City unggul secara psikologis, sementara Arsenal sudah membuktikan diri dengan kedalaman dan kualitas skuad yang berujung konsistensi. Siapa yang akan juarai liga?
10 Feb 2026 07:24 WIB · Olahraga
AP Photo/Rui Vieira
Peta perburuan gelar Liga Inggris masih sama secara matematis, tetapi berubah dari sisi psikologis. Manchester City memang masih tertinggal enam poin dari pemuncak klasemen Arsenal, jarak yang sama dengan pekan sebelumnya. Namun, momentum seolah memihak ke arah City setelah kemenangan dramatis di Stadion Anfield.
City diperkirakan akan kehilangan poin di markas Liverpool, Stadion Anfield. Prediksi itu terbukti hingga menit ke-83, lalu berhasil dipatahkan Erling Haaland dan rekan-rekan saat peluit panjang. City mencuri kemenangan 2-1 seusai tertinggal lebih dulu di stadion yang terkenal sangat angker tersebut, Senin (9/2/2026) WIB.
Arsenal sempat menjauhkan jarak menjadi sembilan poin pada sehari sebelumnya. Berkat hasil cemerlang di Anfield, tim asuhan Manajer Pep Guardiola itu kembali memangkas jarak ketinggalan menjadi enam poin. City sebenarnya tidak diuntungkan dari hitung-hitungan poin. Mereka masih ketinggalan jumlah poin yang sama di tengah sisa laga yang berkurang.
Superkomputer Opta Analyst juga tidak melihat hal spesial dari kemenangan City. Mereka tetap jauh mengunggulkan Arsenal untuk menjuarai liga. Peluang Arsenal juara mencapai 90,1 persen, sementara City hanya diberikan kans 8,2 persen. Adapun liga sudah memasuki sepertiga akhir jadwal, menyisakan 13 pertandingan lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/09/11c314f701d4bbbdbcf276213cd72637-wires_photo_2026_02_09T034956.822.jpg)
Wajar jika kenaikan peluang City hanya naik tipis dalam simulasi itu, meningkat 2,3 persen dari pekan sebelumnya. Prediksi hanya menghitung dari sisi matematis. Padahal, menurut mantan kiper City, Joe Hart, hal terpenting dari kebangkitan di Anfield adalah soal psikologis tim. ”Saya pikir mereka kembali percaya bahwa mereka ada di perburuan gelar,” kata Hart.
City seolah mengalami reinkarnasi di Anfield. Moral skuad pasti terangkat dengan kemenangan tandang pertama di liga selama 2026. Mereka sempat dibayangi tren tiga kali gagal menang di kandang lawan pada tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, City membalikkan momentum itu di markas tim juara bertahan.
Belum lagi, City bisa tampil lebih lepas karena hanya berstatus kuda hitam. Tekanan besar justru berada di pundak Arsenal yang sudah menjadi favorit sejak paruh pertama musim. Adapun sejarah turut berpihak kepada City yang selalu memenangi perebutan gelar dengan Arsenal dalam dua kesempatan terakhir, di musim 2022-2023 dan 2023-2024.
”Jarak itu (dengan Arsenal) memang besar, tetapi semua masih bisa terjadi. Tiga belas laga itu banyak, belum lagi ada Piala FA, final Piala Liga Inggris, dan Liga Champions yang akan datang. Cedera bisa muncul kapan saja. Jadi, yang bisa kami lakukan hanyalah terus menekan Arsenal, lalu memanfaatkannya jika mereka lengah,” tutur Guardiola.
Guardiola menatap sepertiga akhir musim dengan modal besar. Selain mendapatkan tambahan di bursa januari dengan kedatangan bek Marc Guehi dan penyerang Antoine Semenyo, banyak pemain yang mengambil peran lebih besar. Bek sayap Nico O’Reilly mulai dipercaya dan nyaman di posisi gelandang, sementara penyerang Omar Marmoush semakin tajam sepulang dari Piala Afrika.
Meskipun begitu, City masih harus membuktikan banyak hal. Mereka belum pernah menang beruntun di liga sejak akhir Desember. Konsistensi menjadi problem terbesar. Itu tidak terlepas dari performa sang penyerang andalan, Haaland, yang belum mencetak gol dari permainan terbuka sejak awal tahun. Dua gol Haaland di liga tahun ini dihasilkan dari hadiah penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/10/496e42520d2d8533c751ea6d3858f7af-Arsenal_v_Sunderland_Premier_League_Emirates_Stadium.jpg)
Terlepas apa pun yang dilakukan City, takdir juara masih ada dalam genggaman Arsenal. ”Si Meriam” tinggal membutuhkan 11 kemenangan di jadwal tersisa untuk memastikan gelar juara. Jumlah itu bisa berkurang seandainya City kehilangan poin. Dengan rekor cemerlang Arsenal sejauh ini (17 menang, 5 seri, 3 kalah), prediksi Opta Analyst sangat beralasan.
Kedalaman dan kualitas skuad Arsenal tidak perlu diragukan lagi musim ini. Pertanyaannya lebih ke soal mentalitas tim asuhan Mikel Arteta. Mereka akan dibayangi kegagalan beruntun di tiga musim terakhir. Adapun Declan Rice dan rekan-rekan hanya menjadi pendamping juara, sebatas runner-up sejak musim 2022-2023.
Menurut Arteta, mereka sudah belajar banyak dari musim-musim sebelumnya. Mereka hanya ingin fokus ke diri sendiri, melupakan tekanan dari para pesaing. ”Kami masih harus memenangkan banyak laga untuk mencapai yang kami inginkan. Jadi, tidak ada fokus ke hal lain. Kami hanya perlu terus berkembang dan bersiap menghadapi laga berikutnya,” katanya.
Ucapan Arteta memang terdengar klise, tetapi mentalitas di skuad Si Meriam benar-benar berubah. Mereka selalu merespons kekalahan dengan sangat baik. Setiap kali kalah, mereka langsung menciptakan laju positif beruntun. Contohnya, setelah kekalahan terakhir dari Manchester United, Arsenal berhasil memenangi empat laga beruntun di seluruh kompetisi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/10/d050622b17ace0ffb48aaa0df3681610-Arteta_vs_Guardiola.jpg)
Persaingan Arsenal dan City di sisa musim masih sangat menarik. Sebab, kedua tim masih akan bertemu di Stadion Etihad pada pertengahan April. Jika City bisa menipiskan jarak hanya jadi tiga poin sebelum duel tersebut, mereka berpotensi mengudeta Arsenal dari puncak klasemen. Adapun setelah laga itu liga tinggal menyisakan lima pekan.
Karena itu, Arsenal dan City sama-sama harus menjaga momentum jelang duel bernuansa final tersebut. Arsenal harus menjauhkan keunggulan poin, sementara City harus menipiskan jarak. Tiga pekan ke depan pun akan sangat krusial. Mereka bergantian tampil lebih dulu dan akan memiliki keunggulan jumlah laga.
City akan bermain lebih dulu saat menjamu Fulham di Stadion Etihad, Kamis dini hari WIB. Mereka bisa menipiskan jarak jadi tinggal tiga poin. Arsenal baru akan bertandang ke markas Brentford pada Jumat dini hari. Menariknya, Arsenal memainkan tiga laga sampai akhir pekan depan saat City hanya menghadapi dua laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/09/9e19bbd21c7e07b650d850ad4a9fba0a-wires_photo_2026_02_09T035012.986.jpg)
Jika mampu melewati seluruh laga itu dengan kemenangan, Arsenal bisa unggul setidaknya sembilan poin pada akhir pekan depan. Hanya saja, Si Meriam dinanti ujian berat. Mereka harus menghadapi tiga laga tandang beruntun, ke markas Brentford, Wolverhampton Wanderers, dan tim rival abadi Tottenham Hotspur.
Alhasil, perebutan titel juara musim ini pun masih sangat panjang dan berliku. Banyak tikungan di setiap pekan yang bisa menjadi titik jatuh atau bangkit bagi Arsenal dan City. Bagian terbaik dari rivalitas kedua tim itu baru akan dimulai.
(AP/Reuters)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra