Selain Tetapkan Tarif 25 Persen, Trump Juga Ancam Kenakan Denda untuk India

Pemerintah India masih mempelajari implikasi dari pengenaan tarif tersebut. Namun, nilai tukar rupee India merosot dan harga saham berjangka anjlok usai pengumuman.

31 Jul 2025 09:29 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

WASHINGTON DC, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan akan mengenakan tarif 25 persen kepada India mulai 1 Agustus 2025. Tarif kepada India relatif tinggi lantaran Trump melibatkan faktor Rusia serta hambatan yang selama ini diberlakukan India atas produk AS.

Tekanan tarif pada India akan makin kuat lantaran Trump akan mengenakan denda tambahan kepada India atas pembelian persenjataan dan energi dari Rusia. Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui media sosial Truth Social, Rabu (30/7/2025). Besaran tarif 25 persen ini hanya sedikit lebih rendah dibandingkan tarif 26 persen yang dikenakan Trump kepada India di ”Hari Pembebasan” pada awal April lalu.

Namun, besaran tarif kepada India tersebut tetap lebih tinggi daripada tarif kepada negara-negara Asia lainnya yang sudah mencapai kesepakatan dengan Washington. Sejumlah negara yang sudah mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS di antaranya Uni Eropa, Jepang, Filipina, dan Indonesia.

Bagi India, merujuk laporan Bloomberg, Kamis (31/7/2025), pengenaan tarif itu memupus harapan New Delhi mendapatkan perlakuan istimewa atas rekan-rekannya di Asia. Rata-rata sejumlah negara di Asia mendapatkan tarif berkisar 15-20 persen.

Faktor ”pemberat”

Dalam unggahannya, Trump menulis, ”Ingat, meskipun India adalah teman kita, selama bertahun-tahun kita hanya berbisnis relatif sedikit dengan mereka karena tarif mereka terlalu tinggi, termasuk yang tertinggi di dunia. Mereka memiliki hambatan perdagangan non-moneter yang paling berat dan menyebalkan dibandingkan negara mana pun.”

Selain itu, Trump juga mencatat bahwa India selalu membeli sebagian besar peralatan militer mereka dari Rusia. Dan, sebagaimana China, India pun merupakan pelanggan besar produk energi Rusia. ”Untuk itu, selain tarif 25 persen, India juga akan membayar denda dari semua hal di atas mulai 1 Agustus (2025),” kata Trump.

(FILES) A woman labourer sits on the sacks of onions at a wholesale vegetable market in Jalandhar on April 3, 2025. US President Donald Trump said on July 30, 2025 that imports from India will face 25 percent tariffs, while also announcing an unspecified "penalty" over New Delhi's purchases of Russian weapons and energy. (Photo by Shammi MEHRA / AFP)

Pada Rabu malam, kepada para wartawan, Trump mengatakan bahwa perundingan mengenai tarif sedang berlangsung. ”Kita lihat saja apa yang terjadi,” kata Trump tanpa merinci sanksi itu.

Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, mengatakan, Trump dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer akan mengumumkan tarif terkait Rusia terhadap India di kemudian hari. Sejauh ini, India dan AS sudah melakoni lima putaran perundingan perdagangan bilateral sejak Februari lalu.

Kementerian Perdagangan India menyatakan, India dan AS terus bernegosiasi untuk mencapai perjanjian perdagangan bilateral yang adil, seimbang, dan saling menguntungkan selama beberapa bulan terakhir. Perundingan dagang kedua negara akan terus berlanjut sampai dengan musim gugur ini. New Delhi mengatakan untuk terus berkomitmen pada tujuan tersebut.

Namun, kesepakatan seperti sulit dicapai. Trump mengajukan tuntutan yang lebih berat seperti mengupayakan akses pasar yang lebih besar dan tarif nol untuk hampir semua ekspor AS. Menurut Biro Sensus AS, tahun lalu AS mencatat defisit perdagangan barang sebesar 45,8 miliar dollar AS dengan India. Artinya, AS mengimpor lebih banyak daripada mengekspor.

Senyampang itu, India enggan membuka pintu sejumlah sektor, seperti pertanian dan peternakan sapi perah, untuk produk AS. Faktor itu yang diduga menghalangi New Delhi mencapai kesepakatan.

(FILES) A farmer sprinkles fertiliser in a paddy field on the outskirts of Amritsar on July 5, 2025. US President Donald Trump said on July 30, 2025 that imports from India will face 25 percent tariffs, while also announcing an unspecified "penalty" over New Delhi's purchases of Russian weapons and energy. (Photo by Narinder NANU / AFP)

Menyikapi tarif Trump, Pemerintah India menyatakan akan mempelajari implikasi dari pengenaan tarif 25 persen. Bloomberg melaporkan, nilai tukar rupee India merosot, jatuh ke level terendah dalam lima bulan terakhir. Harga saham berjangka pun turun.

”Tarif baru ini dapat merugikan India di pasar AS dibandingkan dengan Vietnam, Bangladesh, dan mungkin China,” kata Ajay Sahai, Direktur Jenderal Federasi Organisasi Ekspor India. ”Kita kembali ke titik awal karena Trump belum menjelaskan sanksi apa yang akan dikenakan selain tarif. Permintaan barang-barang India pasti akan terpukul,” imbuhnya.

Selain itu, bagi India, implikasi tarif baru dari Trump dapat mempersulit rencana New Delhi untuk menggandakan perdagangan bilateral AS-India menjadi 500 miliar dollar AS pada tahun 2030. Meski demikian, Madhavi Arora, ekonom pada Emkay Global Financial Services Ltd, berpandangan lain.

”Meskipun perundingan dagang sepertinya menemui jalan buntu antara kedua negara, yang menyebabkan AS memberikan sanksi kepada India, kami berpendapat bahwa babak dagang dan tawar-menawar kesepakatan belum sepenuhnya berakhir. Ada juga sudut pandang geopolitik global dalam perundingan dagang ini, di luar sudut pandang ekonomi semata,” kata Arora.

(FILES) A train transports containers in Ajmer on July 7, 2025. US President Donald Trump said on July 30, 2025 that imports from India will face 25 percent tariffs, while also announcing an unspecified "penalty" over New Delhi's purchases of Russian weapons and energy. (Photo by HIMANSHU SHARMA / AFP)

Denda tambahan

Selain kepada India, AS juga mengancam China dengan sanksi sekunder karena membeli minyak dari Rusia. Washington berpandangan, pembelian minyak oleh India dan China merupakan bentuk dukungan kepada Rusia. Pembelian minyak itu dipandang memperkuat Rusia menghadapi sanksi Barat yang berat.

Langkah memberikan denda tambahan kepada India menjadi cara Trump memperketat tekanan AS terhadap Moskwa. Tekanan diharapkan dapat menghentikan pertempuran di Ukraina dan merundingkan kesepakatan damai.

Pada hari Selasa lalu, Trump mengatakan, pihaknya memberi Presiden Rusia Vladimir Putin 10 hari untuk mengubah arah di Ukraina atau menghadapi tarif baru. Batas waktu 10 hari itu akan berakhir pekan depan. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto