Sehari Setelah Mengultimatum MU, Ruben Amorim Dipecat

Pesan ultimatum Amorim terhadap manajemen MU memperlihatkan masalah besar di belakang layar. Benar saja, Amorim dipecat sehari setelah pernyataan kontroversialnya.

05 Jan 2026 18:49 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Kelvin Hianusa

MANCHESTER, SENIN — Nasib Pelatih Ruben Amorim sungguh ironis. Belum genap 24 jam setelah mengultimatum Manchester United soal statusnya sebagai manajer tim, dia dipecat. Amorim pun menambah daftar panjang kutukan pelatih-pelatih MU setelah era Sir Alex Ferguson.

MU mengumumkan telah berpisah dengan Amorim pada Senin (5/1/2026). ”Ruben Amorim telah meninggalkan posisinya sebagai pelatih kepala. Dengan klub berada di posisi enam Liga Inggris, ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan perubahan. Ini akan memberi tim kesempatan terbaik untuk finis setinggi mungkin,” demikian penjelasan pihak klub.

Amorim pun menyudahi perjalanan bersama ”Setan Merah” tanpa pernah terlibat dalam satu musim penuh. Dia ditunjuk sebagai pengganti Erik ten Hag pada November 2024 saat pertengahan musim 2024-2025. Pria asal Portugal itu kini dipecat ketika musim 2025-2026 baru setengah jalan.

Quote

Saya tahu nama saya bukan (Thomas) Tuchel atau Jose (Mourinho), tetapi saya adalah manajer dari MU.

Pelatih Manchester United Ruben Amorim berteriak ke pemainnya saat melawan Tottenham Hotspur pada laga Liga Inggris di Stadion Tottenham Hotspur, London, Minggu (16/2/2025). Hotspur menang 1-0 pada laga itu.

Keputusan tersebut diambil manajemen MU tepat sehari setelah Lisandro Martinez dan rekan-rekan ditahan imbang Leeds United, 1-1. Hasil itu kurang baik, tetapi bukan penyebab utama pemecatan Amorim. Alasan terbesarnya adalah pesan ultimatum dari sang pelatih setelah laga.

Amorim menegaskan akan memerankan sosok manajer tim hingga kontraknya habis pada 18 bulan ke depan. Dia tidak ingin sebatas menjadi pelatih kepala, seperti yang dijalani saat ini. Baginya, itu tidak sesuai dengan perjanjian yang ditawarkan pihak MU saat proses negosiasi.

”Saya tahu nama saya bukan (Thomas) Tuchel atau Jose (Mourinho), tetapi saya adalah manajer dari MU. Semua akan tetap seperti itu sampai 18 bulan ke depan atau jika para petinggi memutuskan untuk mengubahnya. Itu adalah kesepakatannya. Itu adalah pekerjaan saya, bukan jadi pelatih,” kata Amori menegaskan.

Pelatih dan manajer memiliki kewenangan berbeda. Pelatih lebih berfokus untuk memimpin pertandingan, seperti penentuan taktik dan pemain. Manajer punya tanggung jawab lebih besar untuk membangun tim secara keseluruhan. Mulai dari terlibat dalam penetuan strategi transfer hingga rencana masa depan tim.

Amorim merasa kewenangannya terlalu dicampuri banyak pihak, terutama dalam pemilihan strategi. Dia kurang didukung dalam penggunaan formasi favoritnya, 3-4-3. ”Semua departemen, dari pemantauan bakat, direktur olahraga, harus melakukan tugasnya masing-masing. Dan, saya akan melakukan tugas saya,” katanya.

Menurut jurnalis spesialis isu transfer, Fabrizio Romano, situasi di dalam MU sangat intens dalam 24 jam terakhir. Amorim tidak puas dengan kepasifan klub dalam mendatangkan pemain baru. Sang pelatih sangat membutuhkan pemain untuk memaksimalkan permainan di sistem 3-4-3.

Penyerang Manchester United Matheus Cunha merayakan golnya ke gawang Leeds United dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Elland Road, Leeds, Inggris, Minggu (4/1/2025). Gol Cunha tidak mampu mengantar MU menang. MU ditahan imbang Leeds 1-1.

Amorim sempat mengutarakan rasa frustrasinya seusai kemenangan atas Newcastle United, akhir Desember. Ketika itu, MU menggunakan formasi empat bek untuk pertama kali di bawah Amorim. Dia membuka peluang untuk tidak lagi memakai formasi tiga bek karena minim dukungan.

”Saya merasa jika kami harus bermain dengan formasi 3-4-3 yang sempurna, kami perlu mengeluarkan banyak uang dan waktu. Saya mulai memahami bahwa itu tidak akan terjadi. Jadi, mungkin saya yang harus beradaptasi,” kata Amorim yang pada akhirnya kembali ke formasi tiga bek seusai laga itu.

Formasi tiga bek ala Amorim sering dikritik karena gagal memberikan hasil terbaik untuk Setan Merah. Hanya saja, skuad MU tampak mulai bisa beradaptasi dengan sistem tersebut belakangan ini. Mereka sudah mampu berada di posisi enam besar liga, tidak lagi di luar 10 besar seperti pada awal musim.

Wayne Rooney, mantan penyerang MU, sudah memprediksi bahwa, setelah ultimatum Amorim, sang pelatih tidak akan bertahan hingga kontrak berakhir. Pesan blak-blakan Amorim memperlihatkan terdapat hubungan yang retak dengan para petinggi klub di belakang layar.

Rooney menilai Amorim belum pantas mengultimatum klub. ”Anda perlu mendapatkan hak untuk bisa mengatur arah klub seperti MU. Dia bukan Pep Guardiola atau Juergen Klopp yang punya sejarah dan latar belakang (mengontrol klub). Jadi, tidak seharusnya dia berbicara seperti itu,” ujarnya di siniar Wayne Rooney Show.

Pelatih Manchester United Ruben Amorim (kanan) menghibur pemain MU Joshua Zirkzee setelah gagal mencetak gol pada adu penalti melawan Fulham pada laga putaran ketiga Piala FA di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (2/3/2025). Fulham menang pada adu penalti dengan skor 4-3 (1-1).

Amorim memimpin total 63 pertandingan bersama Setan Merah. Rekornya tidak terlalu cemerlang, 25 menang, 15 seri, dan 23 kalah. Prestasi terbaik Amorim adalah mengantarkan MU lolos ke final Liga Europa musim lalu. Pelatih 40 tahun itu hanya bertahan kurang dari 14 bulan.

Alhasil, pencarian panjang sosok pelatih terbaik bagi MU masih terus berlanjut. Sudah 10 figur pelatih yang datang sejak kepergian Sir Alex pada 2013, belum ada satu pun yang benar-benar sukses. Amorim menjadi korban terbaru kutukan kursi panas pelatih Setan Merah. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra