Sebuah survei di Inggris menungkapkan, generasi muda usia 18-34 tahun lebih menyukai pesan teks dan pesan instan daripada panggilan telepon.
15 Feb 2025 08:46 WIB · Humaniora
Berapa kali telepon yang ditujukan ke generasi Z dan milenial hanya berakhir pada pesan suara atau voicemail? Keengganan generasi Z dan milenial untuk mengangkat telepon antara lain disebabkan panggilan telepon tiba-tiba dianggap membawa kabar buruk.
Fenomena ini dibuktikan dari survei USwitch pada 2.000 responden di Inggris, pada April 2024. Hasilnya, satu dari empat responden usia 18-34 tahun tak pernah mengangkat panggilan telepon. Sekitar 56 persen responden berasumsi panggilan telepon tiba-tiba berarti kabar buruk.
Pada survei USwitch diungkapkan pula bahwa 48 persen anak muda lebih suka media sosial dan 37 persen lebih menyukai pesan suara dibandingkan panggilan telepon biasa.
Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan usia di atas 55 tahun yang hanya 11 persen memilih berkomunikasi lewat media sosial. Bahkan ditemukan hanya 1 persen usia 35-54 tahun yang memilih pesan suara dibandingkan dengan telepon biasa.
USwitch merupakan laman web berbasis di Inggris yang memberikan layanan perbandingan harga untuk berbagai produk rumah tangga, seperti energi dan telekomunikasi.
Diungkapkan pula dari survei tersebut, generasi muda usia 18-34 tahun lebih menyukai pesan teks dan pesan instan daripada panggilan telepon. Sebanyak 61 persen dari mereka lebih suka menerima pesan daripada panggilan audio.
Pada generasi ini panggilan telepon masih dilakukan hanya untuk panggilan yang sudah diatur sebelumnya. Karena itu, ada pula istilah ”chat dulu sebelum telepon”. Selain itu, panggilan yang mendadak bisa diasumsikan sebagai berita buruk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/06/30/3555616f-cbad-4653-9dfb-d7537ff3b0f3_jpg.jpg)
Psikoterapis dan pendiri Anxiety Ireland di Irlandia, Michael Ledden mengatakan, menurunnya penggunaan panggilan telepon tradisional pada generasi muda bisa disebabkan banyaknya alternatif komunikasi yang bisa diakses saat ini.
Menurunnya penggunaan panggilan telepon bukan berarti komunikasi pada generasi muda juga menurun. “Orang-orang mungkin hanya ingin berkomunikasi dengan cara yang berbeda,” tuturnya.
Orang-orang mungkin hanya ingin berkomunikasi dengan cara yang berbeda.
Profesor dari University College London Duncan Brumby yang banyak meneliti soal interaksi manusia dan komputer, menyampaikan, sebaiknya jangan banyak berspekulasi mengenai banyaknya generasi muda yang menghindari panggilan telepon.
Orang enggan mengangkat telepon tidak berarti mereka menjadi pemalu ataupun pendiam. Hal tersebut bisa menjadi bentuk adaptasi orang dengan lingkungannya.
“ Kita memilih alat komunikasi seperti aplikasi, Zoom, dan surat elektronik (email) karena itu lebih efisien untuk dilakukan. Transformasi digital semacam ini memberi kita cara-cara lebih baik untuk melakukan berbagai hal,” tuturnya dikutip dari IrishTimes.
Dari penelitian yang dilakukan Brumby, juga ditemukan bahwa sekalipun seseorang enggan mengangkat telepon, mereka tidak langsung menolak panggilan itu. “Ketika orang menerima panggilan, sangat jarang mereka menekan tombol tolak. Mereka hanya membiarkan berdering,” katanya.
Dalam artikel yang diterbitkan di The Journal of mHealth pada 16 Oktober 2024 disebutkan, generasi Z merupakan penduduk asli digital. Generasi Z tidak membutuhkan proses belajar yang panjang untuk mengenal teknologi, tidak seperti generasi sebelumnya.
Generasi Z tak hanya terbiasa memakai perangkat digital, tapi hampir semua aktivitas terhubung dengan perangkat digital itu. Sebaliknya, mereka menganggap panggilan telepon secara langsung hanya menghabiskan waktu dan tak efisien, bahkan bisa memicu kecemasan.
“Mereka merasa panggilan telepon kurang memiliki tingkat privasi dan kenyamanan yang mereka butuhkan, terutama saat membahas isu-isu sensitif,” tulis artikel tersebut.
Psikoterapis di Inggris, Eloise Skinner dalam BBC mengungkapkan, kecemasan saat menerima panggilan telepon dapat terkait firasat pada hal buruk buruk dan ketakutan. Seiring aktivitas padat, seseorang tak punya banyak waktu menelepon meski sekadar untuk bertukar kabar.
“Panggilan telepon pun kini hanya ditujukan untuk menyampaikan berita penting dalam hidup kita, yang sering kali bisa jadi rumit dan sulit,” ucapnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/07/13/cded0ada-8693-499a-9e58-7e4f0e6dfacc_jpg.jpg)
Namun, Skinner mengatakan, apabila tren saat ini terus berlanjut, seseorang mungkin akan kehilangan rasa kedekatan atau koneksi. Komunikasi yang dilakukan secara verbal berbeda dengan komunikasi nonverbal–lewat chat atau tulisan.
“Saat kita berkomunikasi secara verbal, kita merasa lebih selaras, secara emosional, profesional, atau pribadi,”lanjutnya. “Koneksi ini dapat menghasilkan rasa kepuasan yang lebih besar, terutama di tempat kerja.”
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari