Gagalnya perundingan Amerika Serikat dan Iran pada Sabtu (11/4/2026) lalu di Islamabad, Pakistan, membuat situasi di Selat Hormuz memanas.
14 Apr 2026 17:12 WIB · Ekonomi & Bisnis
AFP
Hal-hal yang dapat dipelajari dari artikel ini:
1. Apa yang membuat Selat Hormuz terancam kembali ditutup?
2. Berapa harga minyak dunia saat ini?
3. Apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia jika harga minyak terus melonjak?
4. Bahan baku apa yang saat ini sudah terancam oleh konflik Timur Tengah?
5. Seperti apa efek domino dari kenaikan minyak dunia?
Kondisi konflik di Timur Tengah masih dilingkupi ketidakpastian. Gagalnya perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Sabtu (11/4/2026) lalu di Islamabad, Pakistan, membuat situasi di Selat Hormuz kian memanas.
Padahal, sebelumnya, situasi sempat melandai setelah AS-Iran menyepakati gencatan senjata untuk dua minggu. Setelah kesepakatan gencatan senjata saat itu, harga minyak dunia yang sebelumnya sempat menembus 100 dolar AS per barel akibat perang mulai melandai kembali ke kisaran 95-98 dolar AS per barel.
Namun, gagalnya perundingan terbaru di Islamad membuat Selat Hormuz kembali terancam ditutup. Bahkan, AS dan Iran akan saling memblokade selat yang menjadi jalur vital energi global tersebut. Kebijakan itu disebut sebagai langkah untuk menekan Iran agar setuju mengakhiri konflik.
Harga minyak pada awal pekan ini pun kembali naik menembus 100 dolar AS per barel. Harga minyak diperkirakan akan terus tinggi hingga lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali normal. Bahkan, harga minyak berpotensi mencapai puncak tertinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Meski sempat melonjak pada awal pekan, dalam perdagangan Selasa (14/4/2025), harga minyak dunia kembali menurun seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat blokade AS di Selat Hormuz.
Mengutip data Trading Economics, harga minyak dunia pada Selasa terkoreksi 2,04 persen secara harian menyentuh 97 dolar AS per barel untuk West Texas Intermediate (WTI). Sementara itu, harga minyak Brent terkoreksi 0,67 persen secara harian dan menyentuh 98,7 dolar AS per barel.
Sejumlah analis memperkirakan ketidakpastian distribusi energi melalui Selat Hormuz yang berkepanjangan akan mendorong kenaikan harga minyak. Jika perang dan blokade berlangsung lebih dari tiga bulan, rantai pasok energi dunia akan menghadapi masalah pasokan yang lebih serius.
Dari sisi sektor riil, harga minyak dunia yang tinggi berpotensi memicu tekanan inflasi jangka pendek, khususnya pada komponen transportasi dan logistik. Ini pada akhirnya akan membawa dampak lanjutan terhadap daya beli masyarakat serta margin sektor-sektor berbasis konsumsi.
Di sisi lain, eskalasi konflik Timur Tengah yang belum usai juga berisiko membuat pasar keuangan dilingkupi ketidakpastian panjang. Permintaan terhadap dolar AS dan aset safe haven lain cenderung menguat. Kondisi ini ikut mendorong arus dana keluar dari pasar saham Indonesia dan semakin melemahkan nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, pada Selasa, nilai tukar rupiah melemah 0,08 persen dari sehari sebelumnya, dari Rp 17.122 per dolar AS menjadi Rp 17.135 per dolar AS. Ini merupakan posisi rupiah terlemah sepanjang masa.
Imbas konflik di Timur Tengah, harga bahan baku plastik merangkak naik. Nafta, bahan baku plastik, secara langsung terdampak oleh kenaikan harga minyak dunia karena merupakan hasil pemrosesan minyak mentah.
Berdasarkan data Trading Economics, harga nafta tercatat telah menyentuh 901,9 dolar AS per ton pada 10 April 2026 atau naik 5,7 poin dari posisi akhir Maret. Bahkan, harga tersebut melonjak lebih dari 50 persen sejak eskalasi konflik dimulai akhir Februari lalu.
Gangguan pasokan dan kenaikan harga nafta ini pada akhirnya mendorong kenaikan harga plastik dan berbagai produk yang memakai kemasan plastik di pasaran. Sejumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pun sudah menaikkan harga produk kemasan secara bertahap sejak awal Maret lalu dan terus meningkat secara signifikan setelah libur Lebaran.
Kenaikan harga minyak dunia membawa efek domino yang luas terhadap berbagai produk pangan. Sebagai contoh, harga plastik yang meningkat ikut membuat harga beras medium dan premium di pasaran meningkat.
Pelaku industri perberasan di Tanah Air mulai mengkhawatirkan terjadinya kelangkaan plastik kemasan yang dapat menghambat distribusi dan melambungkan harga beras. Jumlah daerah di Indonesia yang mengalami kenaikan harga beras pun bertambah dalam sepekan terakhir, dari 72 kabupaten/kota menjadi 83 kabupaten/kota.
Harga minyak goreng, terutama premium, juga terdampak oleh kenaikan harga plastik kemasan, serta kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO).
Untuk mengatasi naiknya harga minyak goreng premium itu, pemerintah memperkuat pasokan dan distribusi Minyakita melalui kebijakan kewajiban memasok kebutuhan domestik (DMO) Minyakita minimal sebesar 35 persen melalui Perum Bulog dan ID Food.
Penulis:
Aguido Adri, Hendriyo Widi, Tatang Mulyana Sinaga, Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul