Trump yakin, bila pertemuan pada hari ini berjalan lancar, pertemuan puncak dengan melibatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bisa segera digelar.
16 Agt 2025 03:41 WIB · Internasional
ANCHORAGE, JUMAT — Kini mata dunia tertuju ke Alaska. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jumat (15/8/2025) waktu setempat atau Sabtu dini hari, menyambut hangat mitranya, Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump yang turun dari pesawat kepresiden Air Force One menunggu dengan antusias Putin di landasan Pangkalan Udara Elmendorf-Richardson, Anchorage, Alaska.
Di atas karpet merah yang terbentang di landasan, keduanya lantas bertukar salam, berjabat tangan erat, sambil tersenyum. Pertemuan kedua pemimpin dunia itu menjadi peristiwa bersejarah penting. Banyak pihak berharap, pertemuan itu karena akan membuka pintu bagi hadirnya perdamaian di Ukraina. Namun, ada pula kekhawatiran, pertemuan itu akan kembali menemui jalan buntu.
Jelang pertemuan digelar, sejumlah pihak, terutama Eropa, dihinggapi rasa cemas. Mereka khawatir, kepentingan Ukraina kurang terwakili. Namun, Trump menepis anggapan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/16/dd760ff87a3d4bb4cd916a6cf21f535b-APTOPIX_Trump_Putin_131868533.jpg)
”Saya di sini bukan bernegosiasi untuk Ukraina, saya di sini untuk mempertemukan mereka,” kata Trump. ”Saya ingin melihat gencatan senjata, segera. Saya tidak akan senang jika itu tidak terjadi hari ini, saya ingin pembunuhan dihentikan,” lanjut Trump menjelang penerbangan ke Alaska.
Menurut dia, bila gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina terjadi, di situlah peluang untuk mewujudkan perdamaian semakin besar. Ia mengakui bahwa untuk mewujudkan harapan itu tidak mudah.
Trump yakin, bila pertemuan pada hari ini berjalan lancar, pertemuan puncak dengan melibatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bisa segera digelar. Bagi Trump, bila pertemuan itu sungguh-sungguh terjadi, peristiwa itu akan menjadi peristiwa sangat penting. Sebagai catatan, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Alaska tidak melibatkan Zelenskyy.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/16/07989fc0c73704820e848423e9d7d1ac-US_U.S._PRESIDENT_TRUMP_AND_RUSSIAN_PRESIDENT_PUTIN_MEET_ON_WAR_131869203.jpg)
Meskipun demikian, Zelenskyy memiliki harapan besar pada keberhasilan pertemuan di Alaskan. Menurut dia, KTT itu membuka jalan bagi ”perdamaian yang adil”, sekaligus membuka peluang perundingan tiga arah, Rusia, AS, dan Ukraina.
”Sudah waktunya untuk mengakhiri perang, dan langkah-langkah yang diperlukan harus diambil oleh Rusia. Kami mengandalkan Amerika,” tulis Zelenskyy dalam platform Telegram.
Terkait perundingan tiga arah, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, sebagaimana dikutip kantor berita Interfax, mengatakan, pertemuan puncak tiga arah akan dimungkinkan jika perundingan Alaska membuahkan hasil. Sementara itu, Utusan Khusus Rusia Kirill Dmitriev mengatakan, selain isu Ukraina, KTT ini juga akan membahas banyak hal, terutama hubungan bilateral kedua negara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/16/e52d516b4813f95974e695f43fd9b263-US_UKRAINE_RUSSIA_CONFLICT_SUMMIT_TRUMP_PUTIN_131869302.jpg)
Meski demikian, seorang sumber yang dikutip kantor berita Reuters mengatakan, ada indikasi Moskwa bersedia untuk berkompromi terkait Ukraina. Alasannya, Putin memahami kerentanan ekonomi Rusia dan biaya yang harus ditanggung jika perang berlanjut.
Dalam pemberitaan sebelumnya, kantor berita Reuters menyebut peluang kesediaan Putin untuk menghentikan pertempuran di garis depan. Kompensasinya adalah kesepakatan yang mengikat bahwa Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tidak memperluas ”keanggotaannya” ke wilayah-wilayah timur. Kompensasi lain adalah Barat mencabut sanksi mereka.
”Bagi Putin, masalah ekonomi adalah hal sekunder dibandingkan tujuan, tetapi dia memahami kerentanan dan biaya yang harus ditanggung Rusia,” kata sumber yang dikutip oleh kantor berita Reuters tersebut.
Di sisi lain, KTT ini sejatinya adalah kemenangan besar. Dari perspektif Rusia, KTT di Alaska memperlihatkan bahwa upaya Barat untuk mengisolasi Rusia gagal. Di tengah aneka tekanan, Moskwa berhasil mendapatkan kembali posisi semestinya di meja utama diplomasi internasional. (REUTERS)
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul