Hasil perempat final Liga Champions menjadikan semifinal kian menarik. Untuk pertama kali sejak 2017-2018, semifinal diisi tim-tim dari negara berbeda.
17 Apr 2025 15:59 WIB · Olahraga
MADRID, KAMIS — Babak perempat final Liga Champions Eropa telah rampung dengan meloloskan Barcelona, Paris Saint-Germain, Inter Milan, dan Arsenal ke semifinal. Kelolosan keempat tim tersebut mewujudkan semifinal terliar Liga Champions dalam tujuh tahun terakhir. Sejak 2017-2018, semifinal belum pernah lagi diisi empat tim yang datang dari negara berbeda.
Barca, PSG, Inter, dan Arsenal merupakan wajah dari empat liga teratas Eropa. Barca membawa bendera Liga Spanyol, sedangkan PSG mewakili Perancis. Adapun Inter menjaga martabat Liga Italia, sementara Arsenal meneruskan eksistensi Liga Inggris.
Semifinal pun diprediksi berlangsung kian menarik karena ditopang latar belakang keempat tim. Mereka dipercaya bakal bertarung habis-habisan karena juga memikul nama negara. Kondisi seperti ini tidak sering terjadi.
Terakhir kali semifinalis berasal dari empat negara berbeda adalah pada musim 2017-2018. Kala itu, AS Roma (Italia), Real Madrid (Spanyol), Bayern Muenchen (Jerman), dan Liverpool (Inggris) merepresentasikan negara masing-masing.
Setelah musim 2017-2018, ada negara yang selalu memiliki setidaknya dua wakil di semifinal. Negara yang mengirimkan dua wakil di semifinal selalu berbeda-beda tiap musimnya, tetapi selalu berkutat di antara Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia. Kondisi itu bisa dipahami mengingat keempat negara tersebut mempunyai kompetisi sepak bola yang termasuk dalam empat liga terbaik Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/17/8bd61741b73eb005ffd28520a5d9c768-Spain_Soccer_Champions_League.jpeg)
Momen cukup langka terjadi lagi musim ini menyusul semifinalis yang berasal dari empat negara berbeda. Keperkasaan Jerman runtuh seiring kekalahan Borussia Dortmund dan Bayern Muenchen. Posisi Jerman digantikan wakil Perancis, PSG, yang unggul 5-4 secara agregat atas Aston Villa. Adapun Spanyol gagal mengirimkan dua wakil karena Real kalah 1-5 secara agregat dari Arsenal, Kamis (17/4/2025) dini hari WIB, di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid. Hanya Barca yang mewakili Spanyol pada semifinal musim ini.
”Sejarah yang kami miliki dalam kompetisi ini sangat singkat. Ini adalah ketiga kalinya dalam sejarah kami melakukan apa yang baru saja kami lakukan (menembus semifinal) dan kami harus terus maju. Semua pengalaman ini pasti akan membantu kami,” kata Manajer Arsenal Mikel Arteta, dikutip dari Sky Sports.
Seusai mengatasi Real, Arsenal akan ditantang PSG pada semifinal. Adapun Inter bertemu dengan Barca. Inter mendapatkan tiket semifinal setelah mengalahkan Muenchen 4-3 secara agregat. Pada pertemuan kedua yang berlangsung di markas Inter, Stadion Giuseppe Meazza, Inter menahan imbang Muenchen 2-2.
Ini merupakan semifinal kedua Inter dalam tiga musim terakhir. Sebelumnya, Inter sempat mencapai semifinal dan menghadapi AC Milan pada musim 2022-2023. Inter mengungguli tim sekotanya itu hingga melaju ke final lalu kalah dari Manchester City.
”Itu adalah malam yang indah di hadapan para penggemar kami melawan Bayern yang sangat kuat. Kami harus memainkan dua pertandingan hebat dan mengerahkan segenap kemampuan kami. Para pemain bermain dengan sangat baik,” ujar Pelatih Inter, Simone Inzaghi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/16/88c825d3c488200ccb1596fe5cc4ede2-wires_photo_4_.jpg)
Liga Champions dikenal sebagai kompetisi yang mengandung keajaiban sepak bola. Momen-momen magis jungkir balik keadaan kerap tercipta di saat-saat krusial, tetapi tidak pada perempat final musim ini. Tim yang kalah pada pertemuan pertama tersingkir. Seluruh pertandingan berakhir sesuai plot awal. Namun, berkat itu tercipta semifinal ideal yang mempertemukan seluruh perwakilan empat liga teratas Eropa.
Tidak berlebihan jika Liga Champions dipandang sebagai gudangnya keajaiban sepak bola. Di kompetisi ini, segalanya masih mungkin terjadi dalam dua pertemuan kandang-tandang. Tim yang takluk pada pertemuan pertama bisa secara tiba-tiba memperoleh dorongan baru untuk membalikkan keadaan pada pertemuan kedua.
Sejumlah kebangkitan ikonik sempat terekam dalam buku sejarah Liga Champions. Pada 2004, Deportivo La Coruna secara mengejutkan melaju ke semifinal meski kalah telak 1-4 dari AC Milan pada pertemuan pertama. Deportivo secara luar biasa bangkit dengan membekap Milan 4-0 pada pertemuan kedua di markasnya, Stadion Riazor.
Selain itu, ada pula kisah Liverpool yang mempecundangi Barcelona 4-0 di Stadion Anfield. Kemenangan itu cukup membawa Liverpool ke final, padahal sempat takluk 0-3 pada pertemuan perdana di Camp Nou.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/16/31250c74eb7f4a80a47351e53bac75be-Britain_Soccer_Champions_League_3_.jpg)
Pada musim ini keajaiban seperti itu tidak tercipta. Semua tim yang kalah pada pertemuan pertama, kecuali Real Madrid, tampil lebih baik pada pertemuan kedua. Aston Villa mampu bangkit dan menang 3-2 atas PSG. Tetapi itu belum cukup membawa tim besutan Manajer Unai Emery menyingkirkan PSG.
Dortmund juga meraih kemenangan 3-1 atas Barca di pertemuan kedua. Akan tetapi, hasil positif itu tidak berarti apa-apa karena Dortmund sudah terbantai 0-4 pada pertemuan pertama. Sedangkan Inter sukses mencegah Muenchen bangkit pada pertemuan kedua berkat bermain imbang 2-2.
”Kami bermain melawan tim yang hebat. Mereka dilatih dengan sangat baik. Namun, saya rasa satu-satunya penyesalan adalah hasil pertandingan karena tim bermain sesuai keinginan saya. Kami seharusnya mencetak lebih banyak gol,” ujar Pelatih Muenchen Vincent Kompany. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul