Di balik kepiawaian menerapkan taktik, ada andil sentuhan personal dalam kesuksesan Barcelona di bawah Hansi Flick musim ini. Seluruh pemain merasa berjuang bersama.
16 Mei 2025 09:04 WIB · Olahraga
Barcelona memastikan mengkhiri petualangan musim ini dengan dua gelar mayor di tangan. Hal yang lebih membanggakan, tidak sekali pun mereka menelan kekalahan dari musuh abadi, Real Madrid, dalam empat ”el clasico” terakhir. Selain taktik yang revolusioner, sentuhan personal Pelatih Hansi Flick adalah kunci kesuksesan Barca.
Di sepak bola Eropa, jamak diperbincangkan bagaimana isi kepala dan taktik yang dibawa seorang pelatih merupakan jalan menuju kejayaan. Sementara bagaimana pelatih melakukan pendekatan personal kepada para pemainnya tergolong jarang diperbincangkan. Padahal, membangun kohesi yang kuat dengan para pemain juga menentukan sukses tidaknya sebuah tim.
Hal itulah yang ditunjukkan Flick pada musim perdananya di Barca. Selain piawai meracik taktik, Flick juga merupakan sosok yang dekat dengan para pemainnya. Ia senantiasa memosisikan diri selayaknya seorang ayah, tempat anak-anak (pemain) bersandar.
Para penggemar Barca masih mengingat sisi hangat Flick yang memberikan mantelnya kepada Frenkie De Jong yang menggigil kedinginan seusai pertandingan menghadapi UD Barbastro pada babak 32 besar Piala Raja Spanyol. De Jong tersenyum bahagia dengan perhatian sang pelatih. Ia tampak tersenyum mengelilingi lapangan dengan mengenakan jaket dari Flick.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/f8ddfc24-efe9-4be4-8640-2a4f7bebec23_jpg.jpg)
Pengalaman mendapatkan sentuhan personal Flick tidak hanya dialami De Jong. Pemain muda sekaligus bintang Barcelona, Lamine Yamal, juga amat terkesan dengan keramahan Flick. Menurut Yamal, Flick sangat demokratis dan tidak segan membuka ruang dialog dengan para pemainnya.
”Dia sangat dekat. Dia peduli dengan semua orang. Dia menjelaskan semuanya kepada Anda untuk mengetahui apa yang perlu ditingkatkan atau tidak,” ujar Yamal.
Bagi pemain sebelia Yamal, sentuhan personal dari Flick sangatlah berarti baginya. Lewat kepedulian Flick terhadap seluruh pemain, mereka akhirnya merasa dibutuhkan sekaligus penting untuk tim. Keputusan untuk mencadangkan pemain juga tidak diambil tanpa izin yang bersangkutan. Flick beberapa kali diketahui berdiskusi untuk meminta izin membangku-cadangkan Robert Lewandowski dan Raphinha.
Mereka jujur kepada saya, saya jujur kepada mereka. Ini adalah awal yang baik.
Flick sengaja tidak berjarak atau membangun tembok dengan para pemain Barca. Ia meyakini tim dibangun berdasarkan fondasi seperti itu. Dengan memanusiakan pemain sekaligus memberikan perhatian terhadap mereka, para pemain akan merasa dirinya berarti. Apabila sudah begitu, mereka pun tidak akan segan-segan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/8b7bce19-8425-4f4d-a1c8-a225a0be14ec_jpg.jpg)
Di samping gestur, sentuhan personal Flick juga diejawantahkan melalui caranya membuka dialog dengan para pemain dengan menit bermain minim. Penyerang Barca, Ferran Torres, adalah salah satu pemain yang sering diajak bercengkerama oleh Flick.
Torres sempat jarang dimainkan lantaran sinarnya tertutup kebintangan Robert Lewandowski. Agar Torres tidak merasa terpinggirkan, Flick kerap mengajaknya bicara bersama.
Dari dialog itu, Flick menjelaskan mengapa Torres masih kerap dicadangkan. Flick juga tidak segan menerima masukan dari pemain. Hasilnya, dari diskusi itu, Torres menjelma sebagai pesaing terberat Lewandowski di tim. Flick menggeser posisi Torres menjadi lebih serba bisa. Dia terkadang ditempatkan di posisis sayap atau ujung tombak.
Sejauh musim ini, Torres telah mencetak 19 gol dan tujuh asis dalam 45 pertandingan di seluruh kompetisi. Jumlah itu meningkat cukup signifikan dibandingkan musim sebelumnya yang hanya 11 gol dan 4 asis dalam 42 pertandingan.
”Yang paling membedakannya (dengan pelatih lain) adalah kedekatannya dengan para pemain. Tidak hanya sebagai pelatih tetapi juga sebagai pribadi,” kata Torres.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/0d61168b-b50d-4eb8-aa75-dc89a111a1de_png.png)
Dari sisi taktik, Flick pun kaya akan ide bermain. Dia memang tidak menonjolkan ciri khas permainan penguasaan bola sebagaimana jati diri Barca. Flick cenderung memainkan sepak bola atraktif dengan garis pertahanan tinggi tetapi penuh risiko.
Garis pertahanan tinggi Flick awalnya cukup efektif membuat lini serang lawan mati kutu. Akan tetapi, belakangan, para pesaing Barca mulai mengetahui cara meredamnya. Penyerang Real, Kylian Mbappe, sampai dibuat kehabisan akal pada el clasico pertama musim ini di mana Real takluk 0-4. Pada laga itu, Mbappe sampai delapan kali terjebak offside akibat taktik garis pertahanan tinggi Flick.
Di bawah asuhan Flick, Barca menjelma sebagai tim terproduktif di Eropa. Saat menjalani 46 pertandingan di semua kompetisi, Barca telah mencetak 140 gol yang berarti tidak kurang dari 3,04 gol per pertandingan. Berkat itu pula, Barca melaju hingga semifinal Liga Champions Eropa serta menjuarai Liga Spanyol dan Piala Raja Spanyol.
Saking trengginasnya lini serang Barca, tim dengan pertahanan rapat, seperti Inter Milan saja, sampai kewalahan mengatasinya. Barca memang gagal menyingkirkan Inter di semifinal Liga Champions. Namun, mereka sanggup mencetak hingga enam gol ke gawang Inter dalam dua pertemuan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/3c97f34a-adde-49b5-becf-57d1762dac3b_jpg.jpg)
”Ketika kami mulai di sini, kami memiliki ide yang jelas tentang bagaimana kami ingin bermain. Kami menganalisis semua pemain, dan semua pemain tim B juga, dan semua orang. Apa yang saya lakukan di sini, juga merupakan diskusi yang jelas dengan Deco (Direktur Olahraga Barca), dan kami siap bersikap jujur. Mereka jujur kepada saya, saya jujur kepada mereka. Ini adalah awal yang baik,” kata Flick.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari