Keluh Warga Jakarta, Mengapa Proyek Galian Tak Kunjung Usai

Mayoritas proyek, baik air bersih, limbah, maupun jaringan utilitas, di Jakarta menggunakan metode penggalian. Proyek silih berganti seolah tak pernah usai.

16 Sep 2025 11:54 WIB · Metropolitan

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany, Atiek Ishlahiyah Al Hamasy

Proyek galian di kiri, kanan, dan tengah jalan di Jakarta seolah tak pernah absen. Pengerjaannya seakan tidak pernah usai. Dari satu titik ke titik lainnya. Warga bingung, sebal, dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Keluhan soal kemacetan parah di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, beberapa pekan terakhir hanyalah satu dari sekian problem serupa. Lalu lintas yang sudah padat makin macet karena ada proyek galian di kanan-kiri jalan.

Gita (27), warga Jakarta Barat, bingung. Bedeng proyek galian selalu menghiasi Jalan Daan Mogot di Jakarta Barat. ”Galiannya memang tidak sepanjang jalan, tetapi kok lama banget (pengerjaannya),” kata Gita, Selasa (16/9/2025).

Keluhan serupa pernah disampaikan anggota Komisi A DPRD Jakarta, William Aditya Sarana, pada Agustus 2025. Proyek itu disebut milik Dinas Sumber Daya Air Jakarta yang mangkrak sejak tahun 2022.

Gita tak anti pembangunan. Namun, pekerja kantoran di Jakarta Pusat itu meminta agar proyek direncanakan dengan matang agar tidak mangkrak. ”Jangan tunggu sampai kami (warga) teriak atau viral dong,” kata Gita.

Pekerja memperdalam lubang galian air di Jalan Ciledug Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (14/10/2022). Dalam keterangan Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, galian saluran air di Jalan Ciledug Raya merupakan proyek sondetan dari Kali Kuangan menuju Kali Pesanggrahan. Proyek galian tersebut memakan setengah badan jalan. Selain itu, beberapa toko yang ada di samping galian terpaksa tutup. Kemacetan hampir satu kilometer terjadi akibat adanya galian air tersebut.

Zuhri (45), warga Jakarta Pusat, sependapat. Proyek relokasi kabel optik di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, misalnya, penting agar jaringan utilitas tertata sekaligus mengurangi risiko bahaya bagi pengguna jalan.

”Proyeknya cepat (selesai) walaupun belum tuntas semuanya, enggak kayak biasa. Mungkin karena orang-orang pada ngomel proyek bikin macet,” seloroh karyawan swasta itu.

Relokasi kabel optik di Petamburan sudah rampung pada ruas jalan di dekat perempatan Slipi arah Petamburan. Namun, selebihnya masih dalam proses penggalian dan penataan.

Proyek se-Jakarta

Dinas Perhubungan Jakarta mencatat, sebanyak 216 ruas jalan sepanjang 264,58 kilometer di Jakarta terdampak langsung proyek konstruksi. Proyek ini meliputi pembangunan jaringan air bersih, pengelolaan limbah, hingga sarana jaringan utilitas terpadu. Sebagian besar dilakukan dengan metode penggalian.

Dari Palmerah ke arah Petamburan dan Gambir, misalnya, ada tiga proyek galian berbeda. Galian untuk penerangan jalan ada di salah satu sisi trotoar Jalan Palmerah Utara ke arah Slipi.

Selanjutnya, ada penataan kabel optik di Jalan KS Tubun dari Petamburan ke arah Tanah Abang. Proyek lainnya adalah galian untuk jaringan pengolahan air limbah di Jalan Abdul Muis dan Proyek MRT Jakarta Fase 2A Bundaran HI-Kota di Jalan Medan Merdeka.

Proyek galian untuk sarana jaringan utilitas terpadu di Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, Selasa (16/9/2025).

Penataan kabel optik merupakan bagian dari penataan sarana jaringan utilitas terpadu (SJUT). Pemerintah Provinsi Jakarta memberi tugas kepada PT Jakarta Propertindo (Perseroda) dan PD Sarana Jaya untuk mengerjakan hal itu sebagaimana tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 69 Tahun 2020 tanggal 24 Juli 2020 (Perubahan Peraturan Gubernur Nomor 110 Tahun 2019) dan Peraturan Gubernur Nomor 70 Tahun 2020.

Dinas Bina Marga Jakarta melaporkan, proyek SJUT antara lain tersebar di Jakarta Selatan. Proyek mencakup 20 ruas jalan di Jakarta Selatan dengan total panjang 72,2 kilometer.

Sementara di Jakarta Timur, proyek meliputi 10 ruas jalan sepanjang 43,2 kilometer. Adapun di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat, proyek mencakup 34 ruas jalan dengan total panjang 106,4 kilometer (Kompas, 13 Januari 2023).

Jakarta Propertindo menata sepanjang 25 kilometer lebih, sedangkan PD Sarana Jaya menata 1 kilometer. Oleh karena itu, kinerja kedua badan usaha milik daerah (BUMD) itu dinilai belum maksimal sehingga perlu dievaluasi.

Hingga akhir 2024, penataan telah mencakup 209 kilometer kabel udara. Fokusnya di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur karena tingginya kepadatan jalur kabel udara di wilayah tersebut. Adapun untuk tahun 2025, penataan kabel udara ditargetkan mencakup 90 kilometer melalui proyek-proyek pembangunan dan program penataan utilitas terpadu.

Proyek lain yang disebut memperparah kemacetan hingga akhir 2025 ialah Jakarta Sewerage Development Project (JSDP) Zona-1 Paket 3 Segmen 6 di Jalan Perniagaan Raya, Jakarta Barat, dan saluran drainase di kawasan Cawang–Kebon Nanas oleh Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Timur.

JSDP berupa galian sepanjang 10-15 meter. Proyek ini memakan separuh badan jalan dan menyisakan satu lajur bagi kendaraan. Pengerjaannya dijadwalkan berlangsung selama Agustus 2025 hingga Desember 2027.

Secara keseluruhan, JSDP mencakup beberapa kegiatan, yakni pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL); jaringan air limbah perpipaan pada kawasan di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara; serta housing inlet di Penjaringan sebagai model area dan pembangunan sambungan rumah pada seluruh kawasan tersebut di atas.

”Semua yang berkaitan dengan pembangunan oleh Pemprov Jakarta harus mempunyai aturan main,” ujar Gubernur Jakarta Pramono Anung saat meninjau uji coba rekayasa lalu lintas di Jalan TB Simatupang, Senin (15/9/2025).

Pengendara mobil melintas di lajur kiri Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) bagian selatan, Jakarta, yang menjadi jalur rekayasa lalu lintas pengurai kemacetan di Jalan TB Simatupang, Senin (15/9/2025). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kementerian Pekerjaan Umum mulai menguji coba operasi satu lajur tambahan di Gerbang Tol Fatmawati 2 sekaligus merekayasa lalu lintas pada Senin (15/9/2025) sore. Uji coba itu berlangsung mulai Senin (15/9/2025) hingga Jumat (19/9/2025) setiap pukul 17.00-20.00 WIB atau saat jam sibuk pulang kerja. Lajur paling kiri itu dibuka gratis khusus bagi kendaraan roda empat dari arah Jalan TB Simatupang menuju Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pada uji coba kali ini masih banyak pengendara yang belum mengetahui rekayasa lalu lintas. Rekayasa lalu lintas ini untuk menambah kapasitas ruas jalan TB Simatupang arah Jalan RA Kartini tepatnya di bawah Stasiun MRT Fatmawati.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
15-09-2025

Pramono meminta evaluasi sejumlah hal terkait proyek dan kemacetan. Politisi PDI-P ini meminta agar ada perencanaan matang. Hal ini untuk mengantisipasi dampak yang berlarut bahkan merugikan warga.

”Enggak bisa lagi, misalnya, sudah mendapatkan proyeknya di satu titik. Belum dikerjakan, tetapi dibuat bedeng, dibuat tertutup, dan enggak tahu apa yang terjadi sebenarnya,” kata Pramono.

Ia meminta agar tak ada lagi hal-hal seperti itu. Jangan sampai seperti lagu lama kaset kusut yang terus berulang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dany, Atiek Ishlahiyah Al Hamasy
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan