Brasil dijatuhi tarif 50 persen oleh Amerika Serikat. Daging sapi, jus jeruk, dan kopi harganya akan melejit.
11 Jul 2025 09:19 WIB · Internasional
WASHINGTON, JUMAT — Masyarakat Amerika Serikat bersiap harus merogoh kantong lebih dalam apabila hendak membeli hamburger, kopi, dan jus jeruk. Presiden AS Donald Trump menetapkan tarif impor 50 persen atas Brasil, negara asal tiga komoditas tersebut.
Surat kabar Rio Times edisi Kamis (10/7/2025) waktu setempat atau Jumat (11/7/2025) waktu Indonesia melaporkan, AS melancarkan penyelidikan terhadap praktik perdagangan Brasil. Penyelidikan dilakukan berlandaskan pasal 301 Undang-Undang Perdagangan AS tahun 1974.
Trump juga mengumumkan, per 1 Agustus 2025, Brasil dikenai tarif impor 50 persen. Jumlah ini naik drastis dari tarif awal 10 persen. Ini penetapan tarif tertinggi terhadap Brasil sepanjang sejarah perdagangan kedua negara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/11/28d13163-a918-4036-8f9a-a10ece6ba84e_jpg.jpg)
Merujuk surat Trump kepada Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, ada dua perkara yang diselidiki AS menggunakan pasal 301. Pertama, pembatasan perusahaan-perusahaan media sosial AS di Brasil. Negara itu mengatur, semua platform media sosial harus bertanggung jawab memastikan tidak ada ujaran kebencian dan tindakan kejahatan disebarluaskan di media sosial.
Menurut Trump, praktik tersebut mengganggu kebebasan berekspresi dan membatasi ruangan perusahaan media sosial AS. Perkara kedua kala Trump memprotes gugatan terhadap temannya, Presiden Brasil 2019-2023 Jair Bolsonaro. Ia sedang diproses hukum atas tuduhan menghasut pendukungnya agar melakukan kerusuhan ketika kalah dari Lula pada pemilihan umum 2022.
”Ini perburuan yang tidak adil. BIARKAN BOLSONARO!” cuit Trump di Truth Social.
AS sejatinya menikmati surplus neraca perdagangan dengan Brasil. Menurut data Biro Sensus AS, jumlah ekspor AS ke Brasil sebesar 49 miliar dollar AS pada 2024. Sebaliknya, jumlah ekspor Brasil ke AS sebesar 42 miliar dollar AS.
Pengumuman tarif 50 persen itu membuat para pengusaha di AS pusing. Sepertiga kopi yang dikonsumsi di AS berasal dari Brasil. Demikian pula jeruk bahan baku pembuatan jus dan daging sapi untuk produk burger, hotdog, dan steik.
Kapasitas produksi daging sapi dalam negeri AS tidak mencukupi permintaan pasar. Selama ini, pengusaha AS mengimpor dari Brasil dalam jumlah besar. Bahkan, impor daging sapi dari Brasil pada periode Januari-Mei 2025 dua kali lebih besar dibandingkan periode yang sama pada 2024. Pembelian daging sapi Brasil adalah 21 persen dari total impor AS.
”Kalau tidak ada intervensi, kami tidak akan mampu mengimpor daging dari Brasil,” kata Bob Chudy, konsultan untuk berbagai perusahaan pengimpor daging.
Apabila tarif 50 persen terhadap Brasil diterapkan, biaya impor daging sapi yang harus dibayar pengusaha AS menjadi 76 persen. Harga itu tidak akan bisa diserap oleh pasar karena terlalu tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/08/04/FILES-BRITAIN-BRAZIL-AGRICULTURE-COFFEE-MARKET_97797391_1628048779.jpg)
Daging sapi adalah sumber protein utama bagi mayoritas rakyat AS. Pengolahan yang paling umum adalah digiling dan dimasak di dalam roti isi yang disebut hamburger. Metode lainnya ialah dibuat sosis.
Cara memasak ini memberi pilihan daging sapi yang murah dan terjangkau bagi publik. Apabila harga hamburger naik, banyak masyarakat rentan di AS yang tidak bisa makan. Apalagi, DPR bermaksud mengurangi anggaran bantuan sosial untuk kalangan rentan.
Beberapa negara pilihan untuk menggantikan Brasil ialah Australia, Argentina, Uruguay, dan Paraguay. Akan tetapi, mereka tidak bisa mengirim sebanyak Brasil. Pengusaha harus menambah daftar negara asal impor.
Demikian pula kopi. Para pengusaha AS harus membeli dari Kolombia, Vietnam, Honduras, dan Peru. Harga dari negara-negara ini tidak semurah kopi Brasil. Volume sekali mengirim juga tidak sebesar Brasil. Secara total, tarif impor kopi dari Brasil di AS sudah naik menjadi 70 persen per awal tahun ini. Kenaikan lagi akibat tarif tidak akan bisa ditanggung oleh pasar.
”Tidak ada importir AS yang mampu membeli kopi kami. Lebih baik kami menjual ke Eropa,” kata Paulo Armelin, pengusaha kopi dari Brasil.
Saat ini Pemerintah Brasil masih melanjutkan perundingan soal tarif dengan AS. Akan tetapi, mereka juga menyiapkan rencana cadangan apabila perundingan gagal. Lula mengatakan akan membalas perlakuan AS dengan menetapkan tarif sama besar.
”Kita harus saling menghormati. Tetapi, jelas pihak sana tidak mau berbuat begitu. Brasil memiliki aturan pembalasan tarif yang sudah disetujui oleh DPR,” kata Lula dalam wawancara dengan TV Record.
Pemerintah Brasil mengatakan, tarif balasan ini bukan demi memantik perang dagang dengan AS. Ketua Senat Davi Alcolumbre yang beraliran moderat dan sering kali bertentangan dengan Lula yang beraliran kiri menyetujui rencana penjatuhan tarif balasan ke AS.
”Ini soal kedaulatan dan martabat bangsa Brasil. Kita harus melindungi ekonomi dan sektor produktif di dalam negeri,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/ff2c0b8e6cc4ba6ea42a595104e11fbf-WhatsApp_Image_2025_07_06_at_23.20.40.jpeg)
Para pengamat ekonomi di Brasil berpendapat, keinginan Trump, termasuk agar Brasil menghentikan gugatan terhadap Bolsonaro, bukan karena ia memang membela Bolsonaro ataupun demokrasi. Mereka melihat, Trump menekan Brasil karena anggota BRICS.
Organisasi kerja sama ini beranggotakan 11 negara. Ada Brasil, Rusia, China, Afrika Selatan, Mesir, Indonesia, Uni Emirat Arab, Etiopia, Iran, India, dan Arab Saudi. Trump menuduh BRICS anti-AS. Tuduhan itu dibantah oleh BRICS yang mengatakan hanya ingin memperkuat kerja sama Selatan-Selatan.
Perbuatan Trump justru menyatukan masyarakat Brasil. Sejak 2022, mereka terbelah antara pendukung Lula dan pendukung Bolsonaro. Kini, pendukung Bolsonaro juga mengutarakan kemarahan terhadap Trump.
Surat kabar aliran kanan Brasil, Daily O Estado de Sao Paolo, menerbitkan tajuk rencana yang membela Lula. Padahal, mereka selama ini selalu mengkritik Lula.
”Presiden kita sudah benar menegakkan kedaulatan Brasil. Perbuatan Trump sama seperti mafia yang menginjak-injak orang lain,” demikian bunyi tajuknya.
(AP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto