Teguran dari Sekretaris Kabinet Mayor Teddy relatif efektif, tetapi dinilai menimbulkan kerancuan. Mengapa?
05 Des 2024 12:05 WIB · Politik & Hukum
Nama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya atau dikenal sebagai Mayor Teddy kembali mencuat dalam perbincangan publik di media sosial. Beberapa warganet ikut menyebut Teddy ketika mengkritik permintaan maaf dari Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan Miftah Maulana Habiburrahman kepada pedagang es teh bernama Sunhaji.
Hal itu lantaran Miftah Maulana atau dikenal sebagai Gus Miftah baru meminta maaf kepada Sunhaji setelah mendapat teguran dari Teddy, Selasa (3/12/2024). Padahal, ”candaan” kepada Sunhaji dilontarkan Miftah saat pengajian yang berlangsung pada Rabu (20/11/2024). Sementara potongan video Miftah itu sudah viral di media sosial sejak awal pekan ini.
”Saya juga sudah ditegur oleh Bapak Seskab yang hari ini berada di Kupang untuk lebih berhati-hati menyampaikan pendapat dan pidato di depan masyarakat umum,” kata Miftah dalam keterangan video yang dibuat Selasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/22/b4be6ec2-bee7-4c58-bab4-2e9acc81ae50_jpg.jpg)
Kepala Kantor Kepresidenan Hasan Nasbi mengatakan, teguran yang disampaikan oleh Teddy sebenarnya merupakan teguran dari Presiden Prabowo. Presiden Prabowo juga telah mendapatkan laporan bahwa Miftah telah meminta maaf kepada Sunhaji secara langsung ke rumahnya yang berada di Magelang.
”Presiden sudah memberikan teguran kepada yang bersangkutan melalui Sekretaris Kabinet untuk segera meminta maaf kepada Bapak Sunhaji yang mungkin saja dan sangat mungkin terluka perasaannya karena kejadian kemarin,” katanya.
Hasan melanjutkan, semua anggota Kabinet Merah Putih mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kejadian tersebut. Semua pihak harus berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan, menjaga sikap, apalagi terhadap rakyat kecil yang sedang berjuang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
”Dan, ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga, tidak hanya bagi utusan khusus Presiden, tapi buat kami semua di kalangan pemerintahan,” ucap Hasan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/23/e15267ea-698a-4bb3-983c-50bb5d454d68_jpg.jpg)
Miftah bukan satu-satunya anggota kabinet yang pernah mendapat teguran dari Mayor Teddy. Sejak Kabinet Merah Putih dilantik sekitar 1,5 bulan lalu, beberapa menteri pernah ditegur oleh Teddy karena perilakunya yang menuai respons negatif dari publik sehingga menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Sebagian teguran itu terkonfirmasi dari pernyataan anggota kabinet yang ditegur.
Salah satunya saat sehari setelah menteri-menteri di Kabinet Merah Putih dilantik, Rabu (22/10/2024), Teddy mengirimkan pesan berantai melalui aplikasi percakapan Whatsapp kepada semua menteri.
Ia mengingatkan menteri-menteri untuk berhati-hati dalam membuat surat atas nama/kop/stempel kementerian dan tanda tangan menteri terkait acara pribadi. Ia meminta menteri menghindari hal-hal yang berpotensi menjadi polemik di masyarakat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/22/d48dd6d7-d48e-42a4-b8e3-98e32c8c5d6d_jpeg.jpg)
Selain itu, Teddy mengingatkan menteri agar mengingatkan bagian humas atau media untuk lebih berhati-hati sehingga mencegah peretasan atau pengambilan website atau media sosial resmi di kementerian masing-masing.
Teguran Teddy itu menyusul kegaduhan yang ditimbulkan oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto. Kala itu, viral beredar undangan peringatan haul ke-2 ibu Yandri untuk perangkat desa yang dibuat dengan kop resmi Kemendes.
Peneliti di Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Nicky Fahrizal, mengatakan, teguran yang diberikan oleh Mayor Teddy kepada anggota kabinet relatif bakal efektif. Sebab, pesan itu disampaikan oleh Teddy yang dikenal dekat dengan Presiden Prabowo. Teddy bahkan pernah menjadi ajudan Prabowo dan sering kali ditugaskan membawa pesan dari Prabowo.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/15/2aa04a48-204e-4142-91ef-d8b20427df3f_png.jpg)
”Kalau dari aspek taktikal, teguran dari Mayor Teddy ke anggota kabinet bakal efektif karena dianggap dekat dengan Presiden Prabowo,” ujar Nicky.
Namun, di sisi lain, ada kerancuan dari peran yang dilakukan oleh Teddy. Sebab, tugas untuk memberikan teguran semestinya dilakukan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi atau menteri koordinator yang mengoordinasi kementerian teknis.
Dalam kasus Miftah, Nicky menilai, Presiden Prabowo semestinya menugaskan Prasetyo untuk menegur Miftah. Hal ini karena posisi utusan khusus presiden berada langsung di bawah presiden. Sementara teguran untuk Yandri semestinya diberikan melalui Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/29/6220ad04-82b9-4da0-8e2b-eb718feaad5f_jpg.jpg)
Terlebih, posisi Seskab di era pemerintahan Presiden Prabowo juga berubah. Seskab kini berada di bawah Kemensetneg dan jabatan yang diemban Teddy setara pejabat eselon II. Namun, dalam praktiknya, Teddy justru lebih menonjol dengan memberikan teguran-teguran kepada anggota kabinet dibandingkan dengan Prasetyo.
”Di zaman ini, saya tidak bisa membedakan Mayor Teddy berfungsi sebagai Seskab atau ajudan Presiden Prabowo,” kata Nicky.
Terlepas dari siapa ”pembawa pesan” teguran dari Presiden Prabowo, tindak-tanduk dan etika dari pejabat publik tetap senantiasa penting untuk terus diingatkan. Hal ini termasuk langsung oleh Presiden Prabowo. Dengan demikian, langkah, ucapan, dan tindakan para pembantunya tak menimbulkan kegaduhan di publik di tengah upaya pemerintah tancap gas mewujudkan janji-janjinya.
Penulis:
Iqbal BasyariEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .