Tuah ”boxing day” masih melekat pada Manchester United seiring kemenangan atas Newcastle United. MU membuktikan bisa meraih kemenangan meski tanpa Bruno Fernandes.
27 Des 2025 07:09 WIB · Olahraga
AFP
MANCHESTER, SABTU — Lirik lagu Bob Marley, ”No Woman, No Cry”, mewakili kondisi Manchester United saat membekap Newcastle United, 1-0, pada laga boxing day di Stadion Old Trafford, Sabtu (27/12/2025) dini hari WIB. Tanpa pengatur serangan utama, Bruno Fernandes, MU tetap bisa tertawa. Sebagaimana lagu tersebut, kemenangan ini menawarkan harapan di tengah inkonsistensi performa MU.
”Ini (kemenangan) sangat penting. Akhirnya (menang) tanpa kebobolan. Kami sudah menunggu ini selama beberapa minggu,” kata bek MU, Ayden Heaven, seusai laga kepada Sky Sports.
Sebelum laga, tidak sedikit pengamat sepak bola Inggris yang meyakini Newcastle bisa menyulitkan MU. Prediksi itu berdasarkan pada catatan statistik yang menyebutkan ”Setan Merah” gagal meraih kemenangan pada tujuh laga Liga Inggris sebelumnya tanpa kehadiran Bruno.
Peran gelandang serang tim nasional Portugal itu dalam skema Ruben Amorim sangat sentral. Sang manajer bahkan sempat menyatakan bahwa Bruno adalah pemain yang sulit tergantikan.
Ini kemenangan yang bagus, tetapi saya sudah mengalami banyak pertandingan di sini, di mana kami bermain bagus tetapi tidak mendapatkan tiga poin. Hari ini kebalikannya.
Wajar Amorim sampai memuji Bruno setinggi langit. Pasalnya, kemenangan terakhir MU tanpa kehadiran Bruno di Liga Inggris sudah terjadi sangat lama, tepatnya saat menggulung Tottenham Hotspur, 3-2, pada Maret 2022. MU kala itu masih ditangani oleh Ralf Rangnick. Keberadaan Bruno dalam susunan pemain mula MU sudah seperti suatu kewajiban. Tanpa dia, muncul kekhawatiran MU bakal kesulitan meraih hasil positif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/27/35ca8aa577babf4fdd220fe5c639a0eb-AFP_893T42G.jpg)
Kekhawatiran itu agaknya sudah bisa terhapus setelah mengalahkan Newcastle. Meski, harus diakui, MU bermain sangat monoton tanpa kreativitas Bruno. Amorim pun mengakui timnya tampil tidak terlalu bagus tetapi bisa meraih kemenangan. ”Ini kemenangan yang bagus, tetapi saya sudah mengalami banyak pertandingan di sini, di mana kami bermain bagus tetapi tidak mendapatkan tiga poin. Hari ini kebalikannya,” ujarnya.
Gol kemenangan MU pun berawal dari skema bola mati lemparan ke dalam, bukan dari proses membangun serangan dari belakang. Nick Woltemade menyundul bola lemparan ke dalam. Namun, bola jatuh tidak jauh dari kotak penalti Newcastle dan langsung disambar Patrick Dorgu. Tendangan voli kaki kiri Dorgu gagal dibendung Aaron Ramsdale. Itulah gol pertama Dorgu untuk MU semenjak didatangkan dari Lecce musim lalu.
”Itu tendangan yang bagus. Saya tidak tahu saya bisa melakukan itu. Sungguh luar biasa bisa mencetak gol pertama saya di stadion ini,” ujar Dorgu.
Ada kalanya keberanian mengambil tendangan spekulasi berbuah manis. Pilihan Dorgu untuk menembak dalam posisi yang agak tidak ideal memperlihatkan kematangannya. Tindakan Dorgu tepat karena MU kesulitan keluar dari tekanan Newcastle sejak awal laga hingga pertengahan babak pertama. Gol Dorgu meningkatkan kepercayaan diri para pemain MU yang kemudian berbalik menekan Newcastle untuk menggandakan keunggulan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/27/7ecfa177ade298bb724ef26b8422d93d-AFP_893T43H.jpg)
Dalam laga ini, Amorim melakukan hal yang berani, mengubah formasi tiga bek andalannya menjadi empat bek. Perubahan itu diperhitungkan secara matang oleh Amorim yang menginginkan timnya memiliki lebih banyak pemain di lini tengah. Dalam skema membangun serangan, MU hanya menyisakan dua bek tengah, Lisandro Martinez dan Heaven, di belakang. Sementara dua bek sayap Luke Shaw dan Diogo Dalot naik ke lini tengah.
Adanya Shaw dan Dalot di tengah memberi kebebasan lebih kepada Dorgu untuk menyerang. Keputusan itu berbuah manis dengan gol kemenangan yang dicetak Dorgu pada menit ke-24.
Newcastle yang juga butuh tiga poin untuk naik ke papan atas tidak tinggal diam ketika terus dikepung MU. Upaya perlawanan ”The Magpies” mayoritas dilakukan melalui koridor kiri yang dihuni Anthony Gordon. Di sana, Gordon dan rekan-rekannya menerapkan strategi overload untuk menembus pertahanan MU. Kecenderungan bek kanan MU, Diogo Dalot, untuk naik membantu serangan juga jadi alasan Newcastle mengeksploitasi sisi kiri serangan.
Hasilnya sangat efektif. Newcastle mengacak-acak pertahanan MU yang dikomandoi Lisandro dan Heaven. Statistik menyebutkan Newcastle melakukan 43 kali sentuhan di dalam kotak penalti MU. Jumlah itu sangat berbanding terbalik dengan MU yang hanya mampu melakukan 15 kali sentuhan bola.
Hanya saja dari sekian banyak peluang yang tercipta, para pemain Newcastle lemah dalam hal penyelesaian akhir. Sepakan Gordon dan Lewis Miley tidak mengarah dengan baik meski sedang tidak diganggu bek MU. Pengambilan keputusan operan yang lambat dari Gordon juga membuat ruang tembak Joelinton yang mulanya amat lebar menjadi terbatas. Tendangannya pun menjadi terlampau lemah sehingga mampu dihentikan Senne Lammens dengan sangat mudah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/27/30d96e90ba3859877244c70b53e77587-AFP_893R9FK.jpg)
”Anthony Gordon adalah pemain terbaik kami di lini serang. Dia bermain bagus, lugas, dan penuh semangat. Memang, golnya tidak tercipta. Kami butuh lebih banyak kreativitas, aksi di depan gawang, dan lebih klinis,” kata Manajer Newcastle Eddie Howe membela performa Gordon yang banyak dikritik belakangan ini.
Tambahan tiga poin membuat MU naik ke posisi kelima dengan koleksi 29 poin hasil dari 18 kali berlaga. Selain itu, hasil ini juga kian memantapkan MU sebagai tim tersukses di boxing day dengan 23 kali kemenangan. Sementara Newcastle tetap menjadi pesakitan dengan menelan 17 kali kekalahan, terbanyak dari tim mana pun di Liga Inggris, saat bertanding pada boxing day.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan