Sebanyak 46 Pelajar di Baubau Keracunan Seusai Santap MBG, Pemkot Minta Audit Mutu Makanan

Ayam berbau dan berbusa dari paket Makan Bergizi Gratis membuat puluhan pelajar di Baubau, Sulawesi Tenggara, keracunan. Kasus keracunan paket MBG terus berulang.

18 Sep 2025 15:43 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Saiful Rijal Yunus

KENDARI, KOMPAS — Sebanyak 46 pelajar di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, keracunan setelah menyantap paket Makanan Bergizi Gratis. Makanan yang berbau, berbusa, dan terasa asam membuat pelajar muntah hingga harus dirawat. Pemerintah meminta audit mutu makanan terhadap para pengelola dapur.

”Total ada 46 pelajar yang keracunan makanan dari dua sekolah. Sebanyak 37 orang dirawat dan dua orang masih jalani perawatan hingga hari ini,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Baubau Fanti Frida Yanti, saat dihubungi dari Kendari, Kamis (18/9/2025).

Peristiwa keracunan makanan ini terjadi pada Selasa (16/9/2025). Beberapa saat setelah mengonsumsi paket MBG, siswa lalu mengeluh pusing, mual, hingga muntah. Kejadian ini pertama kali dilaporkan di sebuah SMA, lalu ada peristiwa yang sama di sebuah sekolah dasar.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, lanjut Fanti, pihaknya segera menurunkan tim reaksi cepat dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan. Puskesmas dan rumah sakit disiagakan.

Sejumlah pelajar dirawat setelah mengalami keracunan akibat paket Makan Bergizi Gratis, di Baubau, Rabu (17/9/2025). Pemerintah meminta adanya audit mutu terhadap penyedia makanan.

Sepanjang kejadian tersebut, 37 murid dibawa ke puskesmas dan rumah sakit. Sembilan anak yang diduga keracunan bisa ditangani oleh pihak sekolah. Tim fokus pada penanganan kesehatan.

Hingga hari kedua keracunan terjadi, sebagian besar pelajar tersebut telah bisa dipulangkan. Tiga orang di antaranya masih dalam perawatan karena kondisi khusus. Dinkes Baubau mengarahkan pemeriksaan lengkap untuk mengetahui kesehatan pelajar tersebut.

Tidak hanya itu, pihaknya juga segera mengambil sampel makanan. Olahan ayam diketahui memang berbau, berbusa, dan berlendir. Sebuah perkedel juga terasa asam. Sampel diambil untuk dikirim ke laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Kendari.

”Kami ambil semua sampel makanan. Paling cepat besok atau lusa baru hasilnya keluar. Tapi, kami telah memberikan rekomendasi dan mengirim permintaan audit dapur penyedia,” ucap Fanti.

Siswa menunjukkan menu ayam yang berbau dan hitam dalam penyajian paket Makan Bergizi Gratis di Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/4/2025). Belasan siswa keracunan dan ratusan lainnya tidak bisa memakan paket yang diduga basi tersebut.

Rekomendasi dari Dinkes Baubau meliputi peningkatan pengawasan mutu makanan oleh semua pihak. Selain itu, pembinaan dan pengawasan oleh penyedia makanan. Hal itu untuk menjaga agar kasus seperti ini tidak berulang.

Menurut Fanti, salah satu persoalan yang terjadi selama program MBG berlangsung adalah tidak berjalannya inspeksi kesehatan lingkungan dapur penyedia. Dari tujuh dapur yang berjalan saat ini, baru dua yang telah dilakukan inspeksi.

Persoalannya, inspeksi itu idealnya didanai oleh Badan Gizi Nasional. Namun, dalam faktanya, hal itu belum terealisasi sehingga Pemkot Baubau berinisiatif melakukan inspeksi. Dengan anggaran yang ada, pihaknya baru bisa melakukan inspeksi ke dua dapur.

Inspeksi memegang peranan penting dalam pengawasan sebelum makanan disiapkan. Higienitas dan mutu makanan bisa dipantau sejak awal dapur berdiri. Berbagai kekurangan juga bisa diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya.

Siswi menunjukkan menu program Makan Bergizi Gratis di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (6/1/2025). Program ini berjalan terbatas di 12 sekolah dari ratusan satuan pendidikan di wilayah ini.

Kepala SMAN 7 Baubau Sartati mengatakan, makanan yang disajikan saat itu memang berbau busuk, khususnya olahan ayam. Pihak sekolah baru mengetahui hal tersebut setelah adanya laporan dari siswa.

”Kami langsung cek dan benar berbau, lalu kami minta segera berhenti makan. Mereka yang sudah telanjur akhirnya merasa mual dan pusing. Kami segera berkoordinasi dengan dapur dan dinas untuk penanganan cepat,” ujarnya.

Sementara itu, pihak regional Badan Gizi Nasional yang dihubungi belum merespons panggilan dan pertanyaan yang dikirimkan Kompas.

Berulang

Seperti di sejumlah tempat di Indonesia, kasus keracunan paket MBG ini telah berulang terjadi. Pada April lalu, sejumlah anak SD di Kabupaten Bombana keracunan. Kejadian siswa keracunan menu MBG terjadi pada Rabu (23/4/2025). Saat itu adalah hari ketiga pemberian program makanan gratis untuk 439 siswa. Dua hari pertama program berjalan lancar dan aman.

Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana

Akan tetapi, pada hari ketiga, utamanya pada pembagian makanan kelas I-III, banyak siswa yang muntah. Makanan di dalam tempat penyajian mengeluarkan bau busuk. Anak-anak panik dan menangis. Di dalam video yang beredar, sejumlah siswa terlihat muntah setelah memakan menu yang disajikan. Sejumlah siswa lainnya tidak mampu menahan bau busuk yang tercium.

Pada awal Mei 2025, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menuturkan, pihaknya sedang menyusun dan mempertajam prosedur standar operasi (SOP) pemilihan serta supervisi mitra. Penguatan itu dilakukan agar kualitas program pemenuhan gizi nasional dapat berlangsung lebih masif dan terstruktur. Program ini juga diharapkan tepat sasaran demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas.

”Oleh sebab itu, kami berkumpul sekarang ini untuk mempertajam SOP-SOP terkait dengan penyeleksian-penyeleksian mitra. Dan, juga supervisi-supervisi infrastruktur yang harus ada dan akan disiapkan oleh para mitra,” tutur Dadan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Saiful Rijal Yunus
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati