Video unggahan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menuai kecaman dari seluruh dunia. Perlakuannya kepada para aktivis yang ditahan dinilai keterlaluan.
21 Mei 2026 11:38 WIB · Internasional
(AFP/SEBASTIEN BOZON)
JERUSALEM, RABU — Kelakuan Israel sudah di luar akal sehat dan tak bisa ditoleransi. Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, mengunggah rekaman video yang menunjukkan puluhan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan dalam kondisi berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung dan dahi menempel di tanah, menyerupai bersujud.
Mereka berada di dek kapal militer dan terdengar lagu kebangsaan Israel di latar belakang. Video itu dipublikasikan Gvir melalui akun platform media sosial X, Rabu (20/5/2026), dengan keterangan foto ”Selamat Datang di Israel, Kami adalah Tuan Tanahnya”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/21/4bb92d81d67d5db01bc956bed0362584-wires_photo_23.jpg)
Video unggahan Ben-Gvir menuai kemarahan dan kecaman dari berbagai negara. Kecaman bahkan datang dari dalam Israel sendiri. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, meskipun Israel memiliki hak penuh untuk menghentikan ”armada provokatif pendukung Hamas”, cara Ben-Gvir menangani para aktivis itu tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel.
Netanyahu mengaku sudah memberikan instruksi agar para aktivis dideportasi sesegera mungkin. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar juga mengecam video itu dan menuding Ben-Gvir sengaja mencederai Israel.
”Anda dengan sengaja menyebabkan kerugian bagi negara kita dalam pertunjukan yang memalukan ini. Dan ini bukan pertama kalinya. Anda sudah merusak upaya luar biasa, profesional, dan sukses yang dilakukan oleh begitu banyak orang, dari tentara hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak lainnya. Tidak, Anda bukanlah wajah Israel,” tulis Saar di X, Rabu.
Ben-Gvir membalas Saar di parlemen Israel dengan menuduhnya sudah ”tunduk kepada teroris” dan bahwa permintaan maaf Israel kepada para aktivis akan mengirimkan pesan ”kelemahan”, ”penyerahan diri”, dan ”pengabaian”.
Dalam video itu, Ben-Gvir menunjukkan dirinya sedang berjalan di antara sekitar 430 aktivis yang ditahan. Dalam salah satu video, para aktivis yang diborgol berteriak ”Bebaskan Palestina” saat Ben-Gvir berjalan melewatinya. Aktivis itu seketika didorong ke tanah oleh petugas keamanan Israel.
Dalam video lain, Ben-Gvir mengatakan para aktivis datang ke sini dengan penuh kebanggaan seperti pahlawan besar. ”Lihatlah mereka sekarang. Lihat bagaimana penampilan mereka sekarang, bukan pahlawan dan bukan apa-apa,” kata Ben-Gvir. Ia juga meminta Netanyahu untuk memberinya izin memenjarakan para aktivis kemanusiaan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/18/2ee03f6f0fe362f9a764a7fd34ed93b3-Gaza_Flotilla_Intercepted_138348887.jpg)
”Saya katakan kepada Perdana Menteri Netanyahu, serahkan mereka kepada saya untuk waktu yang sangat lama, serahkan mereka kepada kami untuk penjara teroris,” ujarnya.
Armada Global Sumud Flotilla yang berlayar dari Turki berupaya mengirimkan bantuan ke Gaza setelah misi sebelumnya juga dicegat oleh Israel. Mereka hendak mematahkan blokade Israel terhadap Gaza untuk memberikan bantuan kemanusiaan yang masih sangat dibutuhkan warga Gaza.
Israel menyatakan blokade angkatan lautnya terhadap Gaza adalah sah. Para aktivis yang ikut armada itu sebelumnya juga dideportasi setelah ditahan.
Israel mengatakan para aktivis yang baru ditahan itu akan diizinkan bertemu dengan perwakilan konsuler mereka setelah tiba di Israel. Menurut pihak penyelenggara armada itu, para peserta berasal dari 40 negara di atas 50 kapal.
Kelompok hak asasi manusia Israel, Adalah, menyebutkan para aktivis ditahan di pelabuhan Ashdod. Penyelenggara armada tersebut mengatakan para aktivis akan dibawa ke penjara Ketziot di gurun Negev selatan Israel dan pengacara Adalah tidak akan dapat menemui mereka sampai mereka tiba di Ketziot.
Perlakuan Ben-Gvir terhadap para aktivis menuai kecaman dari seluruh dunia, antara lain Indonesia, Italia, Turki, Irlandia, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Belgia, Kanada, Spanyol, Portugal, Yunani, Belanda, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/21/610cf257e78bd47e09653c8a20a50ee7-wires_photo_21.jpg)
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam perlakuan Israel terhadap para aktivis sebagai pelanggaran martabat manusia. Italia akan segera membebaskan warga negaranya dan menuntut permintaan maaf resmi dari Israel. Italia juga akan memanggil duta besar Israel untuk meminta klarifikasi resmi atas insiden tersebut.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani juga berbicara dengan Menlu Saar dan mendesak agar warganya—termasuk seorang anggota parlemen dan wartawan—cepat dibebaskan dan hak-hak serta keselamatan mereka dijamin.
Menlu Kanada Anita Anand juga sudah memanggil dubes Israel di Ottawa. Di Paris, Menlu Perancis Jean-Noel Barrot memanggil dubes Israel untuk menyampaikan kecaman keras dan mendapatkan penjelasan karena insiden ini dinilai tidak dapat diterima.
Menlu Belgia Maxime Prevot pun akan memanggil dubes Israel dan meminta semua aktivis segera dibebaskan. ”Warga negara Belgia termasuk di antara mereka yang ditahan. Situasi ini tidak dapat diterima. Ini melanggar standar martabat manusia yang paling mendasar. Semua tahanan harus diperlakukan dengan bermartabat dan dibebaskan tanpa penundaan,” tulis Prevot di X.
Lebih dari selusin warga Irlandia juga berada di atas armada tersebut, termasuk saudara perempuan Presiden Irlandia Catherine Connolly. PM Irlandia Micheál Martin menyebut pencegatan perahu oleh Israel di perairan internasional itu tidak bisa diterima. Menlu Inggris Yvette Cooper juga menuntut penjelasan dari Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/18/4231e5f9288cb2b08bc9ff7f8ecca4b8-Turkey_Gaza_Flotilla_138232519.jpg)
Turki dan kelompok Hamas menyebut pencegatan Israel tersebut sebagai pembajakan. Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan perilaku Israel itu secara terbuka menunjukkan kepada dunia pola pikir kekerasan dan kebiadaban mereka. Komisaris Eropa Hadja Lahbib menegaskan tidak ada seorang pun yang boleh dihukum karena membela kemanusiaan.
Presiden Korsel Lee Jae Myung mengatakan ada warganya yang juga ditahan Israel dan perilaku Israel itu sudah sangat di luar batas. ”Apa dasar hukumnya untuk penangkapan itu? Apakah itu perairan teritorial Israel? Apakah itu tanah Israel? Jika ada konflik, dapatkah mereka menyita dan menahan kapal negara ketiga?” gugat Lee.
Menlu Selandia Baru Winston Peters juga menyatakan akan memanggil dubes Israel karena ada tiga warga Selandia Baru yang ditahan Israel. Ia berharap Israel mematuhi kewajiban hukum internasionalnya, termasuk dalam perlakuannya terhadap warga Selandia Baru.
”Tahun lalu, Selandia Baru memberlakukan larangan perjalanan terhadap Menteri Ben-Gvir karena secara serius dan sengaja merusak perdamaian dan keamanan serta menghilangkan prospek solusi dua negara. Perilakunya sekarang memperkuat posisi kami,” ujarnya.
Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee juga mengecam tindakan tercela Israel dan menilai Ben-Gvir sudah mengkhianati martabat bangsanya. Namun, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap beberapa aktivis Eropa yang berada di atas armada tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut mereka ”pro-teror”. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar