Tren ”sepatu super” yang bisa mendorong performa semakin merebak. Ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan peserta Bank Jateng Borobudur Marathon 2024.
23 Nov 2024 20:30 WIB · Olahraga
Mereka menyebutnya ”sepatu super”. Saat sepatu lari biasa hanya digunakan sebatas pelindung kaki atau fashion, sepatu dengan teknologi pelat karbon itu digadang-gadang bisa menambah kecepatan lari. Wajar saja jika di komunitas lari internasional, ”sepatu super” dikenal juga sebagai doping mekanis.
Eliud Kipchoge, peraih dua emas nomor maraton di Olimpiade, mengubah lanskap lari modern. Dia menciptakan sejarah di Vienna, Austria, pada 2019 sebagai orang pertama yang menyelesaikan maraton dalam kurang dari dua jam. Banyak faktor yang memengaruhi hasil itu, tetapi yang paling disorot adalah sepatu miliknya.
Kipchoge menggunakan sepatu Nike Alphafly. Sepatu itu memiliki sol busa setebal 40 milimeter yang berisikan tiga pelat karbon. Menurut studi yang dirilis Nike, teknologi tersebut bisa meningkatkan efisensi berlari hingga 4 persen dan meningkatkan kecepatan hingga 3,4 persen. Jadi, seperti ada mesin tambahan di kaki pelari.
Bukan kebetulan, setahun berselang tipe sepatu milik Kipchoge masuk dalam ”daftar hitam” World Athletic (WA) atau Federasi Atletik Dunia. Pelari, khusus lomba, harus menggunakan sepatu dengan ketebalan sol di bawah 40 mm dan tidak boleh lebih dari satu pelat karbon. Bantuan ”sepatu super” dinilai sudah berlebihan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/08/08/ATHLETICS-OLY-2020-2021-TOKYO_98338106_1628390676_jpg.jpg)
”Sepatu super” semakin menjamur di pasar. Perusahaan sepatu memodifikasi produk agar bisa memenuhi syarat WA. Sepatu Kipchoge, misalnya, yang langsung direvisi jadi edisi Alphafly Next% dengan ketebalan sol hanya 39,5 mm dan berisi satu pelat karbon. Meskipun demikian, masih banyak pula tipe sepatu yang ilegal untuk lomba.
Di Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, para pelari harus lebih waspada dengan penggunaan ”sepatu super”. Ajang di Magelang, Jateng, itu untuk pertama kali akan diselenggarakan dengan predikat ”Label” dari WA. Artinya, semua peraturan lomba harus menyesuaikan dengan federasi internasional, termasuk urusan sepatu.
Ada potensi diskualifikasi jika menggunakan tipe sepatu dalam ”daftar hitam”. ”WA mengatur berbagai hal, salah satunya jenis sepatu karena teknologi semakin maju. Daftar sepatu yang dilarang sudah ada di dalam daftar, kami harus menyebarkan itu (terutama untuk atlet elite),” kata Andreas Kansil, Direktur Lomba Borobudur Marathon 2024.
Salah satu sepatu ilegal untuk lomba yang masih tersebar di pasaran adalah Adidas Adizero Prime X 2. Sepatu menggunakan sol dengan ketebalan 45 mm dan dua pelat karbon. Adidas merilis edisi itu untuk penggunaan dalam latihan, bukan lomba. Informasi terkait larangan penggunaan juga dicantumkan di situs resmi mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/16/cce7cb7a-586e-47b3-b898-c14f0db0fd32_jpg.jpg)
Salah satu pelari rekreasional asal Surabaya, Emka (32), merasakan langsung efek ”sepatu super”. Dia memiliki sepatu Puma Deviate Nitro Elite 2 yang punya teknologi pelat karbon dengan ketebalan sol 36mm. ”Kalau untuk lari cepat memang berpengaruh. Langkah lebih ringan dan nggak mudah capek kakinya,” ujarnya,
Meskipun demikian, Emka kurang menyukai ”sepatu super” untuk berlomba. Dia yang bukan atlet elite, lebih sering berlari dengan kecepatan rendah. Ternyata sepatu dengan sol tebal itu kurang nyaman ketika digunakan untuk joging atau sekadar berjalan. Sepatu memang diciptakan khusus untuk memaksimalkan kemampuan atlet elite.
”Kalau dipakai jalan, malah sakit. Bagian depan sepatu, kan, seperti ngambang, lebih tinggi. Jadi idealnya memang buat berlari tepat karena, kan, posisinya jinjit. Kalau jalan, jadi mau jatuh terus. Kalau lomba kan nggak selalu lari, apalagi saat capek, jadi belakangan ini ikut lomba justru pakai sepatu biasa lebih enak,” kata Emka.
Teorinya, pelat karbon berpengaruh meningkatkan kekakuan di tekukan sol bagian tengah. Sepatu seakan bisa menyimpan dan mengembalikan energi lagi dalam setiap langkah pelari, seperti menciptakan efek pegas. Pengguanaan energi jauh lebih efisien dan kekelahan otot berkurang signifikan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/39cec184-8800-4dc3-a28c-e7ce3e00f9cd_jpg.jpg)
Terlepas dari banyak kelebihan, ”sepatu super” diisukan berpotensi menyebabkan cedera stres tulang kaki. Menurut studi di jurnal Sports Medicine, masalah yang paling sering muncul adalah nyeri di dekat pergelangan kaki. Adapun penelitian dilakukan terhadap pelari yang hanya sekali menggunakan hingga enam bulan pemakaian.
Direktur Medis Borobudur Marathon 2024 Andi Kurniawan mengatakan, jurnal itu belum cukup untuk menyimpulkan ancaman berarti dari ”sepatu super”. Sampel kasus masih terlalu sedikit dan belum ada penelitian lebih dalam lagi. Dia pun mempersilakan penggunaan sepatu itu untuk lomba, selama bukan tipe yang dilarang.
Alih-alih teknologi, dokter spesialis kedokteran olahraga itu lebih fokus terhadap kondisi sepatu. Baginya, sepatu yang nyaman dipakai jauh lebih penting dari teknologi apa pun. ”Jadi, jangan pakai sepatu yang sudah terlalu lama. Sepatu ada umurnya. Juga jangan yang baru karena butuh adaptasi. Pakai yang sudah digunakan saat berlatih lari jauh. Saya tidak mau menyebutkan merek atau tipe, tetapi kondisinya harus seperti itu," kata Andi.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko Prihananto