TIMUR TENGAH

Selat Bab el-Mandeb Terancam Jadi ”Hormuz Kedua”

Harapan meredanya konflik di Timur Tengah masih dibayangi ancaman terhadap keamanan jalur pelayaran internasional di Laut Merah. Houthi ingin meniru strategi Iran.

28 Jul 2026 08:00 WIB · Internasional

AFP/Khaled ZIAD

Oleh Luki Aulia

RIYADH, SELASA — Ancaman terhadap jalur pelayaran dunia kembali meningkat. Kelompok Houthi di Yaman berupaya menjadikan Laut Merah sebagai ”Hormuz kedua” melalui penguasaan Selat Bab el-Mandeb. Eskalasi itu terjadi justru ketika Amerika Serikat dan Iran membuka kembali ruang dialog untuk mencari penyelesaian konflik yang sudah berlangsung selama lima bulan.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menilai Houthi tengah meniru strategi Iran dalam menggunakan Selat Hormuz sebagai alat penekan terhadap pelayaran internasional. Menteri Luar Negeri Yaman Afrah al-Zouba mengatakan, Houthi ingin mengendalikan Bab el-Mandeb yang merupakan pintu masuk ke Laut Merah, sebagaimana Iran mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz.

”Jika strategi itu berhasil, dua jalur pelayaran paling penting di kawasan itu akan sama-sama berada di bawah tekanan kelompok yang bersekutu dengan Iran,” kata Zouba, sebagaimana dilaporkan Reuters, Selasa (28/7/2026).

Zouba mengatakan, Houthi menjadi semakin berani karena menganggap respons komunitas internasional terhadap serangan pada pelayaran komersial selama setahun terakhir tidak tegas. Ia menuduh Houthi kini berupaya menguasai Laut Merah dan menyelaraskan eskalasinya dengan strategi regional Iran.

Ketegangan meningkat setelah pada pekan lalu Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Mereka mengklaim menyerang kapal tanker serta infrastruktur minyak Arab Saudi.

A handout image made available by the Ansarullah Media Center on July 26, 2026, shows what Iran-backed Houthi rebels say is the wreckage of a downed Saudi drone, in the northwest of Yemen's al-Jawf governorate. Iran-backed Houthi rebels said on July 26, 2026, they downed a Saudi drone over the northwest of Yemen, a day after the Yemeni group claimed it attacked oil facilities in the Gulf kingdom. (Photo by Handout / Ansarullah media center / AFP) /

Houthi, Senin, kembali menyatakan telah menargetkan Jalur Pipa Timur-Barat yang menyalurkan minyak ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah sebagai balasan atas serangan pesawat nirawak Arab Saudi. Sejumlah pesawat nirawak berhasil dicegat Arab Saudi saat pesawat-pesawat nirawak itu mengarah ke fasilitas minyak, termasuk di sekitar Riyadh. Arab Saudi menyatakan, serangan itu diluncurkan dari Irak oleh kelompok bersenjata yang didukung Iran dan serangan itu akan dibalas.

Situasi itu memunculkan kekhawatiran konflik di Yaman akan kembali membesar. Perang yang pecah sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014 telah menewaskan ratusan ribu orang dan memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015.

Meski gencatan senjata dicapai pada 2022, bentrokan lintas perbatasan dan kontak senjata di berbagai garis depan kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Menurut Zouba, bentrokan terjadi hampir setiap hari di sejumlah wilayah Yaman, tetapi berlum berkembang menjadi pertikaian besar. Meski begitu, Pemerintah Yaman akan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

”Kami siap menghadapi eskalasi apa pun. Pemerintah tetap ingin konflik berakhir melalui jalur damai. Akan tetapi, kami siap juga dengan pilihan lain apabila diperlukan,” kata Zouba.

Buka diplomasi

Selat Bab el-Mandeb punya arti strategis bagi perdagangan dunia karena menjadi pintu masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez. Jalur pelayaran sempit itu juga semakin penting bagi ekspor minyak Arab Saudi setelah lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz berkali-kali terganggu akibat ketegangan antara Iran dan AS. Ironisnya, meningkatnya ancaman di Laut Merah terjadi ketika AS dan Iran kembali menunjukkan sinyal diplomasi.

Vessels transit the Bab el-Mandeb Strait off the coast of southern Yemen on July 25, 2026. A spokesman for Yemen's Houthis had said on July 24 that the rebels were not blocking traffic through the strategic Bab al-Mandeb Strait, after they declared a maritime embargo this week on their foe Saudi Arabia. The Iran-backed group attacked a Saudi ship in the nearby Red Sea after announcing the blockade, which threatens the top oil exporter's ability to get its supplies to the world following Iran's parallel blockade of the Strait of Hormuz, the kingdom's only other maritime route. (Photo by Khaled ZIAD / AFP) /

Presiden AS Donald Trump mengatakan, AS sedang menggelar ”pembicaraan yang baik” dengan Iran dan melihat peluang tercapainya kesepakatan. ”Saya pikir ada peluang bagus bahwa sesuatu bisa terjadi. Jika berhasil, itu bagus. Jika tidak, kami akan kembali melakukan apa yang kami lakukan dua hari lalu,” ujarnya.

Trump menegaskan, serangan militer AS terhadap Iran dapat kembali dilanjutkan apabila perundingan gagal menghasilkan kesepakatan. Namun, untuk sementara AS menghentikan serangan udaranya selama dua pekan yang sebelumnya menyasar berbagai sasaran di Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan, komunikasi antara kedua pihak masih berlangsung melalui mediator dan Iran tidak meninggalkan jalur diplomasi. Seorang pejabat senior Iran juga mengatakan bahwa Iran akan menahan serangan selama gencatan senjata yang diumumkan Trump tetap dipertahankan.

Meski demikian, ketegangan belum juga mereda. Komando militer Iran menuding AS berupaya menerapkan blokade maritim ilegal terhadap kapal-kapal Iran di perairan teritorialnya. Iran juga kembali menegaskan bahwa mereka tetap mengendalikan Selat Hormuz.

Media Pemerintah Iran melaporkan, ada enam kapal yang disebut melakukan pelanggaran dan telah dipaksa berbalik saat mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Sampai sekarang, AS dan Iran masih berbeda tafsir mengenai rancangan kesepakatan yang akan dibahas pada putaran negosiasi berikutnya, terutama terkait kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Di tengah terbukanya kembali peluang dialog AS-Iran, ancaman Houthi terhadap Selat Bab el-Mandeb memperlihatkan bahwa ketegangan di kawasan tidak lagi hanya bergantung pada hubungan AS dan Iran. Laut Merah kini berpotensi menjadi titik tekanan baru terhadap perdagangan dan pasokan energi global, menyusul berlanjutnya persaingan pengaruh Iran dan sekutu-sekutunya di kawasan. (REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase