Sensasi Timnas Inggris Rasa Arsenal di Villa Park

Empat pemain Arsenal menjadi motor kemenangan Inggris atas Andorra. Keterikatan antara ”Si Meriam” dan ”Tiga Singa” menjadi fenomena yang menjanjikan potensi besar.

07 Sep 2025 04:02 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

BIRMINGHAM, SABTU — Sudah menjadi rahasia umum, tim nasional Inggris kurang punya keterikatan dengan Arsenal. Tim asal London Utara itu terkenal suka menggunakan jasa pemain asing, terutama di awal abad ke-21. Namun, citra itu luntur seketika di Stadion Villa Park, Birmingham.

Pemandangan langka tersaji dalam lanjutan kualifikasi Grup K Piala Dunia 2026 saat Inggris menjamu Andorra, Sabtu (6/9/2025) WIB. Pelatih Inggris Thomas Tuchel menurunkan empat pemain Arsenal sekaligus sebagai starter, yaitu Declan Rice, Eberechi Eze, Myles Lewis-Skelly, dan Noni Madueke.

Sebagai konteks, tidak ada klub lain yang mengirimkan lebih dari satu wakil di sebelas pertama ”Tiga Singa”. Menariknya, pemandangan itu jauh berbeda dibandingkan pertemuan pertama Inggris versus Andorra pada Juni lalu. Ketika itu, tidak ada satu pun pemain Arsenal dalam daftar starter.

Tidak hanya tampil, para pemain ”Si Meriam” turut berandil besar dalam kemenangan 2-0 Inggris. Gol pembuka Inggris dihasilkan dari bunuh diri pemain lawan Christian García yang bermula dari umpan silang Madueke. Lalu, Rice menggandakan keunggulan lewat sundulan di paruh kedua.

”Hari ini kami lebih baik ketimbang terakhir kali bertemu mereka. Kami lebih cair dan seharusnya bisa mencetak gol lebih banyak, tetapi saya senang dengan penampilan kolektif tim ini. Saat Anda menghadapi 11 pemain di 30 meter lapangan lawan, tim mana pun akan kesulitan,” kata Madueke.

Para pemain Arsenal memimpin catatan dalam beberapa kategori. Eze menghasilkan tembakan tepat sasaran terbanyak (3), Madueke menciptakan umpan kunci terbanyak (3). Sementara itu, Rice menjadi satu-satunya pemain Inggris yang berhasil mencetak gol di Villa Park.

England's midfielder Declan Rice (R) celebrates scoring the team's second goal during the 2026 World Cup Group K qualifier football match between England and Andorra, at Villa Park, in Birmingham, on September 6, 2025. (Photo by Ben STANSALL / AFP) / NOT FOR MARKETING OR ADVERTISING USE / RESTRICTED TO EDITORIAL USE

Tuchel senang dengan kontribusi dari duta Si Meriam, tetapi belum puas. Terutama soal kombinasi Eze dan Madueke di lini serang belum mencapai potensi terbaik. Eze sebagai gelandang serang dan Madueke di sayap kanan sering tidak menyadari posisi satu sama lain ketika situasi ofensif.

Saat kombinasi itu berjalan baik, Inggris bisa menebar ancaman. Misalnya, di awal paruh kedua saat Eze nyaris mencetak gol dari dalam kotak penalti berkat umpan Madueke. ”Mungkin Ebz (Eze) tidak dalam hari terbaik dalam peran nomor 10. Umpan Noni juga masih kurang klinis,” ujar Tuchel.

Wajar jika duet antara Eze dan Madueke masih belum padu. Keduanya baru didatangkan Arsenal pada musim panas ini. Mereka baru sekali bermain bersama saat berhadapan dengan Liverpool sebelum jeda internasional. Itu pun hanya kurang dari 20 menit karena Eze tampil sebagai pengganti.

Menurut Tuchel, laga tadi merupakan pemanasan untuk menghadapi jadwal selanjutnya versus Serbia. Sebelas pertama Inggris berpotensi besar dipertahankan. Eze dan Madueke berkesempatan tampil lebih baik. ”Kami belajar banyak dan saya bangga dengan para pemain. Kami akan membuktikan diri di Beograd,” tuturnya.

Menariknya, kehadiran banyak pemain Arsenal di skuad Tiga Singa dalam laga kualifikasi itu hanyalah permulaan. Arsenal bisa mengirim lebih banyak wakil lagi. Beberapa pemain bintang mereka, seperti Bukayo Saka dan Ben White, masih absen di jeda internasional kali ini akibat cedera.

Dominasi keterwakilan sebuah klub di timnas itu bisa bagus untuk Inggris di Piala Dunia tahun depan. Para pemain yang berasal dari satu klub pasti memiliki chemistry lebih baik. Itu sering menjadi resep sukses beberapa negara, seperti Spanyol yang dipenuhi pemain asal Barcelona dan Real Madrid.

England's Eberechi Eze and Andorra's Moises San Nicolas challenge for the ball during the World Cup Group K qualifying match between England and Andorra at Villa Park stadium in Birmingham, Saturday, Sept. 6, 2025 . (AP Photo/Dave Shopland)

Adapun di awal abad ke-21, Arsenal lebih melekat dengan timnas Perancis. Itu akibat pengaruh pelatih asli Perancis, Arsene Wenger, yang mendatangkan banyak pemain dari negara asalnya. Citra tersebut perlahan meluntur setelah Wenger hengkang, terutama di era Mikel Arteta yang mengandalkan banyak pemain Inggris.

Debut Anderson

Salah satu penampil terbaik dalam laga tadi adalah gelandang Elliot Anderson. Pemain debutan asal Nottingham Forest itu menjawab kepercayaan Tuchel dengan tampil solid sejak menit pertama. Dia menjadi pengatur ritme serangan Tiga Singa dari tengah lapangan.

Inggris menampilkan formasi 4-2-3-1. Di atas kertas, Anderson berduet dengan Rice sebagai jangkar. Hanya saja, Rice bertugas untuk menunggu bola di sepertiga akhir dan menyambut bola di kotak penalti. Anderson lebih sering menjemput bola dari bawah dan membagikan ke lini serang.

Saking energik dan beretos tinggi, pemain 22 tahun itu seperti selalu ada di semua sisi lapangan sepanjang 90 menit. Roy Keane, mantan gelandang timnas Inggris, turut memuji penampilan sang debutan. Menurut dia, tidak banyak pemain yang punya visi dan daya juang sebaik itu.

”Tentu itu bukan laga yang mudah karena dia  mendapat banyak penguasaan. Saya memikirkan tentang ucapan Bill Shankly, cara terbaik menilai pemain adalah saat menguasai bola. Bagaimana pengambilan keputusannya. Dari yang saya lihat, dia jelas bisa memberikan pengaruh dengan umpanya,” puji Keane, seperti dikutip BBC Sport. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto