Trump Meyakini Putin Siap Mengakhiri Perang

Trump menginginkan perang di Ukraina berakhir. Setelah pertemuan dengan Putin, Trump berencana ada pertemuan lanjutan antara Putin, Zelenskyy, dan Trump.

15 Agt 2025 10:00 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

WASHINGTON DC, JUMAT — Dunia menanti hasil dari pertemuan empat mata antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Jumat (15/8/2025). Presiden Trump meyakini Presiden Putin siap mengakhiri perang di Ukraina.

”Saya pikir Presiden Putin akan berdamai, saya pikir Presiden Zelenskyy akan berdamai,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis (14/5/2025). ”Kita lihat saja apakah mereka akur,” imbuhnya.

Upaya mengakhiri perang di Ukraina sudah menjadi janji Trump sejak masa kampanye pemilihannya sebagai presiden pada 2024. Ketika itu, ia berjanji untuk mengakhiri perang pada hari pertamanya menjabat.

Sejumlah perundingan untuk perdamaian sudah berjalan. Namun, hanya terjadi sedikit kemajuan dalam mencapai kesepakatan damai.

Trump dibuat jengkel dengan tindakan Putin yang terus saja mengebom Ukraina. Pada Jumat (8/8/2025) pekan lalu, Trump mengumumkan, ia akan melakukan pertemuan empat mata dengan Putin pada Jumat ini untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Pertemuan akan berlangsung di Anchorage, Alaska. Tepatnya di Pangkalan Angkatan Udara Elmendorf. Itu merupakan pangkalan militer utama AS di Alaska yang sangat penting dalam memantau Rusia. Pertemuan ini akan menjadi yang pertama bagi pemimpin Rusia untuk datang ke AS sejak 2021.

Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tidak diundang ke pertemuan di Alaska itu. Zelenskyy mengecam pertemuan itu sebagai hadiah untuk Putin.

Perundingan kedua presiden tersebut dijadwalkan akan dimulai pukul 11.30 waktu setempat atau 19.30 GMT hari Jumat atau 02.30 WIB pada Sabtu (16/8/2025). ”Percakapan itu akan berlangsung dalam format tatap muka, tentu saja dengan partisipasi penerjemah,” ujar ajudan Kremlin, Yuri Ushakov, kepada para wartawan di Moskwa.

”Saya pikir ini akan menjadi pertemuan yang baik. Tetapi, pertemuan yang lebih penting adalah pertemuan kedua yang kita adakan,” kata Trump.

Setelah bertemu muka dengan Putin, Trump merencanakan pertemuan berikutnya. ”Akan ada pertemuan dengan Presiden Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, saya sendiri, dan mungkin kita akan membawa serta beberapa pemimpin Eropa. Mungkin tidak,” kata Trump.

Members of the media stand outside Joint Base Elmendorf-Richardson in Anchorage, Alaska, Thursday, Aug. 14, 2025, ahead of a meeting between President Donald Trump and Russia's President Vladimir Putin. (AP Photo/Jae C. Hong)

Respons Putin

Menjelang bertemu dengan Trump, Putin melakukan pembicaraan dengan para menteri dan pejabat keamanan paling seniornya. Melalui siaran di televisi Putin mengatakan, ”AS melakukan upaya yang cukup energik dan tulus untuk menghentikan permusuhan, menghentikan krisis, dan mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam konflik ini.”

”Pertemuan tersebut terjadi untuk menciptakan kondisi jangka panjang bagi perdamaian antara negara kita, dan di Eropa, dan di dunia secara keseluruhan. (Itu) jika pada tahap selanjutnya, kita bisa mencapai kesepakatan di bidang pengendalian senjata ofensif strategis,” imbuh Putin.

Pernyataan Putin tersebut memberi isyarat bahwa Rusia akan meningkatkan pengendalian senjata nuklir sebagai bagian dari diskusi luas tentang keamanan dalam pertemuan dengan Trump.

Seorang pejabat senior Eropa Timur secara anonim mengatakan, Putin akan mencoba mengalihkan perhatian Trump dari Ukraina dalam perundingan tersebut. Putin diperkirakan menawarkan kemungkinan kemajuan dalam pengendalian senjata nuklir atau sesuatu yang berkaitan dengan bisnis.

”Kami berharap Trump tidak tertipu oleh Rusia. Dia memahami semua hal berbahaya ini,” kata pejabat itu, seraya menambahkan bahwa satu-satunya tujuan Rusia adalah menghindari sanksi baru dan mencabut sanksi yang ada.

Protesters chant slogans during a rally in Anchorage, Alaska, Thursday, Aug. 14, 2025, ahead of a meeting between President Donald Trump and Russia's President Vladimir Putin. (AP Photo/Jae C. Hong)

Eropa khawatir

Rencana pertemuan langsung Trump-Putin meningkatkan kekhawatiran para pemimpin Eropa. Mereka khawatir bahwa Putin akan membujuk Trump untuk menyetujui penyelesaian yang diberlakukan terhadap Ukraina.

Rusia kini menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina. Dalam tuntutannya untuk gencatan senjata, Rusia, antara lain, menginginkan Ukraina menyerahkan wilayah-wilayah yang dianeksasi Rusia.

Zelenskyy serta para pemimpin Eropa khawatir kesepakatan itu akan menguntungkan Putin atas 11 tahun upayanya untuk merebut wilayah Ukraina. Kesepakatan seperti itu dikhawatirkan akan membuat Rusia semakin berani berekspansi lebih jauh ke Eropa. Zelenskyy sudah menolak seruan Trump untuk menyerahkan wilayah Ukraina.

Trump membuat pernyataan tegas di hadapan para wartawan di Gedung Putih. ”Saya presiden, dan dia tidak akan main-main dengan saya,” kata Trump.

”Saya akan tahu dalam 2 menit, 3 menit, 4 menit, atau 5 menit pertama... apakah kita akan mengadakan pertemuan yang baik atau buruk,” kata Trump.

”Dan, jika pertemuannya buruk, itu akan berakhir dengan sangat cepat, dan jika pertemuannya baik, kita akan mencapai perdamaian dalam waktu dekat,” kata Trump, yang memberi peluang kegagalan pertemuan puncak itu satu dari empat.

Pada Rabu lalu, Trump melakukan pertemuan virtual dengan para pemimpin Eropa dan Zelenskyy. Trump menegaskan bahwa ia tidak akan terintimidasi oleh Putin dalam pertemuan empat mata berisiko tinggi itu.

Trump juga mengatakan, Ukraina akan dilibatkan dalam kesepakatan apa pun terkait nasibnya. Dalam pertemuan virtual tersebut, Trump menunjukkan kesediaannya untuk bergabung memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina.

A screen is seen in front of Ukrainian President Volodymyr Zelensky (back L) and German Chancellor Friedrich Merz (back R) attend a video conference of European leaders with the US President on the Ukraine war ahead of the summit between the US and Russian leaders, on August 13, 2025. European leaders will hold online talks with US President Donald Trump, hoping to convince him to respect Ukraine's interests when he discusses the war with Putin in Alaska on Friday. (Photo by John MACDOUGALL / POOL / AFP)

Presiden Perancis Emmanuel Macron usai pertemuan virtual mengatakan bahwa Trump berpandangan, aliansi Trans-Atlantik NATO tidak boleh menjadi bagian dari jaminan keamanan apa pun yang dirancang untuk melindungi Ukraina dari serangan di masa mendatang dalam penyelesaian pascaperang.

”Namun, Trump juga mengatakan, AS dan semua sekutu yang bersedia harus menjadi bagian dari jaminan keamanan tersebut,” imbuh Macron.

Lebih lanjut, seorang pejabat Eropa kepada Reuters mengatakan, Trump dalam pertemuan virtual tersebut menyatakan kesediaan untuk memberikan beberapa jaminan keamanan bagi Eropa. Namun, Trump tidak merinci apa saja jaminan tersebut.

”Rasanya seperti langkah maju yang besar,” kata pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya itu. Belum jelas juga apa arti jaminan tersebut dalam praktiknya.

Terkait kesepakatan gencatan senjata di Ukraina yang diinginkan Trump, dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan akan ada ”saling memberi dan menerima” mengenai batas wilayah dan lahan.

Namun, menurut Trump, Putin dan Zelenskyy-lah yang akan mencapai kesepakatan. ”Saya tidak akan menegosiasikan kesepakatan mereka,” kata Trump.

Trump juga menyatakan, pertemuan tersebut seperti permainan catur. ”Pertemuan (pertama) ini akan menyiapkan pertemuan kedua, tetapi ada kemungkinan 25 persen bahwa pertemuan ini tidak akan berhasil,” kata Trump.

Dari pertemuan virtual pada Rabu lalu, Trump mengancam akan memberikan konsekuensi berat jika Putin tidak menyetujui perdamaian di Ukraina. Ia juga memperingatkan akan adanya sanksi ekonomi jika pertemuan pada Jumat ini tidak membuahkan hasil. Rusia kemungkinan akan menolak tuntutan Ukraina dan Eropa.

(FILES) The Saint Sophia Orthodox Church where the Reverend Michael Trefon who is of Yupik Eskimo descent, is the rector and conducts Russian Orthodox church services for his mainly Yupik Eskimo congregation in Bethel, Alaska on April 17, 2019. Presidents Donald Trump and Vladimir Putin will hold a high-stakes meeting about the Ukraine war on August 15, 2025, in Alaska, which the United States bought from Russia more than 150 years ago. Russian influence still endures in parts of the remote state on the northwest edge of the North American continent, which extends just a few miles from Russia. (Photo by Mark RALSTON / AFP)

Doa bagi perdamaian

Sementara itu, menjelang pertemuan Trump-Putin, umat Kristen Ortodoks di seluruh Alaska atau OCA berpartisipasi dalam doa selama tiga hari untuk perdamaian di Ukraina.

”Dengan para pemimpin datang ke Alaska, apa yang dapat ditawarkan Gereja? Doa untuk perdamaian,” kata Uskup Agung Alexei dari Keuskupan Sitka dan Alaska di Gereja Ortodoks Amerika.

OCA merupakan keturunan para misionaris Ortodoks Rusia yang kini telah merdeka. Para misionaris Ortodoks Rusia menyebarkan dan menanamkan iman di Alaska ketika wilayah tersebut masih merupakan wilayah Tsar pada abad ke-18 dan ke-19.

Gereja ini memiliki sekitar 80 paroki di seluruh negara bagian Alaska dan ratusan lainnya di seluruh Amerika Utara. Doa pertama yang diadakan pada hari Selasa memohon bantuan St Olga dari Kwethluk, perempuan pribumi Alaska yang dikanonisasi pada Juni sebagai santo perempuan Ortodoks pertama di Amerika Utara.

”Beliau dikenal sebagai penyembuh sejati bagi keluarga-keluarga,” kata Alexei, yang memimpin doa yang didedikasikan untuknya pada hari Selasa di Katedral Ortodoks Rusia St Innocent di Anchorage.

”Dan, karena rasa sakit dan kesulitan yang dialami oleh keluarga-keluarga di Ukraina dan juga di Rusia, rasanya menyenangkan untuk memulai dari sana,” imbuh Alexei.

An aerial view of downtown Anchorage, Alaska, with the Chugach Mountains in the background, on August 14, 2025, ahead of the August 15 scheduled meeting between US President Donald Trump and Russian President Vladimir Putin. Trump on Thursday acknowledged his high-stakes summit with Vladimir Putin may fail, and said any Ukraine deal would come through a future three-way meeting with Kyiv to "divvy things up." Russian President Vladimir Putin flies to Alaska on Friday at the invitation of Trump in his first visit to a Western country since he ordered the 2022 invasion of Ukraine that has killed tens of thousands of people. (Photo by Drew ANGERER / AFP)

Doa pada hari Rabu memohon perantaraan St Herman. ”St Herman merupakan biarawan dan misionaris awal yang dikenal karena menentang otoritas Rusia ketika mereka melakukan kesalahan terhadap rakyat,” kata Alexei.

Pada Kamis, doa-doa difokuskan pada ikon bersejarah Bunda Allah di katedral di Sitka, yang merupakan ibu kota Alaska di bawah kekuasaan Rusia. Alexei mengatakan, dirinya berharap doa-doa tersebut akan menyentuh hati para pemimpin.

Lorinda Fortuin, salah satu umat pada doa hari Selasa di Katedral Anchorage, menggaungkan pemikirannya. ”Hati saya hancur melihat saudara-saudara saya, Ukraina dan Ortodoks Rusia, saling membunuh. Apa penyebabnya?” tanyanya.

”Ini sungguh memalukan, dan saya hanya ingin melakukan apa yang saya bisa untuk membawa perdamaian ke dunia ini, dan saya yakin doa-doa saya dapat berperan dalam hal itu.”

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto