Presiden Yon Sook Yeol, mantan Jaksa, beberapa kali membatalkan penyelidikan dugaan skandal Ibu Negara, Kim Keon-hee.
04 Des 2024 14:00 WIB · Internasional
Tekanan politik yang menguat atas Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol kembali menguak sejumlah persoalan yang membelit Ibu Negara, Kim Keon-hee. Alih–alih membantu tugas suami, Kim justru memicu berbagai kontroversi semasa suaminya menjadi jaksa, dan kini sebagai Presiden Korsel.
Pada Selasa (3/12/2024) malam, Yoon mengumumkan negara dalam keadaan darurat militer dan melarang semua kegiatan politik. Sebelumnya pukul 15.17 waktu Seoul, ada upaya penyelidikan oleh pihak Kejaksaan Seoul atas skandal yang melibatkan Kim Keon-hee.
Pada waktu lebih kurang bersamaan, oposisi utama Korea Selatan, Partai Demokrat, menolak mengesahkan anggaran negara. Oposisi juga mengusulkan pemakzulan Jaksa Agung dan kepala BPK Korea Selatan.
Presiden Yoon lantas menuding kubu oposisi menjalankan aktivitas antipemerintah dan menjurus pada pemberontakan. ”Keadaan darurat militer ditujukan memberangus kekuatan pro-Korea Utara dan melindungi kebebasan dan ketertiban,” ujar Yoon dalam pidato yang disiarkan Selasa malam sebagaimana dikutip Kantor Berita Yonhap.
Di luar persaingan politik Presiden Yoon dan oposisi, sejak beberapa tahun terakhir muncul sederet kontroversi terkait Ibu Negara Korea Selatan Kim Keon-hee.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/fb32950ac07979d40b576cfdb16709ef-Korea_First_Lady_Kim_Keon_Kee.jpg)
Kontroversi terbaru Kim Keon-hee dalam laporan Kantor Berita Reuters adalah menerima tas mewah merek Christian Dior, kosmetik Channel, parfum, dan wiski dari seorang pendeta, Abraham Coi.
Majalah Times edisi 24 Januari 2024 menyebutkan, dalam Undang-Undang Anti Korupsi Korea Selatan, pejabat publik dan pasangannya dilarang menerima hadiah lebih dari 1 juta won atau sekitar Rp 12 juta dalam satu tahun anggaran. Sementara kuitansi pembelian tas Christian Dior itu senilai 3 juta won atau setara dengan Rp 36 juta.
Kantor Jaksa Penuntut Kota Seoul menghentikan penyelidikan terhadap Kim Keon-hee karena disimpulkan pemberian hadiah tersebut tidak ada kaitan dengan posisi Ibu Negara dan Presiden serta tidak ada balas jasa yang diberikan oleh pasangan nomor satu di Korea Selatan tersebut.
Penyelidikan dijalankan berbulan-bulan atas peristiwa yang terjadi di tahun 2023 itu. Kasus tersebut menjadi salah satu sebab kekalahan Partai Kekuatan Rakyat, partai pengusung Yoon dalam pemilu Korea Selatan, April 2024.
Jaksa penuntut juga membatalkan dakwaan pemberian suap terhadap pendeta Abraham Choi yang merupakan teman keluarga Kim. Abraham Choi sengaja merekam pemberian hadiah tersebut secara diam-diam dan kemudian mengedarkannya di kanal youtube milik kelompok sayap kiri anti Presiden Yoon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/18/a1b3b02f-b2ec-4d30-9fe5-96c7718883a2.jpg)
Adapun Abraham Choi kepada wartawan mengaku, dia meminta bantuan tertentu kepada Ibu Negara ketika menyerahkan hadiah mewah kepada Kim. Akan tetapi, jaksa penuntut membantah dan mengatakan yang terjadi dalam pertemuan Abraham Choi dan Kim Keon-hee adalah percakapan pribadi.
Tidak ada keterangan apa pun dari Kim dan Kantor Kepresidenan Korea Selatan terkait diberhentikannya penyelidikan kasus Tas Dior itu.
Di sisi lain, Yoon adalah mantan Jaksa sukses yang berkarier sejak tahun 1994 hingga mengakhiri karier sebagai Jaksa Muda Pidana Kejaksaan Agung Korea Selatan tahun 2019-2021. Dia memenangi pemilihan presiden Korea Selatan di akhir tahun 2021.
Kim Keon-hee lahir tanggal 2 September 1972 dengan nama Kim Myeong-sin di Yangpyeong. Dia menjalani pendidikan di Sekolah Perempuan Myungil, kemudian lulus kuliah di bidang seni dari Universitas Kyonggi. Dia mengubah nama menjadi Kim Keon-hee di tahun 2008.
Ayahnya wafat ketika Kim masih di sekolah menengah. Ibunya, Choi Eun-sun, pernah disidang, tetapi dibebaskan dalam dakwaan menjalankan praktik klinik perawatan lansia tanpa izin dari tahun 2013–2015. Choi Eun-sun kini sedang menjalani pidana satu tahun penjara dalam kasus penipuan bisnis perumahan. Dia dijatuhi vonis bersalah di tahun 2023.
Pasangan Yoon Sook Yeol dan Kim Keon-hee menikah di tahun 2012 ketika Yoon masih aktif menjadi jaksa penuntut umum. Saat itu, Kim Keon-hee menjadi ECO perusahaan pameran seni Covana Contents yang kerap menggelar aneka pameran seni rupa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/87c710b4a92a0c7496e83b5cdaeb7cc6-000_36PC26X.jpg)
Kim Keon-hee pernah dibelit kasus tidak membayar pajak di tahun 2019. Dia juga dituding menerima kick back sebagai penyelenggara pameran seni.
Selanjutnya di bulan Desember 2021 muncul kehebohan di publik Korea Selatan terkait dengan kebenaran riwayat hidup Kim ketika melamar menjadi pengajar di tahun 2007-2013. Dia dituduh membesar-besarkan pengalaman kerja dan riwayat hidupnya.
Kim kemudian meminta maaf secara terbuka. Ketika itu, suaminya, Yoon Sook Yeol, baru saja memenangi pemilihan presiden dan dilantik pada Mei 2022.
Seperti halnya selebritas Korea dalam budaya K-Pop, dibentuk pula ’fans club’ Kim Keon-hee yang dipimpin pengacara Kang Shin-up (58). Nama ’fans club’ tersebut adalah Keonhe Sarang (Cinta Keonhe).
Harian Singapura, The Straits Times, pada 16 Juni 2022 melaporkan, seperti halnya selebritas Korea dalam budaya K-Pop, dibentuk pula fans club Kim Keon-hee yang dipimpin pengacara Kang Shin-up (58). Nama fans club tersebut adalah Keonhe Sarang (Cinta Keonhe).
Kang Shin-up menjadi sorotan karena membela mati-matian Kim Keon-hee. Sebaliknya, Kang, dengan kata–kata kasar, menyerang pihak yang mengkritik Kim Keon-hee.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/13/fa16be5f-c54c-4ff6-9df5-b67f5de8c066.jpg)
Setahun kemudian di bulan Agustus 2022, Kim kembali terlibat masalah. Ia dituding melakukan penjiplakan (plagiat) untuk tulisan akademisinya. Dalam laporan Times, Universitas Kookmin tempat Kim meraih gelar doktoral mengatakan tidak ada kesalahan yang dilakukan Kim Keon-hee. Universitas Kookmin telah melakukan penyelidikan selama delapan bulan dalam kasus tuduhan penjiplakan karya ilmiah itu.
Akan tetapi, keterangan itu menimbulkan kecaman dunia akademis Korea Selatan. Sekurangnya 16 profesor dari berbagai perguruan tinggi Korea Selatan melakukan penyelidikan dan menyampaikan temuan yang mendukung tudingan dugaan plagiat yang dilakukan Kim dalam tesis master yang dibuatnya di Universitas Perempuan Sookmyung, dan disertasi doktoral di Universitas Kookmin.
Kim Keon-hee juga dibelit tuduhan manipulasi saham senilai 61 juta dollar AS atau sekitar Rp 937,1 miliar dalam kurun waktu 2020–2024. Saham itu terkait dengan perusahaan Deutsche Motors. Akan tetapi, menurut The Straits Times, Singapura, dia tidak dituntut karena minimnya alat bukti.
Times melaporkan, akun bank Kim dan ibunya digunakan dalam skandal manipulasi saham Deutsche Motor.
Dalam laporan Kantor Berita Korsel, Yonhap, tanggal 17 Oktober 2024, Kantor Jaksa Seoul mengumumkan penghentian penyelidikan setelah empat tahun mendalami dugaan keterlibatan Kim itu.
Sebelumnya, Yoon dengan sigap pada awal Januari 2024 menjatuhkan veto untuk mencegah parlemen Korea Selatan menyelidiki dugaan keterlibatan Ibu Negara Korea Selatan dalam manipulasi saham itu.
Selain kasus tas Christian Dior, Kim Keon-hee dan Yoon juga dikecam karena diduga menggunakan pengaruh untuk kandidat legislatif dalam Pemilihan Sela tahun 2024. Adanya bocoran rekaman pembicaraan pasangan Yoon–Kim dalam mendukung pihak tertentu menambah panjang catatan kontroversi Kim Keon-hee. (REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .