Inggris tampil mengesankan saat mengalahkan Serbia dengan skor telak, 5-0, pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 di Belgrade.
10 Sep 2025 12:03 WIB · Olahraga
Seperti bukan Inggris. Penampilan tim ”Tiga Singa” ketika membantai Serbia, 5-0, pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Rajko Mitić, Belgrade, Serbia, Rabu (10/9/2025) dini hari WIB, membuat pendukungnya terkesima.
”Itu adalah performa terbaik Inggris yang pernah saya saksikan setelah bertahun-tahun,” demikian komentar pada salah satu forum sepak bola Inggris. Jika tidak melihat seragam atau nama para pemain yang bertanding, bisa saja dikira yang bermain adalah timnas Spanyol.
Tak heran banyak yang terkesima karena selama masa kepelatihan Gareth Southgate dan kemudian empat laga kualifikasi bersama Thomas Tuchel, permainan Inggris kerap dikritik monoton, membosankan, dan minim kreativitas. Bersama Southgate, meski berhasil menembus dua final Piala Eropa, permainan Inggris jauh dari mengesankan.
Ciri khas permainan Southgate adalah tampil aman, lebih bermain agar tidak kalah, bukan bermain untuk menang. Padahal, tim Tiga Singa memiliki pemain-pemain terbaik di dunia seperti Harry Kane, Jude Bellingham, Bukayo Saka, Phill Foden, dan Cole Palmer.
Jika ditarik lebih jauh lagi, barangkali permainan mengesankan terakhir Inggris adalah ketika mengalahkan Jerman 5-1 di Muenchen, 1 September 2001, pada laga kualifikasi Piala Dunia 2002 di eranya Pelatih Sven-Göran Eriksson. Namun, penampilan itu tidak berlanjut meski Inggris memiliki pemain-pemain legendaris seperti Steven Gerrard, Paul Scholes, Rio Ferdinand, Frank Lampard, Michael Owen, hingga Wayne Rooney.
Selepas Southgate, ditunjuk pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel, dengan harapan mampu mengakhiri 60 tahun puasa gelar Tiga Singa. Terakhir kali Inggris meraih trofi utama adalah ketika mereka memenangi Piala Dunia 1966 saat menjadi tuan rumah.
Namun, dalam empat pertandingan kualifikasi sejak menangani skuad Tiga Singa, Tuchel tak juga membuat permainan Kane dan kawan-kawan membaik. Bahkan, sejumlah pihak menyebut para pemain menunjukkan penurunan performa, terutama ketika hanya menang 2-0 saat menjamu Andorra.
Kemenangan itu didapat dengan cara membosankan, bahkan dianggap lebih buruk dibandingkan era Southgate. Muncul pula seruan agar Tuchel dicopot meski Inggris selalu menang dalam empat pertandingan kualifikasi Grup K, tanpa kebobolan.
Pertandingan menghadapi Serbia pun menjadi ujian terbesar bagi Tuchel. Menghadapi lawan terkuat di Grup K, kekalahan bisa berarti tamatnya nasib mantan pelatih Chelsea itu.
Namun, saat menghadapi lawan yang juga belum pernah kebobolan pada kualifikasi, Inggris justru tampil sempurna, dengan gaya permainan antitesis dari masa Southgate. Mereka bermain dengan apik, pemain berani melakukan umpan-umpan progresif, yang membuat Serbia keteteran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/10/0a5f88f0274df03c0cfaf6c215179afd-wires_photo_2025_09_10T111931.688.jpg)
Inggris membungkam pendukung tuan rumah yang dikenal militan sejak menit pertama. Serbia bahkan harus dikenai sanksi dari UEFA akibat aksi suporter mereka, yaitu harus mengosongkan 15 persen kapasitas stadion saat menjamu Inggris. Permainan penuh determinasi Kane dan kawan-kawan membuat tim Serbia tidak bisa berkembang.
Dominasi Inggris itu tecermin pula dalam statistik, selain lima gol yang dicetak oleh Kane, Madueke, Ezri Konsa, Marc Guehi, dan Marcus Rashford. Mereka menguasai 70 persen bola, melakukan 24 tembakan berbanding empat, 12 tembakan di antaranya mengarah ke gawang. Inggris juga menciptakan enam peluang berbahaya, sementara tak sekali pun memberi peluang pada Serbia.
Permainan progresif Inggris itu terlihat pula pada jumlah sentuhan di kotak penalti lawan yang mencapai 42 kali, berbanding empat yang dimiliki Serbia. Penampilan sempurna itu didapat ketika sejumlah pemain bintang tidak tampil, seperti Bellingham, Palmer, Saka, dan Trent-Alexander Arnold.
Tuchel pun meminta agar para pemain Inggris menggunakan permainan menakjubkan saat melawan Serbia sebagai standar yang harus mereka pertahankan dalam perjalanan menuju Piala Dunia. Kemenangan atas Serbia membuat Inggris memuncaki Grup K dan hanya membutuhkan maksimal lima poin saja dari tiga laga sisa.
”Sudah kubilang! Anda perlu sedikit percaya pada apa yang kami lakukan,” kata Tuchel.
Menurut Tuchel, para timnya bermain pada level yang tinggi dan akan menjadi standar pada pertandingan-pertandingan berikutnya. ”Ini adalah kemenangan menentukan menghadapi lawan yang sulit di arena yang sulit. Tidak ada sikap negatif di lapangan. Bagi saya, itu adalah kerja sama tim dalam bentuknya yang paling murni,” ujar Tuchel.
Kane, yang membuka gol lewat sundulan di Belgrade pada menit ke-33, mengaku terkesan dengan cara Inggris melakukan serangan ke lini pertahanan Serbia sejak menit pertama. ”Saya banyak bicara kemarin tentang bagaimana kami ingin bermain, bermain menyerang dan agresif, dan saya pikir kami menunjukkan level kami hari ini,” katanya.
Menanggapi kritik atas penampilan buruk Inggris sebelum pesta gol melawan Serbia, Kane menambahkan bahwa permainan mereka sebenarnya cukup bagus. Hanya saja, permainan mereka saat melawan Andorra masih belum mencapai level yang mereka inginkan.
”Saya tahu itu bukan penampilan yang membuat orang terkesan, tetapi kami melakukan apa yang kami perlu lakukan,” ujar Kane. (AP/AFP)
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Antonius Tomy TrinugrohoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan