MAKAN BERGIZI GRATIS

Sejak 2025, Sebanyak 33.626 Pelajar Jadi Korban Keracunan MBG

Hasil monitoring Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mengungkap sudah 33.626 pelajar mengalami keracunan MBG sejak awal 2025.

09 Apr 2026 13:33 WIB · Kesehatan

KOMPAS/FABIO MARIO LOPES COSTA

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

BANDUNG, KOMPAS — Setidaknya terdapat 33.626 pelajar di Indonesia yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis. Temuan ini berdasarkan hasil monitoring Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) sejak awal tahun 2025 hingga April 2026.

Hasil monitoring JPPI bersumber dari laporan medis. Data korban keracunan diverifikasi langsung melalui catatan medis puskesmas, RSUD, dan rilis resmi dinas kesehatan di tiap wilayah terdampak.

Sebanyak 33.626 pelajar yang menjadi korban keracunan tersebar di 31 provinsi. Data ini terdiri dari 28.103 korban keracunan sepanjang tahun 2025 dan 5.523 korban pada kurun Januari hingga 7 April 2026.

Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji, Kamis (9/4/2026), mengatakan, pihaknya menggunakan tim pemantau di tiap provinsi dalam kegiatan monitoring tersebut.

Pelajar korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di rawat di RSUD Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025). Mayoritas korban mengeluhkan mual, sakit perut, dan beberapa kejang, keram , hingga sesak nafas. RSUD Cililin menjadi rujukan korban keracunan di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Hingga Kamis (22/9/2025) siang tercatat 44 orang masih di rawat di rumah sakit tersebut. Dalam tiga hari terakhir, tercatat hampir 1.000 siswa keracunan akibat sajian MBG.KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS)25-09-2025

Salah satu metode yang digunakan adalah uji sampel acak di lapangan. Pengujian sederhana terhadap kondisi fisik makanan MBG yang meliputi bau, warna, dan tekstur saat tiba di sekolah.

”Metode monitoring lainnya adalah hasil liputan media yang terverifikasi kebenarannya diambil sebagai data valid untuk dianalisis,” ujar Ubaid.

Ubaid menjelaskan, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah korban keracunan MBG tertinggi pada 2025 mencapai 24,34 persen. Adapun Jawa Tengah dengan jumlah korban tertinggi mencapai 29,28 persen pada periode Januari hingga April 2026.

Ia mengungkapkan, selama periode Januari hingga 7 April 2026, tercatat jumlah korban telah mencapai 5.523 jiwa. Jumlah korban tersebut merupakan sinyal bahaya karena menunjukkan bahwa tahun ini berpotensi menjadi jauh lebih buruk dibandingkan tahun 2025.

Salah satu korban keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dirawat di Rumah Sakit Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (4/4/2026). Sebanyak 72 siswa sekolah dasar di Duren Sawit, Jakarta Timur, mengalami keracunan usai menyantap menu MBG. Para siswa yang keracunan itu menyantap menu MBG pada Kamis (2/4/2026) dan mulai mengeluhkan keracunan pada Jumat (3/4/2026).



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

04-04-2026

Menurut Ubaid, hal itu berdasarkan beberapa indikator. Pertama, pada 2025, ribuan kasus baru mulai meledak secara signifikan sejak bulan Agustus. Sebaliknya pada 2026, angka ribuan korban terjadi sejak Januari sebanyak 3.402 orang.

Kedua, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gisi (SPPG) akan terus bertambah secara drastis. Padahal, sebagian besar SPPG belum mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Total 26.097 SPPG yang beroperasi berdasarkan data terkini Badan Gizi Nasional (BGN).

”Dengan jumlah penerima manfaat terus meningkat, dapur-dapur dipaksa memasak porsi yang sangat besar di luar kapasitas idealnya. Hal ini menyebabkan makanan tidak matang sempurna dan waktu tunggu distribusi terlalu lama,” tutur Ubaid.

Ubaid menambahkan, JPPI merekomendasikan agar BGN jangan memaksakan MBG untuk semua anak. Namun, fokus pada anak yang mengalami tengkes (stunting) dan kekurangan gizi.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji saat ditemui di sela acara forum konsultasi publik SPMB di Jakarta, Kamis (30/1/2025).

Rekomendasi berikutnya, kata Ubaid, jangan mengunakan anggaran pendidikan untuk MBG. Sebab, masih ada jutaan anak tidak sekolah, gaji guru yang tidak manusiawi, serta banyaknya infrastruktur sekolah yang rusak dan tidak layak digunakan.

”Jangan izinkan SPPG yang tidak punya SLHS untuk menyediakan MBG. Standar operasional keamanan pangan harus dilaksanakan supaya mencegah kasus keracunan tak terulang lagi,” ucap Ubaid.

Dikembalikan siswa

Sejumlah pelajar SMP di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, mengembalikan paket MBG ke dapur SPPG setempat pada Selasa (7/4/2026). Aksi ini karena para siswa mengeluhkan makanan yang telah berbau.

Aksi para siswa SMP di Desa Citeureup tersebut viral di media sosial. Warganet pun mendukung sikap para siswa sebagai upaya pencegahan agar mereka tidak keracunan karena mengonsumsi makanan yang diduga telah basi.

Peserta membawa poster tuntutan dalam aksi dan piknik ibu-ibu di depan kantor Badan Gizi Nasional, Jakarta, Rabu (15/10/2025). Aksi yang diinisiasi Suara Ibu Indonesia dan sejumlah organisasi perempuan ini menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena maraknya kasus keracunan akibat program tersebut. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, lebih dari 10.482 anak menjadi korban keracunan menu MBG di berbagai daerah.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
15-10-2025

Aparat di Kecamatan Dayeuhkolot segera turun tangan ke SPPG yang menyediakan makanan yang dikembalikan para pelajar di Citeureup.

Adapun menunya adalah nasi ayam bumbu, sayuran, dan buah melon. Untuk sementara, operasional dapur SPPG tersebut telah dihentikan.

Camat Dayeuhkolot Asep Suryadi mengatakan, pihak SPPG terkait telah menyampaikan permintaan maaf dan melakukan evaluasi internal untuk mencegah peristiwa ini tak terulang lagi.

”Saya telah memerintah pengelola SPPG tersebut segera memantau wilayah yang jadi sasaran program MBG dan bertanggung jawab atas masalah tersebut,” ujar Asep.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra