Kolombia sepakat menerima para imigran asal negaranya yang dideportasi AS. Perang tarif AS-Kolombia tertunda untuk sementara.
27 Jan 2025 21:20 WIB · Internasional
BOGOTA, SENIN — Ancaman perang tarif antara Amerika Serikat dan Kolombia untuk sementara mereda setelah Gedung Putih menyebut Bogota sepakat menerima imigran asal Kolombia yang dideportasi. Bogota meminta Pemerintah AS menghormati para imigran dalam proses pemulangan ke negara asal mereka.
”Pemerintah Kolombia telah menyetujui semua persyaratan Presiden Trump, termasuk menerima tanpa batas semua orang asing ilegal dari Kolombia yang kembali dari AS, termasuk yang menggunakan pesawat militer AS, tanpa batasan atau penundaan,” kata Gedung Putih dalam pernyataannya, Minggu (26/1/2025) malam waktu setempat atau Senin (27/1/2025) siang WIB.
Setelah Bogota disebut menerima repatriasi para imigran itu, Gedung Putih menyimpan kembali rancangan perintah untuk menerapkan tarif dan sanksi bagi Kolombia. Rancangan perintah yang mengenakan tarif dan sanksi terhadap Kolombia akan ”disimpan sebagai cadangan, dan tidak akan ditandatangani, kecuali Kolombia gagal menghormati perjanjian ini,” tambah Gedung Putih.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/27/ab6f8408ab1257f21ddfaa58b0b001f9-000_36W44GL.jpg)
Sementara di Bogota, dalam pernyataan balasan, Menteri Luar Negeri Kolombia Luis Gilberto Murillo menyebut kedua pemerintah berhasil mengatasi kebuntuan. ”Pemerintah menyiapkan pesawat kepresidenan untuk memfasilitasi pemulangan warga Kolombia yang akan tiba di negara ini pagi hari (Senin),” kata Murillo.
Ketegangan antara Washington dan Bogota terjadi dan menjurus pada perang tarif setelah Presiden Kolombia Gustavo Petro kesal dengan cara AS yang dinilai tak manusiawi dalam memulangkan warga Kolombia. Bogota menolak menerima dua pesawat militer yang membawa mereka dan memaksa putar arah.
Penolakan itu membuat Trump kesal. Trump memerintahkan penerapan tarif 25 persen terhadap produk-produk asal Kolombia. Setelah itu, tarif akan naik menjadi 50 persen setelah sepekan.
Tak hanya itu, sejumlah pembatasan juga dijatuhkan bagi pejabat Pemerintah Kolombia, mulai dari larangan bepergian ke AS dan pencabutan visa. Gedung Putih juga merencanakan menjatuhkan sanksi keuangan dan perbankan bagi Kolombia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/21/8db43dae-0af3-4ede-b28a-1eb9088300f2.jpg)
Setelah ketegangan mereda, Murillo dan Duta Besar Kolombia untuk AS Daniel Pena-Garcia Jamarillo dijadwalkan akan bertemu sejumlah pejabat tinggi Gedung Putih dalam beberapa hari mendatang untuk menindaklanjutinya, termasuk pertukaran nota diplomatik
Kolombia, seperti halnya Kanada dan Meksiko, adalah salah satu mitra dagang terbesar ketiga AS di Amerika Latin. Menurut data Biro Sensus AS, nilai perdagangan kedua negara tahun 2023 mencapai 33,8 miliar dollar AS. Surplus perdagangan AS atas Kolombia mencapai 1,6 miliar dollar AS.
Dikutip The New York Times, data Biro Sensus AS menyebut impor dari Kolombia terbesar bagi AS adalah minyak mentah senilai 5,4 miliar AS (sekitar Rp 86,4 triliun) dari total 16 miliar dollar AS (Rp 256 triliun) nilai ekspor Kolombia ke AS. Persentase impor kopi Kolombia bagi AS juga cukup besar, yakni sekitar 20 persen. Angka ini bisa berdampak pada kenaikan harga kopi Kolombia di pasar AS jika kenaikan tarif jadi diberlakukan.
Alejo Czerwonko, Kepala Investasi UBS Global Wealth Management untuk pasar berkembang Amerika, mengatakan bahwa Kolombia memiliki ketergantungan yang besar pada pasar AS karena AS adalah negara tujuan sepertiga total ekspor Kolombia. Nilai ekspor Kolombia ke AS setara dengan empat persen nilai pendapatan domestik brutonya.
Persetujuan Bogota untuk menerima kembali seluruh warga imigran asal negara itu dianggap sebuah kemenangan penting bagi pemerintahan Trump yang baru berusia kurang dari sepekan.
”Peristiwa hari ini memperjelas kepada dunia bahwa Amerika kembali dihormati,” kata Gedung Putih .
Keberatan Kolombia terhadap pemulangan imigran adalah karena perlakuan ICE (badan Pemerintah AS yang menangani imigran dan bea cukai) dalam pemulangan para imigran dinilai tidak manusiawi. Para imigran yang dideportasi itu diborgol tangan dan kakinya.
Hal ini tidak hanya dialami oleh para imigran dari Kolombia. Imigran yang akan dipulangkan ke Brasil dan Guatemala juga mendapat perlakuan yang sama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/27/b5f3e9eae0e4eaf64314a4deaaeb0a35-000_36VR2ZM.jpg)
Edgar Da Silva Moura (31), salah satu warga Brasil yang dideportasi, menuturkan perlakuan buruk yang diterima dirinya dan puluhan warga yang dideportasi. ”Di pesawat mereka tidak memberi kami air, tangan dan kaki kami diikat, mereka bahkan tidak mengizinkan kami pergi ke kamar mandi,” katanya.
Cuaca panas tanpa asupan cairan yang cukup membuat sejumlah imigran pingsan.
Presiden Petro menilai perlakuan yang diterima para imigran, termasuk yang berasal dari Kolombia, bak penjahat. Dia tidak terima.
”AS tidak bisa memperlakukan imigran Kolombia sebagai penjahat. Saya melarang masuknya pesawat AS yang membawa imigran Kolombia ke wilayah kami,” tulis Petro sebelumnya di X.
Kementerian Luar Negeri Brasil juga mengkritik perlakuan aparat imigrasi AS yang dinilainya merendahkan martabat para imigran, khususnya asal Brasil.
Semula pesawat yang membawa 88 migran Brasil, 16 agen keamanan AS, dan delapan awak, awalnya dijadwalkan tiba di Belo Horizonte, Negara Bagian Minas Gerais. Akan tetapi, karena masalah teknis, mereka berhenti di Manaus, Ibu Kota Negara Bagian Amazonas.
Di sana, para pejabat Pemerintah Brasil memerintahkan agar borgol di tangan dan di kaki para migran dilepas. Penerbangan mereka ke Belo Horizonte kemudian dialihkan menggunakan pesawat milik Angkatan Udara Brasil (FAB) atas perintah Presiden Luiz Inácio Lula da Silva.
Presiden Honduras Xiomara Castro mendesak para pemimpin negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) berkumpul dan membahas kebijakan Gedung Putih, khususnya deportasi para migran. Menurut rencana pertemuan akan dilaksanakan di Tegucigalpa, Ibu Kota Honduras, Kamis (30/1/2025). (AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase