Kompas.id Brief

Anjlok lalu ”Terbang”, Bagaimana Tren Pasar Modal Tahun Ini?

Investor diingatkan untuk mengambil pendekatan yang jauh lebih berhati-hati dan disiplin dalam kondisi pasar yang lebih bergejolak.

20 Mei 2025 12:16 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

1. Bagaimana kondisi pasar saham terkini?

2. Apakah tandanya ketidakpastian sudah berakhir?

3. Mengapa kondisi pasar modal begitu volatil pada tahun ini?

4. Apa yang sebaiknya dilakukan investor untuk menyikapi gejolak pasar?

Kondisi pasar saham di Tanah Air pada tahun 2025 ibarat rollercoaster. Pada awal tahun, khususnya Maret ke April, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa kali terkoreksi. Baru lima bulan berjalan, Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini sudah dua kali melakukan pembekuan perdagangan saham alias trading halt.

Pada 18 Maret 2025, misalnya, IHSG anjlok hingga lebih dari 6 persen ke angka 6.076 dalam perdagangan sesi pertama. BEI pun sontak melakukan trading halt pertamanya sejak pandemi Covid-19.

Saat itu, pergerakan pasar saham diduga banyak dipengaruhi oleh sentimen negatif pasar akibat dinamika ekonomi dan politik dalam negeri yang tak tentu. Dari isu kinerja keuangan negara yang melemah hingga revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) yang dikhawatirkan menghidupkan lagi Dwifungsi TNI.

Pada 24 Maret 2025, IHSG kembali terjun ke 5.970 pada perdagangan sesi pertama, alias titik nadir sejak pandemi Covid-19. Lagi-lagi, analis menilai dinamika itu terjadi akibat persepsi negatif investor terhadap kondisi keuangan negara belakangan.

Pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi. Risiko fiskal di Indonesia dikhawatirkan meningkat sehingga banyak pelaku pasar beralih ke investasi lain yang lebih aman dan menjamin imbal hasil.

Pada 8 April 2024, seusai libur panjang Lebaran, IHSG kembali jeblok hingga 9 persen ke level 5.912 akibat ulah kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dikhawatirkan memicu perang dagang masif. Saat itu, BEI kembali menerapkan trading halt untuk mencegah kejatuhan IHSG yang lebih tajam.

Meski demikian, seiring dengan keputusan Trump menunda penerapan tarif resiprokalnya dan tensi perang tarif yang sedikit mereda, IHSG kembali menguat dan menghijau pada Mei 2025. Penguatan IHSG juga didorong oleh fundamental sejumlah emiten yang menunjukkan tren positif.

1. Bagaimana kondisi pasar saham terkini?

copy title

Setelah beberapa kali terkoreksi, IHSG pada pekan kedua Mei 2025 melanjutkan tren kenaikan harga atau bullish sejak pertengahan April lalu. Tren ini terjadi di tengah banyaknya tantangan ekonomi dari dalam dan luar negeri, mulai dari potensi penurunan suku bunga Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang tidak signifikan hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

IHSG pada Senin (5/5/2025) dibuka di level 6.844 dan berhasil mempertahankan tren kenaikan hingga 6.851 pada penutupan sesi pertama perdagangan.

Dalam tiga hari berturut-turut pada awal Mei, asing kembali melakukan pembelian bersih di pasar saham dengan total hampir Rp 300 miliar. Pada waktu bersamaan, nilai tukar rupiah kembali menguat selama pekan lalu, dengan ditutup pada angka Rp 16.400 per dollar AS. Ini merupakan posisi terkuat sejak pertengahan Maret 2025.

Pengamat pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, mengatakan, faktor penggerak IHSG salah satunya berasal dari aliran dana asing yang tercatat mulai masuk ke bursa saham Indonesia pada akhir April lalu. Sentimen perang tarif juga mulai berkurang. Hal itu membuat pergerakan IHSG menjadi lebih stabil.

2. Apakah tandanya ketidakpastian sudah berakhir?

copy title

Ada beberapa faktor dalam negeri yang berpotensi kembali memengaruhi sentimen pasar. Misalnya, data realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia per triwulan I-2025 yang tumbuh melambat 4,87 persen. Menurut Reydi Octa, realisasi pertumbuhan yang melambat itu bisa direspons negatif oleh pasar.

”Penguatan IHSG tetap harus kita waspadai dan antisipasi untuk bisa tetap ada cash untuk buyback jika saham masih turun harganya ke depan,” ujarnya.

Senada, ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully A Wisnubroto, juga menyoroti tren positif yang terkesan ”tiba-tiba” di pasar obligasi. ”Menurut kami, penguatan IHSG, rupiah, serta turunnya imbal hasil SBN (Surat Berharga Negara) terjadi terlalu cepat, di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi, baik global maupun domestik,” katanya.

Terkait kondisi di pasar global, negosiasi dagang antara AS dan China kemungkinan masih akan berjalan cukup lama dan belum akan ada keputusan yang jelas untuk melakukan deeskalasi meskipun tensi mulai mereda dan negosiasi mulai berlangsung antara kedua negara adidaya tersebut. Ditambah, perkembangan data ekonomi domestik menunjukkan kondisi kurang baik.

3. Mengapa kondisi pasar model begitu volatil pada tahun ini?

copy title

Head of IPOT Fund Dody Mardiansyah berpendapat, lanskap pasar global saat ini menampilkan karakteristik yang lebih dinamis. Itulah mengapa adagium ”sell in May and go away” saat ini tidak lagi dianggap relevan. Adagium itu selama ini menggambarkan kinerja pasar saham yang relatif lebih lesu selama periode Mei-Oktober dibandingkan periode November-April.

Ini karena kondisi pasar keuangan tengah mengalami volatilitas tinggi akibat dari serangkaian faktor ekonomi dan geopolitik yang kompleks.

”Ketidakpastian ekonomi global yang meliputi perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara dan ancaman resesi, kebijakan moneter yang dinamis dari bank-bank sentral di seluruh dunia, serta tensi geopolitik yang terus membara, semuanya berkontribusi pada kegelisahan pasar,” ujarnya.

Agenda penting yang akan diantisipasi investor antara lain pergerakan suku bunga acuan oleh The Fed, kondisi ekonomi China, serta sederet indikator data ekonomi makro yang penting di dalam negeri. Mulai dari data pertumbuhan ekonomi pada triwulan-triwulan berikutnya sampai arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang sejauh ini masih bertahan di 5,75 persen.

Sejauh ini, sejumlah indikator ekonomi makro yang telah diumumkan menunjukkan pelemahan. Namun, IHSG justru menghijau dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini, menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia, antara lain, karena pelemahan IHSG sejak awal tahun telah membuat harga banyak saham begitu murah.

Pelaku pasar juga cenderung telah bisa menebak perkembangan ekonomi dalam negeri. Ekonomi Indonesia diprediksi hanya terdampak moderat jika perang tarif berkepanjangan. Namun, pertumbuhan ekonomi di dalam negeri yang diperkirakan melemah lebih dalam bisa menjadi katalis negatif bagi pasar saham ke depan.

4. Apa yang sebaiknya dilakukan investor untuk menyikapi gejolak pasar?

copy title

Secara umum, investor diingatkan untuk mengambil pendekatan yang jauh lebih berhati-hati meskipun kondisi pasar saham tengah menguat. Dody Mardiansyah mengatakan, investor perlu menginterpretasikan dan mengaplikasikan strategi secara tidak dogmatis atau mengandalkan tren dan adagium pasar semata.

Melihat adanya potensi pelemahan pasar setelah Mei 2025, Dody menyarankan investor menerapkan manajemen risiko yang disiplin dalam kondisi pasar yang bergejolak. Diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko dan alokasi aset yang sesuai dengan profil risiko setiap investor bisa menjadi strateginya.

”Keputusan investasi yang ideal bisa difokuskan dengan tujuan keuangan pribadi, profil risiko pribadi, pemahaman mendalam baik mengenai pasar maupun mengenai keputusan yang akan ditentukan. Mengandalkan adagium pasar semata tanpa mempertimbangkan konteks dan kondisi pasar terkini dapat berpotensi merugikan,” ujarnya.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, memarkirkan dana di Rekening Dana Nasabah (RDN) atau deposito mungkin tampak sebagai pilihan aman baik bagi investor maupun pedagang.

Meski demikian, perlu diingat, dana yang mengendap di RDN umumnya hanya menghasilkan bunga relatif kecil. Dengan demikian, potensi pertumbuhannya menjadi terbatas.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti