Kartu Nusuk masih terus didistribusikan di pengujung waktu sebelum dimulainya fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Adapun skema tanazul batal dilaksanakan.
03 Jun 2025 18:08 WIB · Dikbud
MEKKAH, KOMPAS — Sehari menjelang pelaksanaan wukuf di Arafah, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi masih mendistribusikan kartu Nusuk. Adapun skema tanazul dinyatakan batal dilakukan.
Pada Selasa (3/6/2025), selain mendistribusikan kartu Nusuk, pihak Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga melakukan sortir kartu berdasarkan kloter.
Kartu Nusuk yang belum terdistribusi ini, antara lain, disebabkan pemisahan jemaah berdasarkan syarikah. Kartu Nusuk adalah identitas digital yang harus digunakan jemaah haji selama berada di Arab Saudi.
Hal ini menyebabkan jemaah terpisah hotel dengan rombongan. Sejumlah jemaah kemudian bergabung dengan rombongannya tanpa sepengetahuan syarikah atau sektor. Akibatnya, petugas syarikah yang membawa kartu Nusuk tak menemukan jemaah di hotel tempat mereka tercatat.
Dalam pengecekan, petugas memeriksa nomor paspor di kartu Nusuk dan mencocokkan dengan data jemaah yang ada pada aplikasi Satu Haji. Pengelompokan lalu dilakukan berdasarkan embarkasi dan kloter. Setelah dikelompokkan, petugas kloter datang mengambil ke Kantor Urusan Haji.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/6790bc58cd600e92313389abebd4d30f-IMG_2068.jpeg)
Tidak sedikit nomor paspor di Nusuk yang tak terbaca dalam aplikasi. ”Pada kasus kartu Nusuk-nya ada tapi tidak tercatat atau tak terbaca dalam aplikasi, hal itu terjadi karena jemaah batal berangkat,” kata Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief saat mengecek proses sortir kartu Nusuk.
Pada kasus kartu Nusuk-nya ada tapi tidak tercatat atau tak terbaca dalam aplikasi, hal itu terjadi karena jemaah batal berangkat.
Dalam rapat dengar pendapat antara penyelenggara ibadah haji dan tim pengawas haji Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Mekkah, Senin (2/6/2025), disepakati bahwa selambatnya pada Selasa (3/6/2025) malam seluruh kartu Nusuk harus terdistribusi.
Jika saat pemberangkatan kartu Nusuk belum terdistribusi, penyelenggara haji meminta agar syarikah tetap memastikan jemaah bisa masuk ke Arafah. Diperkirakan masih ada 1-2 persen kartu Nusuk yang harus didistribusikan.
Sementara itu, skema tanazul, yang sebelumnya disebut akan diberlakukan pada puncak pelaksanaan ibadah haji tahun ini, dinyatakan batal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/16/0a191545-ec7c-471a-9a6d-c502be7ae8ca.jpg)
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Muchlis M Hanafi mengutarakan, pembatalan pelaksanaan program tersebut sesuai dengan keputusan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi dengan mempertimbangkan alasan keselamatan.
”Berdasarkan hasil evaluasi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan di Arab Saudi, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi memutuskan pelaksanaan tanazul ditunda ke musim haji tahun-tahun mendatang untuk dipersiapkan dengan lebih matang,” kata Muchlis di Mekkah, Selasa (3/6/2025).
PPIH Arab Saudi sedianya akan memberlakukan program tanazul pada operasional haji tahun ini. Program ini sebagai upaya memberi kemudahan beribadah sesuai tuntunan syariat dan menjaga keselamatan jemaah, khususnya lanjut usia, disabilitas, dan kelompok rentan. Program ini ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nomor 137 Tahun 2025.
”Kami memahami bahwa pembatalan yang mendadak ini mungkin menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian jemaah. Namun, ini adalah langkah terbaik yang diambil demi menjaga keselamatan seluruh jemaah,” tambah Muchlis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/08/318833af-eb35-4f29-b6ed-8fe43123485d.jpg)
Dalam skema tanazul, jemaah tanazul akan melontar jumrah pada 10 Zulhijah lalu kembali ke hotel. Mereka tidak mabit atau bermalam di Mina. Skema ini bertujuan untuk mengurai kepadatan di tenda Mina. Skema tanazul umumnya dilakukan jemaah yang tinggal di hotel pemondokan di wilayah Syisyah dan Raudhah.
Dengan perubahan kebijakan ini, seluruh jemaah akan tetap melaksanakan rangkaian ibadah di Mina, termasuk mabit (menginap/bermalam) dan melontar jumrah, lalu kembali ke Mekkah sesuai jadwal masing-masing. Namun, jemaah dapat melakukan tanazul secara mandiri dengan berkoordinasi melalui syarikah masing-masing, terutama terkait penyediaan konsumsi.
Puncak pelaksanaan ibadah haji dikenal dengan istilah fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Fase ini akan diawali dengan wukuf di Arafah dan dilanjutkan mabit atau bermalam di Muzdalifah. Setelah itu, jemaah akan lanjut ke Mina untuk melakukan lontar jumrah.
Wukuf dijadwalkan pada Kamis (5/6/2025). Seluruh jemaah mulai Rabu (4/6/2025) pagi akan berangsur bergerak ke kawasan Arafah, 25-31 kilometer dari kota Mekkah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/08/2598a680-b48a-41b9-b967-ab1a6a20adb2.jpg)
Muchlis mengatakan, PPIH Arab Saudi, syarikah penyedia layanan jemaah haji Indonesia, serta Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi telah bersepakat bahwa pemberangkatan jemaah dilaksanakan berdasarkan syarikah, markaz, dan hotel tempat jemaah menginap.
Kesepakatan ini juga diperkuat dalam kesimpulan rapat kerja Tim Pengawas Haji Republik Indonesia bersama Menteri Agama dan Kepala Badan Penyelenggara Haji RI pada Senin (2/6/2025).
”Dalam hal terdapat jemaah berbeda syarikah dan/atau markaz di satu hotel, syarikah bertanggung jawab untuk tetap memberangkatkan tanpa membedakan asal syarikah,” jelasnya.
Terkait penggabungan pasangan jemaah yang terpisah, Muchlis menjelaskan bahwa pihaknya telah menerbitkan edaran nomor 059/PPIH-AS/5/2025 tanggal 17 Mei 2025. Dalam edaran tersebut diatur tentang kategori pasangan yang mencakup suami–istri, anak–orangtua, serta lansia/disabilitas dan pendampingnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/04/1d309dab-b611-45c2-b713-309aee49de8c_jpeg.jpg)
”Penggabungan pasangan jemaah yang terpisah dilaksanakan sesuai edaran PPIH Arab Saudi. Jemaah terpisah dapat memilih salah satu hotel pasangannya dengan memperhatikan kapasitas hotel dan melaporkannya kepada petugas kloter dan sektor untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan syarikah terkait. Pemberangkatan ke Arafah akan dilakukan bersama-sama dalam satu rombongan,” katanya.
Sementara untuk pengangkutan jemaah ke Arafah, Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi Mujib Roni mengatakan setidaknya ada 3.000-an bus yang disiapkan.
”Jumlah bus tergantung dari syarikah-nya. Namun, kalau kita total, bus yang dioperasikan di atas 3.000 untuk mengangkut seluruh jemaah kita. Tetapi, itu bukan berarti mengangkut dalam sekali waktu. Kita mengenal istilah trip dan berbasis kapasitas masing-masing markaz,” katanya.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar