Dua Hari Jelang Diskon 10 Persen, 5,4 Juta Tiket Pesawat Natal dan Tahun Baru Belum Terjual

Rencana pemotongan harga tiket pesawat Natal dan Tahun Baru belum mampu mendongkrak antusiasme publik.

17 Des 2024 10:00 WIB · Ekonomi

Oleh Fajar Ramadhan

JAKARTA, KOMPAS — Dua hari menjelang pemberlakuan potongan harga tiket pesawat Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 sebesar 10 persen, sebanyak 5,4 juta tiket atau 66 persen dari total jumlah tiket yang tersedia belum terjual. Sebagian masyarakat menilai kebijakan itu tidak berdampak signifikan sehingga enggan mengubah jadwal kegiatan demi mendapatkan harga tiket yang telah didiskon.

Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah tiket pesawat pada periode Natal dan Tahun Baru yang telah terjual hingga Selasa (17/12/2024) pagi mencapai 2,76 juta tiket atau 34 persen dari total 8,19 juta tiket yang disediakan. Artinya, masih ada sekitar 66 persen tiket atau 5,4 juta tiket yang belum terjual hingga saat ini.

Data juga menunjukkan, masyarakat paling banyak membeli tiket untuk perjalanan mudik pada 21 Desember 2024. Sebanyak 56 persen tiket sudah terjual pada hari itu. Sementara jumlah tiket terbanyak yang terjual untuk periode arus balik tercatat untuk perjalanan pada 2 Januari 2025, dengan proporsi pembelian sebesar 32 persen.

Meski lebih dari separuh dari total tiket belum terjual, Juru Bicara Kemenhub Elba Damhuri saat dihubungi dari Jakarta memprediksi angka penjualan itu masih akan terus naik. Menurut dia, kondisi ekonomi yang cukup menantang juga berpengaruh terhadap pembelian tiket pesawat.

”Kemungkinan saat ini masyarakat masih banyak yang wait and see. Masyarakat sepertinya masih menunggu momentum,” ujarnya.

Momentum dimaksud salah satunya adalah pemberlakuan potongan harga tiket pesawat sebesar 10 persen untuk seluruh penerbangan pada musim liburan Natal dan Tahun Baru. Menurut rencana, kebijakan itu akan diberlakukan mulai 19 Desember 2024 hingga 3 Januari 2025.

infografik - Penurunan Harga Tiket Pesawat pada Masa Natal dan Tahun Baru 2024/2025

Elba mengatakan, upaya tersebut dilakukan untuk merespons harapan masyarakat yang sejak lama mengeluhkan tingginya harga tiket pesawat. Pemerintah pun melihat ada beberapa celah yang bisa dimanfaatkan untuk membuat harga tiket pesawat bisa lebih terjangkau. Terlebih, pada momen libur Natal dan Tahun Baru permintaan tiket biasanya tinggi sehingga harga tiket juga melonjak, bahkan tidak terjangkau oleh masyarakat. 

”Di sinilah negara hadir. Meskipun harga tiket mahal, masih bisa terjangkau dengan kebijakan penurunan harga tiket,” ujarnya.

Sekalipun negara berkomitmen memberikan diskon 10 persen, harga tiket pesawat dalam beberapa hari ke depan cenderung naik. Pantauan Kompas di aplikasi daring Traveloka pada Selasa pagi, misalnya, harga tiket pesawat dari Jakarta menuju Surabaya, Jawa Timur, pada 19 dan 20 Desember mencapai Rp 787.000, kemudian menjadi Rp 896.000, Rp 874.000, dan Rp 821.000 pada tiga hari berturut-turut setelahnya.

Begitu pula tiket pesawat Jakarta menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pada 19 Desember, harganya mencapai Rp 2,3 juta, lalu naik menjadi Rp 2,5 juta pada 20 dan 21 Desember. Kemudian menjadi Rp 2,4 juta pada 22 Desember. Dalam konteks itu, artinya, harga tiket pesawat masih ada dalam tren kenaikan kendati pemerintah memberikan potongan sebesar 10 persen.

Tetap pergi tanpa diskon

Kendati kebijakan potongan harga tiket pesawat bakal diberlakukan dua hari lagi, pada Senin (16/12/2024) siang Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, sudah mulai dipadati warga yang akan berlibur sepanjang periode Natal dan Tahun Baru. Sejumlah penumpang terlihat masuk ke area bandara sambil mendorong troli berisi koper dan tas ransel. Kursi-kursi di ruang tunggu bandara pun dipadati penumpang.

Kepadatan juga terlihat di gedung parkir mobil sisi barat dan timur Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Beberapa mobil bahkan kesulitan mencari lokasi parkir. Hal yang sama juga terpantau di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta hingga Senin malam.

Salah satu penumpang tujuan Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Markurius Boy (27), mengaku tidak terpengaruh dengan rencana potongan harga tiket pesawat. Alih-alih menunggu kebijakan itu, ia lebih memilih pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, tiga hari sebelum potongan harga diberlakukan.

Pria yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) tersebut ingin di kampung lebih awal demi mengikuti sejumlah acara keagamaan Natal. Apalagi, hingga pertengahan Desember ini dia sudah melewatkan tiga acara keagamaan di kampungnya.

”Sebetulnya lumayan juga ada diskon, sayangnya masih tiga hari lagi. Mending saya pilih pulang sekarang supaya tidak ketinggalan acara di kampung,” kata Boy.

Salah satu penumpang tujuan Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Markurius Boy (27) sedang menunggu penerbangan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Tangerang pada Senin (16/12/2024).

Berkumpul bersama keluarga, saudara, dan warga kampung di momen Natal merupakan hal yang sangat bermakna bagi Boy. Apalagi, dua tahun terakhir dia sudah melewatkan kesempatan tersebut. Padahal, hampir setiap tahun semua perantau yang berasal dari kampungnya akan menyempatkan pulang untuk mengikuti acara keagamaan.

”Semua yang merantau pasti menyempatkan pulang. Hanya karena saya kerja di kapal jadi tidak pulang dua tahun kemarin,” ujarnya.

Senada dengan Boy, Dessy (45) juga terbang dari Medan, Sumatera Utara, pada Senin untuk merayakan Natal bersama keluarganya di Bekasi, Jawa Barat. Waktu libur yang singkat membuat dia memutuskan berangkat lebih awal ketimbang menunggu tanggal 19 Desember 2024.

Suasana di counter check in Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Tangerang pada Senin (16/12/2024).

”Mungkin pas pulang ke Medan tanggal 26 Desember saya baru beli tiket yang diskon,” ujarnya.

Sementara itu, Fajar (35), penumpang asal Bandara Sultan Thaha, Jambi, tujuan Soekarno-Hatta juga mengeluhkan penuhnya penumpang pada Senin siang. Kendati sudah check-in daring pada Minggu (15/12/2024) malam, ia tetap mendapatkan tempat duduk paling belakang. ”Setiap tiga pekan sekali saya pulang ke Jakarta, tetapi semalam tumben saya kebagian kursi di bagian paling belakang,” tuturnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fajar Ramadhan
 | 

Editor:

Kurnia Yunita Rahayu
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra