Liga Super Indonesia dihuni 378 pemain lokal. Namun, kuantitas yang bisa bersaing di timnas Indonesia bisa dihitung dengan jari.
16 Jan 2026 09:09 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Setelah resmi diperkenalkan sebagai pelatih anyar tim nasional Indonesia, John Herdman diharapkan memantau langsung kompetisi nasional, terutama BRI Liga Super Indonesia 2025-2026. Tujuannya adalah mencari pemain untuk membela skuad ”Garuda”. Namun, dengan kondisi saat ini, memantau Liga Super bakal menjadi pekerjaan sia-sia bagi Herdman jika hanya sekadar berburu pemain timnas.
Tentu, kompetisi adalah kawah candradimuka bagi pemain-pemain untuk membela timnas mereka. Pemain ditempa setiap pekan untuk menjalani laga-laga ketat nan intens sehingga menunjukkan kemampuan untuk bisa menaikkan derajat guna mendapatkan cap pada laga internasional timnas Indonesia.
Sebagai gambaran, Liga Super Indonesia musim ini menjadi tempat bagi 378 pemain ber-KTP Indonesia untuk berkarier secara profesional. Angka itu sudah termasuk Thom Haye, Eliano Reijnders, Rafael Struick, Ezra Walian, Stefano Lilipaly, Marc Klok, Jordi Amat, dan Jens Raven yang terdaftar sebagai pemain lokal akibat telah menjalani proses naturalisasi.
Jumlah pemain lokal itu setara 66,8 persen dari total pemain Liga Super. Lalu, terdapat 185 pemain atau 33,2 persen pemain impor di kompetisi kasta tertinggi Indonesia pada saat ini.
Memang pemain lokal dengan jumlah 378 pesepak bola terlihat amat banyak untuk timnas. Sebab, hanya dibutuhkan setidaknya 24 pemain untuk didaftarkan pada laga-laga resmi, seperti Kejuaraan ASEAN dan Piala Asia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/13/14fd35ada28851fffbf2016ca2cb06f0-FAK_4404.jpg)
Sayangnya, kuantitas pemain lokal itu kurang berkualitas. Hal itu jika dibandingkan dengan lima negara penyumbang pemain terbanyak di Liga Super 2025-2026.
Dari 378 pemain itu, para pesepak bola lokal telah mencatatkan durasi tampil sebanyak 129.763 menit dalam 2.399 laga dalam 17 pekan Liga Super musim ini. Dengan jumlah itu, rerata pemain lokal hanya mendapatkan kesempatan bermain 54 menit per laga hingga paruh pertama kampanye kompetisi 2025-2026.
Durasi lebih kecil apabila menghitung rata-rata menit bermain per pemain di setiap matchday. Secara rata-rata, satu pemain lokal hanya mencatatkan penampilan 20 menit di setiap pekan.
Artinya, pemain lokal tidak sampai bermain satu babak. Angka yang sangat minim dan tidak cukup untuk menunjukkan performa terbaik!
Adapun untuk empat negara pengimpor pemain terbanyak di Liga Super, yakni Brasil (68 pemain), Portugal (14 pemain), Belanda (11 pemain), dan Argentina (9 pemain), durasi bermain per laga lebih dari 70 menit.
Pemain asal Belanda dan Argentina adalah pemain yang paling diandalkan di Liga Super.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/23/fc3802e71884b1cce02e511e362b1dec-WEB_3.jpg)
Di setiap laga, pemain asal ”Negeri Kincir Angin” mendapat kesempatan tampil 86 menit per laga. Mereka nyaris berhasil merampungkan laga tanpa diganti.
Kemudian, pemain asal Argentina dan Portugal mendapat catatan penampilan 79 menit per laga. Pemain Brasil tampil 74 menit per laga.
Jika dihitung lebih rinci di setiap pekan, pemain asal Portugal menjadi yang paling sering tampil. Mereka tampil 82 menit per pekan. Durasi itu diikuti Belanda (70 menit per pekan), Argentina (67 menit per pekan), dan Brasil (56 menit per pekan).
Selain durasi tampil yang sangat minim, talent pool pemain lokal yang tampil di Liga Super juga sangat terbatas. Pemain yang bisa diamati lebih dominan berasal dari posisi yang itu-itu saja.
Posisi mayoritas yang diisi pemain lokal di Liga Super adalah kiper dan bek sayap. Adapun posisi gelandang dan penyerang tengah amat minim.
Dari 20 pemain lokal dengan penampilan paling rutin hingga paruh pertama musim 2025-2026, sebanyak delapan pemain berposisi penjaga gawang. Pemain lokal dengan menit bermain terbanyak adalah kiper Borneo FC, Nadeo Argawinata, dengan 1.530 menit tampil. Itu menandakan Nadeo tidak pernah absen satu menit pun untuk ”Pesut Etam”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/10/01/9eaa6541-6309-4231-b20e-963e877ae823.jpg)
Selain Nadeo, Ernando Ari juga menempati kiper dengan durasi tampil terbanyak, yakni 1.440 menit. Ernando masuk dalam peringkat keempat pemain lokal yang paling sering tampil.
Enam kiper lainnya adalah Teja Paku Alam (Persib Bandung), Cahya Supriadi (PSIM Yogyakarta), Hilmansyah (PSM Makassar), M Riyandi (Persis Solo), Aqil Savik (Bhayangkara Presisi), dan Miswar Saputra (Madura United).
Jumlah delapan pemain itu sudah sangat kebanyakan. Pasalnya, Herdman hanya butuh maksimal dua kiper untuk timnas Indonesia. Tugas kiper dari Liga Super pun sebatas sebagai kiper pelapis.
Tugas kiper utama skuad Garuda di era Herdman sulit lepas dari kendali Emil Audero (Cremonese) dan Maarten Paes (FC Dallas). Dua kiper itu memiliki kualitas di atas kiper lokal.
Kemudian, stok bek sayap juga sangat melimpah. Terdapat nama-nama seperti Yance Sayuri (Malut United), Arief Catur (Persebaya), Leo Guntara (Semen Padang), Ricky Fajrin (Bali United), Muhammad Toha (Persita Tangerang), dan Eliano Reijnders (Persib). Namun, mereka akan sulit mendapat kesempatan membela timnas di tengah stok bek sayap diaspora melimpah, misalnya Calvin Verdonk, Dean James, Shayne Pattynama, dan Sandy Walsh.
Dua bek sayap lokal juga masih berkarier di Liga Thailand, yakni Asnawi Mangkualam bersama Port FC dan Pratama Arhan di Bangkok United. Dari Liga Super, hanya Yakob dan Eliano yang memiliki kualitas dan pengalaman internasional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/ae618149ddcc2978ed587412d867adf3-20250908BAH6.jpg)
Di sisi lain, kebutuhan Herdman untuk memperkuat gelandang tengah dan penyerang utama yang merupakan kelemahan Indonesia di era Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert tidak bisa dipenuhi Liga Super. Pemain-pemain lokal di dua posisi itu belum mampu memenangi persaingan dengan pemain asing.
Posisi gelandang tengah, misalnya, Ricky Kambuaya, Thom Haye, dan Marc Klok—trio andalan timnas—yang mampu konsisten tampil apik bersama timnya masing-masing di Liga Super. Tidak ada pemain lokal lain yang telah mencatatkan durasi tampil lebih dari 1.000 menit selain tiga gelandang senior itu.
Padahal, demi target lolos ke Piala Dunia 2030, skuad Garuda butuh regenerasi gelandang tengah. Tiga gelandang itu serta Joey Pelupessy telah menginjak usia 30 tahun pada tahun ini.
Untuk posisi penyerang lebih mengenaskan. Pemain lokal paling tajam di Liga Super adalah Ezra Walian (Persik Kediri) dan Yakob Sayuri (Malut United)—sama-sama menghasilkan lima gol. Mereka berposisi murni sebagai penyerang sayap.
Penyerang murni bertipe poacher yang selalu dicari Herdman di tiga timnas asuhan sebelumnya tidak tersedia di Liga Super. Ada Eksel Runtukahu yang sudah menyumbang empat gol untuk Persija, tetapi menit bermainnya baru menginjak 778 menit.
Kuantitas gol Eksel dibuntuti oleh Hokky Caraka (Persita) dan Dendy Sulistyawan (Bhayangkara) dengan catatan tiga gol. Mereka belum mencatatkan waktu bermain lebih dari 1.000 menit. Dominasi penyerang asing juga menyebabkan pemain depan lokal tersisih.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/16/978fa265edd5587117a7f957c1004664-20260116_H19_KID_Pemain_Depan_Liga_Indonesia_mumed.jpg)
Dengan kondisi itu, Herdman akan bergantung kepada Ole Romeny (Oxford United), Ragnar Oratmangoen (Dender), Mauro Zijlstra (Volendam), serta Ramadhan Sananta (DPMM FC) untuk stok penyerang tengah yang bakal rutin memenuhi panggilannya dimulai agenda FIFA Series 2026, Maret ini.
Situasi ini tentu akan semakin memarjinalkan kontribusi klub lokal dan Liga Super untuk timnas Indonesia. Apalagi Herdman sudah melemparkan sinyal akan aktif memburu pemain naturalisasi baru di Eropa.
”Untuk bisa bersaing di panggung dunia, Anda butuh pemain level satu dan dua. Pemain yang bermain di liga top dunia,” kata Herdman, Selasa (13/1/2026).
PSSI pun berkomitmen memberikan layanan maksimal kepada Herdman demi menentukan pemain. Keran naturalisasi itu pun belum akan ditutup di era Herdman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/03/dce817e1d544fabab4b6db0a16ab2591-20260103_KID_John_Herdman_mumed.png)
”Kami memberikan keleluasaan kepada John (Herdman) untuk memilih pemain sesuai kebutuhannya,” ujar Kepala Badan Tim Nasional Sumardji.
Dengan kondisi itu, Herdman bersama Cesar Meylan dan staf pelatih lain, yang segera ditunjuk, tidak perlu terlalu rutin mengamati pemain-pemain untuk timnas Indonesia dari Liga Super. Pemain yang dipilih dari kompetisi nasional pun sudah bisa ditakar saat ini. Bahkan, sebelum Herdman tiba di Tanah Air.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar Alexey, Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar