Sekolah berasrama bagi keluarga kurang mampu ini diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan.
14 Jul 2025 14:44 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
PADANG, KOMPAS — Tiga sekolah rakyat dari tingkat SMP hingga SMA mulai beroperasi di Provinsi Sumatera Barat, Senin (14/7/2025). Kehadiran sekolah berasrama bagi anak dari kelurga miskin atau kurang mampu ini diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan.
Kepala Biro Organisasi Sumber Daya Manusia Kementerian Sosial Serimika Br Karo mengatakan, tiga sekolah rakyat itu berada di Universitas Negeri Padang (UNP) untuk tingkat SMA, Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang untuk SMP, dan Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Solok untuk SMP.
”Di UNP ada dua rombel (rombongan belajar) dengan 50 siswa, BBPPKS Padang ada enam rombel dengan 150 siswa, dan BLK Solok empat rombel dengan 100 siswa,” kata Serimika di sela-sela kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di ruang pertemuan asrama SRMA 4 Padang, Senin (14/7/2025).
SRMA 4 Padang menggunakan sebagian ruangan di SMA Pembangunan Laboratorium UNP sebagai kelas. Sementara itu, tempat tinggal siswa menggunakan kamar-kamar di lantai empat Asrama UNP.
Di SRMA 4 Padang, Senin pagi, 31 siswi dan 19 siswa mengikuti MPLS dan peluncuran serentak sekolah rakyat di 63 tempat di Indonesia. Kehadiran peserta didik turut didampingi oleh orangtua atau wali masing-masing.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/14/fc484b5e-29f1-4259-8340-b72bd0548f6b_jpg.jpg)
Selepas peluncuran, siswa diantarkan ke kamar asrama masing-masing dengan kapasitas empat siswa per kamar. Dibantu orangtua atau wali masing-masing, siswa mengangkut koper dan barang kebutuhan lainnya yang dibawa dari rumah.
Menurut Serimika, siswa sekolah rakyat mendapatkan fasilitas pendidikan gratis dari pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Semuanya mendapat seragam, peralatan sekolah, makan, dan tempat tidur gratis.
”Pokoknya tidak ada yang berbayar. Sekolah rakyat ini memang untuk anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem atau desil I dan desil II,” ujar Serimika.
Serimika menjelaskan, sekolah rakyat tetap mengadopsi kurikulum yang sama dengan sekolah umum secara nasional. Bedanya, sekolah ini memberikan fasilitas asrama. Waktu luang siswa di luar jam belajar sekolah akan diisi oleh kegiatan-kegiatan positif di asrama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/14/89bc3e54-a8ec-4472-b306-7f71bd720996_jpg.jpg)
Dilanjutkan Serimika, sekolah rakyat ini merupakan bentuk upaya Presiden Prabowo memuliakan keluarga miskin. Melalui pendidikan gratis di sekolah rakyat, Presiden hendak memutus mata rantai kemiskinan.
”Sebagaimana sering disampaikan Presiden dan Gus Menteri, kalau orangtuanya kuli, anaknya tidak boleh jadi kuli. Mereka harus benar-benar dapat memberikan hal yang luar biasa dalam keluarga sehingga keluarga mereka bisa terangkat oleh anak yang dididik di sekolah rakyat tersebut,” katanya.
Hendrizal (56), orangtua siswa dari Kecamatan Padang Timur, merasa sangat terbantu dengan kehadiran sekolah rakyat ini. Ia pun berharap putra bungsunya dari lima bersaudara, Felix Gema Mahendri (16), bisa beradaptasi dan betah menempuh pendidikan di sekolah berasrama ini.
”Saya sangat terbantu dengan sekolah rakyat ini. Anak bisa sekolah gratis. Sekarang saya banyak di rumah, tidak bisa kerja berat karena sakit. Kebutuhan rumah dibantu anak-anak saya lainnya,” kata mantan juru parkir yang berperan sebagai orangtua tunggal ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/14/c93ac02d-7860-481c-adb8-8434184e743f_jpg.jpg)
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Barlius mengatakan, sekolah rakyat ini adalah sekolah unggul untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Di sekolah umum, hal ini belum terakomodasi. Belum ada sekolah berasrama khusus bagi anak-anak kurang mampu.
”Pemerintah menaruh perhatian serius kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu dengan memberikan pendidikan khusus berasrama, 24 jam, diatur pendidikannya, supaya tahun 2045 anak-anak ini bisa menjadi kader pemimpin bangsa,” kata Barlius yang datang mewakili Gubernur Sumbar di SRMA 4 Padang.
Barlius pun berpesan kepada kepala sekolah bersungguh-sungguh memimpin SRMA 4 Padang. Sekolah berasrama berbeda dengan sekolah biasa karena harus memantau siswanya selama 24 jam.
”Tidak boleh ada kekerasan dan bullying di sekolah ini, semuanya harus dipantau. Para siswa juga diberikan keunggulan-keunggulan pada malam hari, misalnya tahfiz Al Quran atau kompetensi lainnya,” katanya.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nur Adji