Sayap-sayap Garuda Jangan Patah

Mudahnya bek sayap kehilangan bola ketika lawan China tidak boleh terulang. Kevin Diks berpeluang jadi kunci ”Garuda” bawa pulang poin dari rumah Jepang.

10 Jun 2025 10:25 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Kunci tim nasional Indonesia untuk membawa pulang poin bersejarah dari markas Jepang, Selasa (10/6/2025) pukul 17.35 WIB, di Stadion Sepak Bola Kota Suita, Prefektur Osaka, adalah memenangi duel di sisi sayap. Tanpa itu, hujan gol berpeluang hadir ke gawang skuad ”Garuda”.

Formasi andalan Jepang selama kualifikasi Piala Dunia 2026 adalah 3-4-2-1. Pelatih Jepang Hajime Moriyasu menggunakan pola yang sangat renggang, alih-alih bermain rapat seperti yang digunakan oleh tim-tim yang berfilosofi menyerang lainnya.

Setidaknya, Jepang memiliki tiga pemain yang bergerak di setiap sisi sayap. Dua bek tengah di sisi kiri dan kanan bergerak lebih melebar dalam garis pertahanan tinggi.

Penempatan posisi dua bek tengah membantu para gelandang sayap lebih tenang untuk menghadapi transisi positif lawan. Untuk dua gelandang serang di belakang penyerang, mereka bergerak dengan kebebasan tinggi. Tidak hanya melebar, kedua pemain di posisi itu juga menopang dua gelandang tengah ketika lawan menumpuk pemain di sentra permainan.

Dalam rata-rata pergerakan pemain Jepang kontra Australia, dua pemain debutan di pos gelandang sayap, yakni Kota Tawaratsumida dan Yu Hirakawa, aktif menganggu pertahanan lawan dengan pergerakan di sisi luar lapangan. Keduanya mengkreasikan masing-masing satu peluang.

Pemain Indonesia Yacob Sayuri dihadang pemain China Xu Haoyang dalam pertandingan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Indonesia melawan China di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/6/2025). Kompas/Adryan Yoga Paramadwya

Kualitas Tawaratsumida dan Hirakawa menjadi pembeda Jepang saat gagal mencetak satu gol pun ke gawang Australia meskipun menyerang jauh lebih dominan dengan 69 persen penguasaan bola, 13 tembakan, dan 8 sepak pojok. Tentu, hasil akhir akan berbeda apabila dua pemain andalan Jepang, seperti Kaoru Mitoma dan Ritsu Doan, menempati posisi itu di Perth, Australia.

Dari laga melawan China, alarm bagi pertahanan Indonesia dari sisi sayap menyala. Yakob Sayuri dan Calvin Verdonk yang menempati dua sisi sayap mencatatkan kehilangan bola terbanyak di antara pemain lain.

Yakob, pemain asal Malut United, tercatat 13 kali kehilangan penguasaan bola. Kemudian, Calvin, yang tampil atraktif dengan aksi intersep dan dribelnya mencatatkan kehilangan penguasaan bola tertinggi dalam kiprahnya di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026.

Bek sayap asal NEC Nijmegen itu mengalami 22 kali kehilangan bola. Dalam delapan penampilan sebelumnya, catatan kehilangan bola Calvin hanya satu digit.

Perbandingan statistik bertahan Yakob Sayuri dan Calvin Verdonk di gim kontra China, (5/6/2025).

Beruntung, kehilangan bola itu tercipta ketika melawan China yang sejatinya memiliki kualitas permainan di bawah Indonesia. Dengan penampilan tidak terlalu baik bagi gelandang sayap itu pun, China hanya bisa hasilkan lima tembakan dan satu tembakan tepat sasaran.

Nasib berbeda tentu akan terjadi jika lawan yang dihadapi Indonesia adalah tim dengan kemampuan pemain lebih baik, misalnya Jepang, Australia, dan Arab Saudi. Selain digempur tanpa henti, kiper Indonesia, Emil Audero, bakal sangat sibuk untuk mengatur rekan-rekan di depannya dan menghalau tembakan-tembakan pemain lawan.

Berharap Kevin Diks

Harapan Indonesia untuk bisa mengantisipasi agresivitas permainan sayap Jepang adalah kehadiran bek sayap baru Borussia Moenchengladbach, Kevin Diks, di sisi kanan. Setelah hanya bermain pada pertengahan babak kedua melawan China, Kevin sudah cukup fit untuk bermain penuh di Suita.

Pada laga pertama di Stadion Utama Gelora Bung Karno, November 2024, ketika Kevin keluar lapangan karena cedera, Indonesia kemasukan tiga gol. Selama 40 menit, Kevin bermain skuad Garuda hanya kemasukan lewat gol bunuh diri bek tengah, Justin Hubner.

Agresivitas Kevin untuk melakukan pressing kepada pemain sayap Jepang, sat itu Mitoma, menutup salah satu opsi sumber serangan Jepang. Aksi-aksi individu Mitoma pun tertutup. Apalagi Kevin dibantu oleh Yakob yang juga rutin membantu pertahanan dan berani melakukan duel fisik.

Pesepak bola Timnas Indonesia Kevin Diks (kiri) berebut bola dengan pesepak bola Timnas Bahrain Mahdi Humaidan (kanan) pada laga Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (25/3/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/app/Spt

Pengganti Kevin saat itu, Sandy Walsh, gagal menduplikat performa apik Kevin. Gol kedua Jepang bermula dari celah di sisi kanan pertahanan Indonesia. Lalu, dua gol pada babak kedua hadir akibat kelengahan pertahanan di sisi kiri.

Terlepas untuk mengantisipasi kekuatan Jepang, Indonesia juga sudah memiliki komposisi skuad lebih baik dibandingkan dengan duel pertama. Hal itu tercipta di lini tengah berkat kehadiran Joey Pelupessy serta penyerang Ole Romeny.

Joey akan menjadi gelandang jangkar yang krusial untuk menghalau serangan Jepang sebelum bola dihadapi trio bek tengah. Kemampuan Joey sudah pasti lebih baik dari Nathan Tjoe-A-On yang menjadi pendamping Thom Haye pada laga pertama di Jakarta.

Menurut Joey, menjalani laga kontra Jepang membuat skuad Indonesia bersemangat. Ia menegaskan, tim Garuda tidak gentar menghadapi Jepang yang berstatus pemuncak Grup C dan telah memastikan sebagai salah satu wakil Asia di Piala Dunia 2026.

”Kami menghormati Jepang, tetapi saya percaya kami memiliki kemampuan untuk mendapatkan hasil yang baik,” ucap Joey dalam konferensi pers jelang laga, Senin (9/6/2025).

Sejumlah pemain timnas Indonesia, yaitu Mees Hilgers, Justin Hubner, Joey Pelupessy, Jordi Amat, dan Marselino Ferdinan (kiri-kanan), medengarkan instruksi pada sesi latihan, Minggu (8/6/2025), di Stadion Expo ‘70 Osaka, Kota Suita, Jepang. Indonesia berambisi akhiri tren tiga kekalahan beruntun pada gim tandang kontra Jepang.

Adapun Ole bermodal tiga gol dalam tiga gim beruntun menjadi ancaman bagi pertahanan Jepang yang tidak didukung pemain-pemain terbaik, misalnya Ko Itakura dan Hiroki Ito, yang tidak dipanggil untuk gim Juni ini.

Pemain Oxford United itu berpeluang memberikan gangguan lebih baik dibandingan dengan Ragnar Oratmangoen yang diturunkan sebagai penyerang tunggal ketika Indonesia tumbang 0-4. Pada laga itu, Ragnar, yang absen kali ini akibat cedera, hanya bisa menghasilkan satu tembakan.

Moriyasu tidak ingin anak asuhannya meremehkan Indonesia. Menurut Moriyasu, Indonesia memiliki kekuatan yang berbeda dibandingkan ketika mereka hadapi pada laga pertama di Jakarta.

’Mereka adalah tim baru di bawah kendali pelatih baru. Saya memiliki impresi Indonesia telah melakukan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya dengan aturan (naturalisasi) mereka,” tutur Moriyasu yang akan jalani gim ke-92 bersama timnas Jepang ketika menjamu Indonesia.

Tak ada yang mustahil, Garuda!

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .