dari jadwal biasanya yang dibuka pada bulan April.

Para pendaki yang telah berkumpul pada bulan April di base camp terpaksa menunggu pembuatan jalur baru setelah bongkahan es raksasa berukuran lebih tinggi dari bangunan 10 lantai menghalangi jalur yang biasa dilalui.

Bendera doa berkibar di atas tenda pemandu dan pendaki gunung di base camp Gunung Everest, Nepal, Minggu (10/5/2026).
Tenda pendaki gunung dipasang di base camp saat musim pendakian, Minggu (10/5/2026).

Lebih dari 8.000 orang telah mendaki Gunung Everest, banyak di antaranya beberapa kali, sejak pertama kali didaki oleh Norgay dan Hillary pada tahun 1953. Di antara pendaki non-Sherpa, rekor mencapai puncak Everest dipegang oleh pemandu asal Inggris, Kenton Cool, yang telah menyelesaikan prestasi tersebut sebanyak 19 kali, diikuti oleh pendaki Amerika, Dave Hahn dan Garrett Madison, dengan masing-masing 15 pendakian. Cool dan Madison saat ini berada di Everest untuk memperbaiki rekor mereka.

Memandu pendaki asing ke Everest dan puncak-puncak lainnya memberikan penghasilan keluarga yang sangat penting bagi banyak Sherpa, penduduk asli Distrik Solukhumbu tempat Everest berada. Pihak berwenang Nepal telah mengeluarkan 492 izin kepada para pendaki untuk mendaki Everest untuk musim pendakian Maret-Mei ini, yang berarti musim bekerja bagi para pemandu dari suku Sherpa ini. 

Para pendaki gunung mendaki Air Terjun Khumbu dalam perjalanan mereka ke puncak Gunung Everest, Nepal, Kamis (7/5/2026). AP/Pasang Rinzee Sherpa
Dalam foto ini yang disediakan oleh Asian Trek, seorang pendaki gunung berjalan di Khumbu Icefall sebelum memulai pendakiannya ke puncak Gunung Everest, Nepal, pada Mei 2026. AP/Asian Trek

Korban jiwa di Everest

Selain kabar gembira tentang pendaki yang berhasil mencapai puncak Everest, juga terdapat kabar buruk yang menimpa pendaki di gunung yang sama. Setidaknya lima pendaki dilaporkan tewas dalam musim pendakian tahun ini.

Seorang pemandu Sherpa asal Nepal, Phura Gyaljen, berusia 21 tahun, jatuh ke dalam celah es dan meninggal di Gunung Everest. Ia terpeselet ke dalam celah es di dekat Camp III di ketinggian 7.200 meter. Ini merupakan kematian ketiga dalam dua minggu terakhir di gunung tertinggi di dunia. 

Gunung Everest terlihat dari base camp di Nepal, Minggu (10/5/2026). AP/Inst Rinzee Sherpa
Pemandu dan pendaki gunung berdiri di luar tenda mereka selama periode aklimatisasi sebelum mencoba mendaki Gunung Everest di base camp, Nepal, Minggu (10/5/2026). AP/Pasang Rinzee Sherpa
Para pendaki gunung berpartisipasi dalam sesi pelatihan di Khumbu Icefall untuk mendaki ke puncak Gunung Everest, Nepal, Sabtu (9/5/2026). AP/Pasang Rinzee Sherpa

Pendaki Nepal lainnya, Bijay Ghimire Bishwakarma, berusia 35 tahun, meninggal saat latihan aklimatisasi di Khumbu Icefall di gunung tersebut. Sementara Lakpa Dendi, pemandu Sherpa berusia 51 tahun, meninggal dalam perjalanan menuju base camp awal bulan ini.

Dalam pekan-pekan sebelumnya, Johannesen Shelley, pendaki berusia 53 tahun, warga Amerika, meninggal di Gunung Makalu, puncak tertinggi kelima di dunia dengan ketinggian 8.463 meter. Pendaki David Ronbinek dari Ceko meninggal saat menuju puncak Makalu II yang tingginya 7.678 meter.

Pesonanya luar biasa, Gunung Everest juga mengandung bahaya kematian, baik bagi pemandu Sherpa maupun pendaki gunung. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar