Atlet tuan rumah gagal membawa gelar juara dari turnamen Indonesia Masters. Indonesia tanpa gelar juara dari tiga turnamen pertama pada 2025.
26 Jan 2025 20:31 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Dua finalis wakil tuan rumah pada turnamen Daihatsu Indonesia Masters gagal juara. Di sisi lain, adik-adik mereka di pelatnas bulu tangkis belum berkembang.
Pemain Indonesia yang tampil pada laga puncak Indonesia Masters 2025 lebih banyak dibandingkan final 2024 ketika tuan rumah hanya memiliki Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. Namun, sebagai satu-satunya andalan fans bulu tangkis di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Leo/Daniel bisa mempersembahkan gelar juara.
Tahun ini, ketika ada dua wakil tampil di final, Indonesia tak kebagian gelar juara. Padahal, mereka yang membawa asa ”Merah Putih” adalah pemain paling berpengalaman di nomor masing-masing, yaitu Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.
Dalam laga final di Istora yang berlangsung Minggu (26/1/2025), Fajar/Rian kalah dari ganda putra nomor tiga Malaysia, Man Wei Chong/Kai Wun Tee, dengan skor 11-21, 19-21. Pada pertandingan sebelumnya, Jonatan kalah dari Kunlavut Vitidsarn, pemain Thailand berusia 23 tahun yang menjadi juara dunia dan peraih medali perak Olimpiade Paris 2024. Jonatan kalah 21-18, 17-21, 18-21.
Selain dari Vitidsarn, Thailand membawa pulang gelar juara dari tunggal putri melalui Ratchanok Intanon. Adapun gelar juara ganda putri didapat Kim Hye-jong/Kong Hee-yong (Korea Selatan) dan Hiroki Midorikawa/Natsu Saito (Jepang) menjuarai nomor ganda campuran.
Fajar/Rian dan Jonatan sebenarnya memiliki keunggulan dalam statistik pertemuan dengan Man/Kai dan Vitidsarn. Namun, kali ini, mereka kalah di depan pendukung sendiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/26/eb1cef60-23db-4866-bd22-56303c9209f8_jpg.jpg)
Fajar/Rian bahkan kalah dua gim setelah selalu menang dalam empat pertemuan sebelumnya, termasuk pada babak kedua Indonesia Masters 2024. Belajar dari empat kekalahan beruntun itu, Man/Kai bermain dengan cara yang tak bisa diantisipasi Fajar/Rian, yaitu banyak bermain dengan pukulan datar dalam tempo cepat. Fajar pun mengakui kewalahan dengan cara bermain lawan.
”Mereka bermain agresif sejak awal. Kami bukannya tidak mencoba mengubah strategi, tetapi sangat sulit keluar dari tekanan mereka,” kata Fajar.
Man/Kai pun bercerita mereka memang berusaha menekan Fajar/Rian dengan bermain dalam irama cepat dan mempertahankannya sejak awal hingga akhir permainan. ”Kami juga mencoba tidak mendengarkan teriakan penonton,” kata Man.
Sementara itu, Jonatan merasa gagal karena tak bisa mewujudkan target berdiri di podium tertinggi. ”Setelah pertandingan Olimpiade 2024, performa saya cukup positif, tetapi semifinal dan final belum cukup. Jadi, saya merasa gagal karena sejak awal, target saya dan pelatih adalah menjadi juara,” tutur Jonatan.
Kendati demikian, tunggal putra Indonesia peringkat ketiga dunia itu mengambil sisi positif dari hasil kali ini, yaitu sebagai bekal menuju turnamen berikutnya. Jonatan dan pemain-pemain senior lainnya akan menghadapi agenda berikutnya pada Maret, yaitu rangkaian turnamen di Eropa, di antaranya All England, 11-16 Maret. Pada turnamen bulu tangkis tertua di dunia itu, Jonatan dan Fajar/Rian berstatus juara bertahan.
Jauhnya gap ranking ini menjadi PR untuk tim di tunggal putra. Saya rasa harus bisa mempromosikan yang yunior.
Jonatan juga berharap adik-adiknya di tunggal putra diberi banyak jam terbang karena adanya rentang yang jauh antara dirinya dan Anthony Sinisuka Ginting (peringkat ke-11) dengan pemain lain, seperti Chico Aura Dwi Wardoyo, Alwi Farhan, Yohanes Saut Marcellyno, dan Mohammad Zaki Ubaidillah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/26/e3865a97-8103-46b2-8b50-17e2142f2a65_jpg.jpg)
Chico, yang memiliki posisi terdekat dengan Anthony, hanya menempati peringkat ke-32 dan dia lebih sering kalah pada dua babak awal. Selain itu, Chico pun tak bisa lagi dikatakan sebagai pemain muda karena berusia 26 tahun. Maka, potensi yang harus dimanfaatkan ada pada pemain-pemain yang lebih muda, yaitu Alwi, Saut, dan Zaki, agar mereka bisa segera menambah wakil Indonesia pada turnamen BWF World Tour level 500 ke atas.
Dengan posisi tunggal putra Indonesia yang ada saat ini, hanya Jonatan, Anthony (batal tampil karena cedera), dan Chico yang bisa menembus Indonesia Masters, langsung, pada babak utama. Adapun Alwi harus bermain sejak babak kualifikasi.
”Jauhnya gap ranking ini menjadi PR untuk tim di tunggal putra. Saya rasa harus bisa mempromosikan yang yunior. Mereka harus lebih banyak dikasih jam terbang untuk belajar mengevaluasi permainan sehingga menimbulkan percaya diri,” tutur Jonatan.
Jenjang prestasi juga ada pada ganda putra. Fajar/Rian, yang masing-masing berusia 30 dan 28 tahun, kesulitan untuk konsisten di level tinggi. Sebelum mencapai final Indonesia Masters, mereka kalah pada babak kedua India Terbuka dan babak pertama Malaysia Terbuka.
Meski naik dalam pencapaian babak, level turnamen yang diikuti menurun, yaitu dari Super 1000 di Malaysia, Super 750 (India), dan Super 500 (Indonesia). Fajar pun menyadari kondisi tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/26/2dcca018-09ae-4e9e-95cd-dff9eb129c5b_jpg.jpg)
”Tiga pekan ini memang tidak mudah. Di pelatnas juga ada perubahan pelatih dan kami masih beradaptasi. Pergantian pelatih itu bukan masalah, tetapi tetap harus ada adaptasi dalam perubahan pola latihan dan lain-lain. Semoga ke depan kami bisa lebih baik,” tutur Fajar.
Ketika Fajar/Rian berada pada situasi tersebut, pemain di bawah mereka belum berkembang. Apalagi, formasi yang ada saat ini, yaitu Leo/Bagas Maulana dan Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin, baru menjalani turnamen sejak Agustus 2024. Mereka masih dalam misi menambah poin untuk menaikkan peringkat.
Setelah Malaysia dan India Terbuka, serta Indonesia Masters, tur Asia berlanjut ke Thailand Masters di Bangkok, 28 Januari hingga 2 Februari. Berdasarkan undian yang dirilis pada 21 Januari, terdapat 21 wakil Indonesia pada turnamen dengan level Super 300 tersebut.
Materi pemain yang diturunkan di Thailand Masters hampir sama seperti Indonesia Masters, tetapi tanpa pemain senior seperti Jonatan, Fajar/Rian, dan Gregoria Mariska Tunjung.
Penulis:
Yulia Sapthiani, Riana IbrahimEditor:
Prasetyo Eko Prihananto