SEPAK BOLA

Sepatu Emas Piala Dunia, Gelar Prestisius yang bak Kutukan

Alih-alih bertuah, gelar Sepatu Emas terasa seperti kutukan untuk pemain di Piala Dunia. Fontaine hingga Mbappe sudah membuktikan pencapaian tanpa mahkota itu.

09 Jun 2026 08:15 WIB · Olahraga

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Oleh Kelvin Hianusa

Jika gol adalah penentu menang atau kalah, pencetak gol layak disebut sebagai pahlawan utama. Saking spesialnya peran para pemburu gol, sampai ada penghargaan yang khusus dibuat untuk mereka, yaitu Sepatu Emas. Di Piala Dunia FIFA, trofi individual itu dihargai jauh lebih tinggi daripada biasanya.

Jika mengaku striker terbaik sejagat, kurang sah rasanya jika belum pernah memenangi Sepatu Emas di Piala Dunia. Lihat saja nama-nama yang pernah menyabet gelar prestisius tersebut. Mereka sangat mentereng, yaitu mulai dari Ronaldo Nazario, Miroslav Klose, sampai yang terakhir Kylian Mbappe.

Piala Dunia mempertemukan negara-negara terbaik dalam hal sepak bola. Di dalam setiap tim terdapat pula mesin-mesin gol paling dominan. Mereka saling bertemu untuk membuktikan siapa yang tertajam di kolong langit. Ekosistem itu layaknya sabana Afrika yang dipenuhi para predator puncak.

Dengan realitas itu, wajar jika semua mata tertuju kepada striker andalan tim nasional Norwegia, Erling Haaland, menjelang Piala Dunia 2026. Kisahnya cukup absurd. Dia merupakan penyerang tertajam di bumi, tetapi belum pernah tampil di Piala Dunia. Padahal, usianya akan genap 26 tahun pada musim panas nanti.

Haaland belum lahir saat Norwegia terakhir kali sebelumnya lolos ke Piala Dunia, yaitu pada edisi Perancis 1998. Ketika itu, ayahnya, Alfie, yang mengantar Norwegia ke panggung tertinggi. ”Sejak debut internasional pada 2019, tujuan utama saya adalah mengantar Norwegia kembali ke Piala Dunia,” ujarnya.

Penyerang timnas Norwegia, Erling Braut Haaland melakukan selebrasi setelah mencetak gol dalam pertandingan Liga Nasional Eropa antara Norwegia dan Swedia di Oslo, Norwegia, dalam arsip foto Minggu (12/6/2022). Haaland akan memperkuat Manchester City mulai musim 2022/2023 sampai kontraknya berakhir pada 30 Juni 2027.***(FILES) In this file photo taken on June 12, 2022 Norway's forward Erling Braut Haaland celebrates after the UEFA Nations League football match Norway v Sweden in Oslo, Norway. - Erling Haaland said on June 13, 2022, his transfer to Manchester City from Borussia Dortmund is a "great move" for his career as the Norwegian aims to fire the Premier League champions to more silverware. (Photo by Javad Parsa / NTB / AFP) / Norway OUT

”Tentunya banyak tekanan yang datang kepada saya, tetapi saya menyukai tekanan. Saya juga akan memberikan beban itu kepada seorang Erling Haaland jika saya bukan seorang Erling Haaland,” ujar pemain Manchester City tersebut dalam wawancara bersama GQ, April 2026.

Erling Haaland

Bagi Haaland, mencetak gol sama mudahnya seperti bernapas. Dua kali peraih Sepatu Emas Liga Inggris itu juga sedang berapi-api di timnas. Selama kualifikasi Piala Dunia, tidak ada yang bisa menandingi kesuburannya. Haaland menghasilkan 16 gol dari 8 laga untuk membawa timnya ke babak utama Piala Dunia.

Haaland pun digadang-gadang menjadi kandidat terkuat peraih gelar pencetak gol terbanyak dalam debutnya di ajang empat tahunan tersebut. Pesaing utamanya adalah Kylian Mbappe, peraih Sepatu Emas edisi Qatar 2022. Ia akan kembali ke Piala Dunia untuk ketiga kali bersama timnas Perancis.

Quote

Sejak penghargaan itu dinamai Golden Boot alias Sepatu Emas mulai edisi Afrika Selatan 2010, tidak ada satu pun pemenangnya yang menjadi juara dunia.

Ujung tombak veteran timnas Inggris, Harry Kane, juga patut dipantau. Dia sedang menjalani musim terbaiknya bersama Bayern Muenchen di usia 32 tahun. Kane sudah menghasilkan total 53 gol untuk Bayern di semua kompetisi musim ini, melebihi pemain mana pun di lima liga terbesar Eropa.

Lantas, siapa yang paling layak disemati gelar predator gol terbaik? Siapa pun itu, gelar tersebut sebenarnya tidak bermakna besar dalam konteks prestasi tim. Walaupun tim membutuhkan gol untuk menang, ternyata memiliki seorang striker paling tajam bukanlah keuntungan mutlak.

Striker Inggris, Harry Kane (kanan), melakukan selebrasi setelah berhasil mencetak gol dari titik penalti saat menghadapi Jerman. Three Lion membuat 13 peluang selama laga dengan delapan diantaranya tepat mengarah ke gawang. *** Local Caption *** England's striker Harry Kane celebrates scoring the team's third goal from the penalty spot during the UEFA Nations League group A3 football match between England and Germany at Wembley stadium in north London on September 26, 2022. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / NOT FOR MARKETING OR ADVERTISING USE / RESTRICTED TO EDITORIAL USE

Statistik sejarah

Sejarah membuktikan, sejak penghargaan itu dinamai Golden Boot alias Sepatu Emas mulai edisi Afrika Selatan 2010, tidak ada satu pun pemenangnya yang menjadi juara dunia. Mbappe adalah salah satunya yang gagal mengantar ”Si Biru” juara walaupun menciptakan delapan gol di edisi sebelumnya.

Pencetak gol terbanyak di Piala Dunia mulai diberikan penghargaan khusus pada edisi Spanyol 1982. Saat itu namanya Golden Shoe. Pemain legendaris Italia, Paolo Rossi, langsung menyabet gelar itu sekaligus menjadi juara dunia. Lalu, 20 tahun berselang, baru Ronaldo yang bisa mengulang itu di edisi Korsel-Jepang 2002.

Dari edisi pengenalan Golden Shoe sampai pergantian nama, hanya mereka berdua yang bisa menunjukkan pengaruh dari pencetak gol terbanyak. Sisanya tidak relevan. Italia bahkan berhasil menjuarai edisi Jerman 2006 tanpa ada pemain yang mencetak lebih dari dua gol di sepanjang turnamen saat itu.

Jauh sebelum itu, legenda Perancis, Just Fontaine, pernah menyuguhkan performa individu paling fenomenal dengan 13 gol di edisi Swedia 1958. Catatan itu masih bertahan sebagai rekor gol terbanyak Piala Dunia hingga saat ini. Namun, kenyataannya, Perancis hanya finis di peringkat ketiga.

Fenomena itu terjadi karena sepak bola adalah olahraga tim, bukan individu. Satu pemain saja tidak cukup untuk menentukan hasil pertandingan, apalagi dalam format turnamen panjang. ”Apa lagi yang bisa saya lakukan lebih banyak?” kata Fontaine setelah kekalahan dari Brasil, 2-5, pada semifinal edisi 1958 seperti dikutip situs resmi FIFA.

Infografik Calon Peraih Sepatu Emas

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Fontaine lebih dari itu. Faktanya, Brasil merupakan tim yang lebih baik karena diperkuat deretan pemain bintang, antara lain Pele dan Vava. Mereka memiliki banyak senjata untuk menghukum lawan, tidak hanya bertopang terhadap satu pemain.

Hal itu pula yang menjadi alasan Ronaldo bisa menjadi peraih Sepatu Emas dan juara dunia di 2002. Penampilan individunya memang fenomenal. Namun, dia juga didukung tim yang sama kuat di semua lini. Di samping Ronaldo, ada sosok Rivaldo dan Ronaldinho yang tidak kalah penting.

Kylian Mbappe

Konteks serupa berlaku untuk Mbappe. Megabintang Real Madrid itu bisa meraih gelar juara dunia di edisi Rusia 2018 walaupun hanya mencetak empat gol, separuh dari pencapaian di Qatar 2022. Capaian itu tercipta karena tim Perancis lebih matang saat itu atau sebelum proyek peremajaan skuad oleh Pelatih Didier Deschamps.

Selain itu, tim yang terlalu mengandalkan satu pemain akan sulit berkembang. Sang pemain andalan pasti dijadikan target utama pertahanan lawan. Situasi itulah yang dihadapi Mbappe. ”Argentina (di final) mengincarnya dan melakukan segala sesuatu untuk menghentikannya,” kata mantan penyerang Perancis, Louis Saha, ke Sky Sports.

Karena itu pula, Sepatu Emas sering kali hanya menjadi hadiah hiburan bagi seorang pemain. Para pemenangnya hampir selalu berada di seberang tim juara. Jika sudah tahu realitas getir itu, apakah ada yang masih berambisi meraih gelar itu di edisi mendatang?


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase