Kita menghadapi "perfect storm" berkat tarif Trump. Jangan sampai kita tenang saja dan ketika pasar kembali dibuka pada 8 April mendatang, kondisinya sudah terpuruk.
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah Presiden Donald Trump, dilantik untuk kedua kalinya memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di Amerika Serikat (AS). Geopolitik dan geoekonomi semakin dihadapkan pada ketidakpastian.
Pada hari ke-74 sebagai orang nomor satu di Gedung Putih, Presiden Trump menetapkan kebijakan kontroversial yang menimbulkan kepanikan di seluruh dunia. Ia memutuskan menerapkan bea masuk balasan pada semua negara yang dianggap mengambil keuntungan ekonomi dari AS melalui kebijakan perdagangan yang dinilai tak adil.
Semua negara langsung memberikan respons yang menyayangkan, karena akan memicu perang dagang dan mengganggu rantai pasok perdagangan dunia. Namun, Presiden Trump bergeming untuk menerapkan tarif umum (universal tariffs) sebesar 10 persen kepada semua negara mulai 5 April dan tarif balasan (reciprocal tariffs) yang bervariasi dari 10 persen hingga 49 persen mulai 9 April mendatang.
Indonesia, tidak terkecuali, dikenai tarif balasan karena menurut Perwakilan Dagang AS (United States Trade Representative/USTR) meraup surplus perdagangan sebesar 17,9 miliar dollar AS pada 2024. Besar tarif tambahan yang dikenakan pada produk-produk asal Indonesia ditetapkan sebesar 32 persen.
Para pejabat China, Jepang, dan Uni Eropa langsung mengeluarkan respons atas kebijakan sepihak tersebut.
Mereka meminta Presiden Trump menunda pelaksanaan dari kebijakan tersebut dan mengajak untuk duduk bersama mencari jalan keluar terbaik guna menghindari terjadinya perang dagang.
Semua negara melakukan mitigasi karena dampak jangka panjang akan sangat buruk. Perdagangan saham di bursa-bursa Asia dan juga Eropa langsung tertekan setelah Presiden Trump mengeluarkan kebijakan yang ia sebut sebagai ”Hari Pembebasan”.
Presiden Trump berpandangan, pemberian proteksi kepada industri di AS akan ”Membuat Amerika Menjadi Besar Kembali” (Make America Great Again/MAGA). Namun, Presiden Ronald Reagan yang dikenal sebagai salah satu presiden terbesar AS sekalipun, menentang pandangan dan kebijakan seperti itu.
Ia mengatakan, kebijakan proteksionisme hanya menjadi obat sesaat dan kemudian akan membawa perekonomian AS terpuruk, karena industri tidak terdorong melakukan efisiensi dan inovasi. Penetapan tarif bea masuk tinggi akan menimbulkan moral hazard karena pengusaha AS akan merasa dininabobokan oleh proteksi.
Tantangan berat
Semua negara langsung melakukan pertemuan darurat untuk merespons kebijakan perdagangan yang dilakukan AS.
Pemimpin memang diuji bukan dalam kondisi ”terang bulan”, tetapi justru saat menghadapi krisis. Ketenangan dan kematangan pemimpin terlihat bukan pada saat dihadapkan pada pilihan, antara yang baik dan yang buruk, tetapi antara yang buruk dan kurang buruk, evil and less evil.
Seperti dalam menghadapi perang atau bencana, ketika krisis itu datang, maka semua kegiatan harus difokuskan pada penanganan krisis. Sekalipun sedang libur, hari libur otomatis menjadi tidak berlaku dan semua harus segera berada dalam posisi sesuai dengan tanggung jawabnya.
Commander call harus diambil karena memang situasinya tidak bisa menunggu sampai masa liburan selesai. Ada yang lebih penting untuk segera ditangani, yakni nasib industri, perdagangan, dan ekonomi negara, karena hal itu memengaruhi kehidupan rakyat banyak.
Kita lihat saja kebijakan Presiden Trump tidak hanya berpengaruh terhadap perdagangan antarnegara, tetapi juga pada pasar modal dan pasar uang.
Oleh karena AS yang diuntungkan oleh kebijakan tersebut, indeks Dow Jones mengalami bullish, sementara pasar modal di kawasan lain mengalami bearish. Nilai mata uang dollar juga menguat karena semua menganggap ekonomi AS akan membaik.
Semua negara sekarang harus memikirkan hasil produksi dari industri di negara mereka akan dikirim ke mana, karena kebijakan Presiden Trump langsung diberlakukan. Kita tahu industri di belahan penjuru dunia sudah memiliki kontrak dan mereka tidak bisa berhenti atau menurunkan produksi secara tiba-tiba.
Pasokan bahan baku pun bukan hanya sudah ada di tempat, tetapi sebagian dalam perjalanan menuju pihak pemesan. Kalau tidak segera diolah, bahan baku itu membutuhkan tempat penyimpanan agar tidak rusak.
Sementara itu, industri tidak terbiasa lagi menyimpan bahan baku karena umumnya sudah menerapkan just in time inventory untuk menekan biaya.
Demikian pula dengan hasil produksi. Semua hasil produksi biasanya langsung dikirimkan ke negara pemesan untuk menghindari sunk cost. Dengan adanya penyesuaian bea masuk ke AS baik pengekspor maupun pengimpor harus menghitung kembali transaksi mereka.
Sekarang ini wajar apabila industri dihadapkan pada ketidakpastian karena ada satu rantai yang tiba-tiba berubah dan membutuhkan kejelasan. Bisa dibayangkan bagaimana chaos-nya rantai pasok dunia yang terjadi di seluruh dunia sekarang ini.
Tidak kecil
Dengan neraca perdagangan yang mencapai 38,3 miliar dollar AS serta surplus yang mencapai 17,9 miliar dollar AS, Amerika merupakan pasar yang penting bagi Indonesia. Pasar AS bahkan lebih penting dari pasar China karena meski secara volume pasar China lebih besar, neraca perdagangan Indonesia dengan China lebih banyak defisitnya.
Untuk itulah, Indonesia perlu merespons dengan baik kebijakan terbaru Presiden Trump ini. Bahkan seperti yang dilakukan Malaysia, tidak salah apabila segera dibentuk Pusat Komando Geoekonomi Nasional agar bisa ditetapkan langkah yang komprehensif untuk memitigasi persoalan ini agar dampaknya terhadap industri dan ekonomi bisa diminimalkan.
Tarif balasan sebesar 32 persen yang diterapkan pada produk Indonesia tidaklah kecil. Itu nilainya bisa mencapai 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp 245 triliun. Jelas industri nasional tidak akan sanggup memikul bea masuk tambahan sebesar itu.
Oleh karena pentingnya pasar AS bagi Indonesia, yang diperlukan adalah negosiasi. Harus ada pejabat tinggi Indonesia yang langsung ditugaskan untuk menemui pejabat Perwakilan Perdagangan AS (USTR) dan Kementerian Perdagangan AS.
Di dalam negeri, kita harus segera memanggil asosiasi dan pengusaha yang memiliki bisnis ke AS. Kita harus memiliki data yang lengkap tentang jumlah industri, tenaga kerja, jenis produk, dan nilai transaksi yang selama ini mereka lakukan. Data itu penting untuk mengetahui berapa besar bea masuk tambahan yang harus dibayarkan apabila negosiasi dengan pihak USTR dan Kementerian Perdagangan AS gagal mencapai hasil yang memuaskan.
Pemerintah dan kalangan dunia usaha harus mau berbagi tugas dan juga berbagi beban demi menyelamatkan bisnis dengan AS. Kita tidak mungkin serta-merta menghentikan perdagangan dengan partner di AS karena mencari pasar pengganti di luar AS tidaklah mudah.
Pusat Komando Geoekonomi Nasional harus berpandangan lebih luas, baik dalam merumuskan kebijakan jangka pendek maupun jangka panjang.
Kita harus berani membantu pengusaha dan industri agar bisa bertahan, karena membiarkan mereka berjuang sendiri akan membuat mereka tidak berdaya. Kalau banyak industri di dalam negeri kolaps, akan banyak karyawan kehilangan pekerjaan.
Semua negara pasti akan berjuang untuk menyelamatkan industri dan kehidupan masyarakatnya. Karena di sanalah tugas dari pemerintah, yakni menjaga kehidupan warganya.
Kita akan bisa melewati masa sulit ini kalau kemudian mau mengasah sense of crisis di antara kita. Masa libur Lebaran selama sepuluh hari boleh dilakukan kalau situasinya normal.
Sekarang ini situasinya benar-benar krisis karena kita sedang menghadapi perfect storm. Saatnya untuk memanggil semua pihak agar segera kembali bekerja dan membawa Indonesia mampu melewati badai besar ini.
Kita tidak boleh seperti burung unta yang hanya membenamkan kepalanya ke dalam pasir ketika ada masalah. Jangan sampai kita tenang-tenang saja dan ketika pasar kembali dibuka pada 8 April mendatang, kondisinya sudah terpuruk. Semoga tidak!
Suryopratomo Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah Presiden Donald Trump, dilantik untuk kedua kalinya memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di Amerika Serikat (AS). Geopolitik dan geoekonomi semakin dihadapkan pada ketidakpastian.
Pada hari ke-74 sebagai orang nomor satu di Gedung Putih, Presiden Trump menetapkan kebijakan kontroversial yang menimbulkan kepanikan di seluruh dunia. Ia memutuskan menerapkan bea masuk balasan pada semua negara yang dianggap mengambil keuntungan ekonomi dari AS melalui kebijakan perdagangan yang dinilai tak adil.
Semua negara langsung memberikan respons yang menyayangkan, karena akan memicu perang dagang dan mengganggu rantai pasok perdagangan dunia. Namun, Presiden Trump bergeming untuk menerapkan tarif umum (universal tariffs) sebesar 10 persen kepada semua negara mulai 5 April dan tarif balasan (reciprocal tariffs) yang bervariasi dari 10 persen hingga 49 persen mulai 9 April mendatang.
Indonesia, tidak terkecuali, dikenai tarif balasan karena menurut Perwakilan Dagang AS (United States Trade Representative/USTR) meraup surplus perdagangan sebesar 17,9 miliar dollar AS pada 2024. Besar tarif tambahan yang dikenakan pada produk-produk asal Indonesia ditetapkan sebesar 32 persen.
Para pejabat China, Jepang, dan Uni Eropa langsung mengeluarkan respons atas kebijakan sepihak tersebut.
Mereka meminta Presiden Trump menunda pelaksanaan dari kebijakan tersebut dan mengajak untuk duduk bersama mencari jalan keluar terbaik guna menghindari terjadinya perang dagang.
Semua negara melakukan mitigasi karena dampak jangka panjang akan sangat buruk. Perdagangan saham di bursa-bursa Asia dan juga Eropa langsung tertekan setelah Presiden Trump mengeluarkan kebijakan yang ia sebut sebagai ”Hari Pembebasan”.
Serial Artikel
Tarif Trump Berlaku, Nasib Rupiah dan Pasar Saham di Ujung Tanduk
Dalam perdagangan terakhir pada 27 Maret 2025, rupiah ditutup di level Rp 16.566 per dollar AS, sedangkan IHSG ditutup di level 6.510,62.
Presiden Trump berpandangan, pemberian proteksi kepada industri di AS akan ”Membuat Amerika Menjadi Besar Kembali” (Make America Great Again/MAGA). Namun, Presiden Ronald Reagan yang dikenal sebagai salah satu presiden terbesar AS sekalipun, menentang pandangan dan kebijakan seperti itu.
Ia mengatakan, kebijakan proteksionisme hanya menjadi obat sesaat dan kemudian akan membawa perekonomian AS terpuruk, karena industri tidak terdorong melakukan efisiensi dan inovasi. Penetapan tarif bea masuk tinggi akan menimbulkan moral hazard karena pengusaha AS akan merasa dininabobokan oleh proteksi.
Tantangan berat
Semua negara langsung melakukan pertemuan darurat untuk merespons kebijakan perdagangan yang dilakukan AS.
Pemimpin memang diuji bukan dalam kondisi ”terang bulan”, tetapi justru saat menghadapi krisis. Ketenangan dan kematangan pemimpin terlihat bukan pada saat dihadapkan pada pilihan, antara yang baik dan yang buruk, tetapi antara yang buruk dan kurang buruk, evil and less evil.
Seperti dalam menghadapi perang atau bencana, ketika krisis itu datang, maka semua kegiatan harus difokuskan pada penanganan krisis. Sekalipun sedang libur, hari libur otomatis menjadi tidak berlaku dan semua harus segera berada dalam posisi sesuai dengan tanggung jawabnya.
Commander call harus diambil karena memang situasinya tidak bisa menunggu sampai masa liburan selesai. Ada yang lebih penting untuk segera ditangani, yakni nasib industri, perdagangan, dan ekonomi negara, karena hal itu memengaruhi kehidupan rakyat banyak.
Kita lihat saja kebijakan Presiden Trump tidak hanya berpengaruh terhadap perdagangan antarnegara, tetapi juga pada pasar modal dan pasar uang.
Oleh karena AS yang diuntungkan oleh kebijakan tersebut, indeks Dow Jones mengalami bullish, sementara pasar modal di kawasan lain mengalami bearish. Nilai mata uang dollar juga menguat karena semua menganggap ekonomi AS akan membaik.
Serial Artikel
Tarif Trump Berisiko Senggol Industri Mebel Nasional
Tambahan tarif bea masuk impor akan mengancam industri mebel dan kerajinan yang telah memberikan kontribusi terhadap ekonomi Indonesia.
Semua negara sekarang harus memikirkan hasil produksi dari industri di negara mereka akan dikirim ke mana, karena kebijakan Presiden Trump langsung diberlakukan. Kita tahu industri di belahan penjuru dunia sudah memiliki kontrak dan mereka tidak bisa berhenti atau menurunkan produksi secara tiba-tiba.
Pasokan bahan baku pun bukan hanya sudah ada di tempat, tetapi sebagian dalam perjalanan menuju pihak pemesan. Kalau tidak segera diolah, bahan baku itu membutuhkan tempat penyimpanan agar tidak rusak.
Sementara itu, industri tidak terbiasa lagi menyimpan bahan baku karena umumnya sudah menerapkan just in time inventory untuk menekan biaya.
Demikian pula dengan hasil produksi. Semua hasil produksi biasanya langsung dikirimkan ke negara pemesan untuk menghindari sunk cost. Dengan adanya penyesuaian bea masuk ke AS baik pengekspor maupun pengimpor harus menghitung kembali transaksi mereka.
Sekarang ini wajar apabila industri dihadapkan pada ketidakpastian karena ada satu rantai yang tiba-tiba berubah dan membutuhkan kejelasan. Bisa dibayangkan bagaimana chaos-nya rantai pasok dunia yang terjadi di seluruh dunia sekarang ini.
Tidak kecil
Dengan neraca perdagangan yang mencapai 38,3 miliar dollar AS serta surplus yang mencapai 17,9 miliar dollar AS, Amerika merupakan pasar yang penting bagi Indonesia. Pasar AS bahkan lebih penting dari pasar China karena meski secara volume pasar China lebih besar, neraca perdagangan Indonesia dengan China lebih banyak defisitnya.
Untuk itulah, Indonesia perlu merespons dengan baik kebijakan terbaru Presiden Trump ini. Bahkan seperti yang dilakukan Malaysia, tidak salah apabila segera dibentuk Pusat Komando Geoekonomi Nasional agar bisa ditetapkan langkah yang komprehensif untuk memitigasi persoalan ini agar dampaknya terhadap industri dan ekonomi bisa diminimalkan.
Tarif balasan sebesar 32 persen yang diterapkan pada produk Indonesia tidaklah kecil. Itu nilainya bisa mencapai 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp 245 triliun. Jelas industri nasional tidak akan sanggup memikul bea masuk tambahan sebesar itu.
Oleh karena pentingnya pasar AS bagi Indonesia, yang diperlukan adalah negosiasi. Harus ada pejabat tinggi Indonesia yang langsung ditugaskan untuk menemui pejabat Perwakilan Perdagangan AS (USTR) dan Kementerian Perdagangan AS.
Di dalam negeri, kita harus segera memanggil asosiasi dan pengusaha yang memiliki bisnis ke AS. Kita harus memiliki data yang lengkap tentang jumlah industri, tenaga kerja, jenis produk, dan nilai transaksi yang selama ini mereka lakukan. Data itu penting untuk mengetahui berapa besar bea masuk tambahan yang harus dibayarkan apabila negosiasi dengan pihak USTR dan Kementerian Perdagangan AS gagal mencapai hasil yang memuaskan.
Serial Artikel
Trump: Tarif Akan ”Sedikit” Menyakitkan bagi Rakyat AS
Menurut Trump, tarif yang diberlakukan atas Kanada, Meksiko, dan China hanya akan membawa ”penderitaan jangka pendek”.
Pemerintah dan kalangan dunia usaha harus mau berbagi tugas dan juga berbagi beban demi menyelamatkan bisnis dengan AS. Kita tidak mungkin serta-merta menghentikan perdagangan dengan partner di AS karena mencari pasar pengganti di luar AS tidaklah mudah.
Pusat Komando Geoekonomi Nasional harus berpandangan lebih luas, baik dalam merumuskan kebijakan jangka pendek maupun jangka panjang.
Kita harus berani membantu pengusaha dan industri agar bisa bertahan, karena membiarkan mereka berjuang sendiri akan membuat mereka tidak berdaya. Kalau banyak industri di dalam negeri kolaps, akan banyak karyawan kehilangan pekerjaan.
Semua negara pasti akan berjuang untuk menyelamatkan industri dan kehidupan masyarakatnya. Karena di sanalah tugas dari pemerintah, yakni menjaga kehidupan warganya.
Kita akan bisa melewati masa sulit ini kalau kemudian mau mengasah sense of crisis di antara kita. Masa libur Lebaran selama sepuluh hari boleh dilakukan kalau situasinya normal.
Sekarang ini situasinya benar-benar krisis karena kita sedang menghadapi perfect storm. Saatnya untuk memanggil semua pihak agar segera kembali bekerja dan membawa Indonesia mampu melewati badai besar ini.
Kita tidak boleh seperti burung unta yang hanya membenamkan kepalanya ke dalam pasir ketika ada masalah. Jangan sampai kita tenang-tenang saja dan ketika pasar kembali dibuka pada 8 April mendatang, kondisinya sudah terpuruk. Semoga tidak!
Suryopratomo Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura