Secangkir Americano Negeri Paman Trump

Trump membuat kopi di AS dan dunia semakin ”pahit”. Di sisi lain, akankah kopi Brasil yang terkena tarif resiprokal sebesar 50 persen ”lari” ke Indonesia?

22 Jul 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi

Secangkir kopi americano di ”Negeri Paman Sam” memiliki sejumlah kisah. Dua di antaranya tentang Perang Dunia II dan koboi. Di era kepemimpinan Donald Trump, kisah itu berlanjut. Ada kisah soal Trump yang mengurangi minum kopi, juga cerita soal tarif resiprokal Trump.

Cody Pellerin, pendiri Americano Lounge di Nashville, Tennessee, Amerika Serikat (AS), mengungkapkan kisah warga AS yang gemar minum kopi dan asal-usul kopi americano. Kopi mulai populer di AS sekitar abad ke-17 sejak Inggris menaikkan pajak ekspor teh.

Kopi semakin merajai AS ketika John dan Charles Arbuckle, pebisnis AS, mulai memproduksi biji kopi sangrai pada 1864. Mereka menjual biji kopi olahan itu kepada para peternak dan koboi yang telah pindah ke wilayah barat.

Militer AS pun menggemari kopi. Dalam sebuah blog di New York Times tentang ”Marinir dan Kopi”, para tentara AS kerap meminum kopi selama Perang Dunia II (1939-1945). Mereka mendapatkan pasokan kopi bubuk dari Korps Quartermaster Angkatan Darat AS.

Di kala pasokan kopi menipis, mereka meminum kopi espreso buatan tentara Italia. Dari sinilah nama kopi americano lahir. Para tentara AS yang terbiasa meminum kopi yang lebih cair ternyata tidak terlalu menyukai kopi yang pekat.

Maka, ”disulaplah” kopi espreso menjadi kopi yang lebih cair dengan menambahkan air panas. Para tentara Italia menyebutnya sebagai kopi americano.

Quote

Para tentara AS yang terbiasa meminum kopi yang lebih cair ternyata tidak terlalu menyukai kopi yang pekat.

Proses sangrai kopi di Starbucks Reserve Roastery, di Seattle, Amerika Serikat, akhir Juni 2025. Starbucks Reserve Roastery menjadi kafe kopi yang sekaligus memamerkan proses sangrai biji kopi hingga racikan kopi kepada pengunjung toko.

Di era Trump, kopi mendulang kisah baru. Pada 25 Mei 2025, misalnya. Dalam kunjungannya ke Arab Saudi, Trump tidak meminum kopi yang disajikan dalam pertemuan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Riyadh.

The New Arab, sebuah media daring yang berbasis di London, Inggris, memuat kisah itu. Setibanya di Bandara Internasional Riyadh, Trump disambut dengan finjan seremonial alias sebuah cangkir kopi Arab kecil, sebagai bagian dari keramahan tradisional kerajaan.

Namun, ketika Putra Mahkota Mohammed bin Salman berdiri di sampingnya, Trump meletakkan cangkir itu dan melanjutkan percakapan mereka tanpa menyesapnya sedikit pun.

Dalam video lain yang direkam kemudian di Istana Al-Yamamah, Trump kembali ditawari kopi. Kali ini, ia memegang cangkir tersebut sambil melanjutkan pembicaraan dengan Salman, tetapi tidak jelas apakah ia meminumnya.

Selain mengungkap sejumlah komenter warganet atas peristiwa itu, media tersebut juga menjelaskan sikap Trump. ”Keraguan Trump mungkin bersumber dari alasan pribadi. Beberapa kali, Trump menyatakan secara terbuka bahwa ia menghindari kopi, alkohol, dan merokok. Pilihan itu dipengaruhi oleh kematian saudaranya, Fred, yang berjuang melawan kecanduan alkohol,” tulis The New Arab pada 12 Mei 2025.

Selain kisah pribadinya dengan kopi, Trump juga bakal menerapkan tarif resiprokal atau bea masuk impor timbal balik kepada sejumlah negara. Tarif Trump tersebut akan turut berimbas pada komoditas kopi.

Tarif tersebut membuat para pengimpor kopi AS dan negara-negara eksportir kopi kalang kabut. Kebijakan itu juga bakal berdampak pada kenaikan harga kopi di pasar AS, termasuk secangkir kopi americano.

Peringakat 10 negara pengimpor kopi terbesar di dunia pada tahun pemasaran 2023/2024.

World’s Top Exports mencatat, pada 2024, AS merupakan negara pengimpor kopi terbesar. Pada tahun itu, total impor kopi AS senilai 8,9 miliar dollar AS atau 17,56 persen dari total nilai kopi dunia yang sebesar 50,7 miliar dollar AS.

Impor kopi terbesar AS berasal dari Brasil, yakni senilai 2 miliar dollar AS atau 22,22 persen dari total nilai kopi AS pada 2024. Di urutan berikutnya, terdapat Kolombia (1,5 miliar dollar AS), Swiss (1,2 miliar dollar AS), Kanada (584,6 juta dollar AS), dan Guatemala (444,5 juta dollar AS).

Vietnam dan Indonesia juga masuk dalam top 10 importir kopi di pasar AS. Pada 2024, Vietnam menempati peringkat ke-8 dengan kopi yang diimpor AS senilai 364 juta dollar AS. Adapun Indonesia berada di urutan ke-10 dengan kopi yang diimpor AS senilai 299,2 juta dollar AS.

Jerat tarif resiprokal

Tarif resiprokal Trump yang bervariasi telah membikin gundah para importir kopi AS dan negara-negara pengekspor kopi. Tarif tersebut bakal mendongkrak harga kopi dan secangkir kopi di AS, harga kopi dunia, bahkan mengubah rantai pasok kopi dunia.

Sebelum AS memberlakukan tarif resipokral sebesar 50 persen kepada Brasil pada 1 Agustus 2025, para importir kopi AS telah terlebih dulu memborong kopi dari Brasil. Mereka bahkan menaikkan harga kopi di AS untuk mengantisipasi penerapan tarif resiprokal itu.

Presiden AS Donald Trump memegang bagan tarif sejumlah negara saat menyampaikan pidato tentang tarif timbal balik dalam sebuah acara di Rose Garden bertajuk "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih di Washington DC, AS, pada 2 April 2025.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat, per Juni 2025, harga rata-rata satu pon atau sekitar setengah kilogram kopi bubuk sangrai menembus 8,13 dollar AS. Harga itu lebih tinggi dari harga rerata kopi bubuk pada 2024 dan 2020 yang masing-masing sebesar 6,25 dollar AS dan 4,52 dollar AS.

Hal itu berpotensi menyebabkan harga secangkir kopi, termasuk americano di AS, naik tinggi. Pada triwulan I-2025 saja, harga rerata secangkir kopi biasa di berbagai daerah di AS sudah mencapai 3,5 dollar AS, sedangkan kopi seduh dingin 5,4 dollar AS. Namun, untuk jenis kopi kualitas tinggi (speciality), harga reratanya 12 dollar AS per cangkir.

Jika tarif impor 50 persen AS atas Brasil tetap berlaku per 1 Agustus 2025, rantai pasok kopi global bakal berubah. Brasil akan mendiversifikasi pasar ekspor kopinya ke sejumlah negara di Eropa dan Asia. Sementara para importir kopi di AS bakal mengalihkan pembelian kopi ke negara-negara lain di Afrika, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah.

Indonesia memang punya peluang meningkatkan ekspor kopi ke AS. Tarif resiprokal yang dikenakan AS terhadap Indonesia saat ini sebesar 19 persen. Dari top 10 negara importir kopi di pasar AS, tarif resiprokal AS yang dikenakan terhadap Indonesia itu lebih rendah dari Kanada (35 persen), Meksiko (30 persen), dan Vietnam (20 persen).

Tarif tersebut juga lebih rendah dari tarif impor yang bakal dikenakan AS ke Uni Eropa, termasuk Italia, Jerman, dan Swiss sebesar 30 persen. Dibandingkan dengan Kolombia yang terkena akumulasi tarif impor AS sebesar 35 persen sejak Januari 2025, tarif impor AS untuk RI juga masih lebih rendah.

Namun, kopi Indonesia masih harus bersaing dengan Peru di Amerika Selatan serta Guatemala dan Honduras di Amerika Tengah. Ketiga negara yang memiliki kedekatan geografis dengan AS tersebut hanya dikenai tarif resiprokal oleh Trump sebesar 10 persen.

Ke depan, Indonesia juga berpotensi mengalami lonjakan impor kopi dari Brasil. Hal ini lantaran Indonesia bersama Brasil bergabung dalam BRICS. Selain itu, Indonesia berencana membuat perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif dengan Mercosur (Pasar Bersama Amerika Selatan), di mana Brasil merupakan salah satu pendirinya.

Infografik Produktivitas Lahan Kopi Negara Pengekspor kopi

Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Agnes Theodora