Setelah dilanda perang 21 bulan, banyak warga Gaza kelaparan.
15 Jul 2025 12:01 WIB · Internasional
Ratusan warga Palestina yang putus asa, Senin (14/7/2025), mencari makanan di dapur umum yang penuh sesak di kota Gaza. Pemandangan serupa menjadi rutinitas bagi ribuan warga Gaza yang tersebar dan masih bertahan di reruntuhan kota.
Ratusan pria dan wanita dewasa beradu strategi dengan anak-anak untuk mendapatkan makanan secepat mungkin. Mereka menyorongkan panci aluminium atau plastik sedekat mungkin ke petugas yang sedang membagi makanan panas. Terkadang disertai ucapan dan makian karena saling dorong sesama mereka.
Perang yang terjadi sejak Oktober 2023 antara Israel dan Hamas telah menghancurkan kota Gaza. Perang yang dipicu oleh penyerbuan Hamas ke Israel yang menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menculik 251 orang lainnya menjadi pemicu perang terbuka di antara mereka. Selain itu, perang juga menyebabkan kekurangan makanan, bahan bakar, dan air bersih di Gaza.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/15/56e2f35f-bf9d-4dd1-92d0-d6a8f87754cb_jpg.jpg)
Setidaknya dalam dua jeda gencatan senjata, mereka saling menukar tawanan diakhir tahun 2024 dan awal 2025. Namun, genjatan senjata gagal dilanjutkan ketika tuntutan Israel agar Hamas membebaskan sisa sandera tidak dipenuhi. Hamas disinyalir masih menahan 58 tawanan, 23 orang di antaranya diyakini masih hidup.
Israel lantas memblokade bantuan pada awal Maret 2025. Sekitar 2 juta warga Palestina yang masih bertahan di sekitar Gaza terpaksa bertahan dan menyesuaikan dengan kondisi yang sangat terbatas.
Antrean panjang warga yang didominasi anak-anak dan orang tua sejak itu selalu terlihat saat diadakan pembagian makanan. Terbatasnya bahan makanan yang tersedia membuat kualitas makanan pun harus diturunkan dari yang seharusnya.
Lima truk bantuan pertama memasuki Gaza pada 19 Mei 2025 waktu setempat, setelah hampir tiga bulan blokade Israel terhadap makanan, obat-obatan, dan pasokan lainnya membawa harapan bagi penduduk Gaza. Sejak itu, bantuan memang terus mengalir masuk, tetapi masih jauh dari kata mencukupi bagi sekitar 2 juta penduduk Palestina.
Sejak itu, sering kali terjadi serangan yang menyasar antrean bahan makanan dan air bersih. Banyak korban jatuh adalah warga sipil dan anak-anak yang tidak terlibat dalam perangan. Warga Palestina juga beberapa kali menjarah bahan makanan dari gudang-gudang yang dikoordinasi PBB dan kelompok kemanusiaan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/e3de5854-1314-4faf-8389-1310ebb3f5e7_jpg.jpg)
Kejadian memilukan dan menimbulkan banyak korban terjadi pada 16 Juni 2025. Sedikitnya 53 orang tewas dan sekitar 200 orang terluka saat ribuan warga Palestina berkumpul untuk menerima tepung di dekat pusat bantuan di kota selatan Khan Yunis.
Antrean menjadi tidak terkendali ketika warga berebutan karena takut kehabisan bantuan. Militer Israel menembaki warga yang mereka sebut sedang menjarah bantuan warga sipil. Kejadian serupa terus terulang hampir setiap bantuan memasuki wilayah Palestina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/12/d55f9797-9b7c-4b3a-b582-50b38d919f7a_jpg.jpg)
Badan-badan PBB, termasuk yang menyediakan makanan dan perawatan kesehatan, 14 Juli 2025, mengulangi peringatan yang dibuat pada akhir pekan bahwa tanpa bahan bakar yang memadai, mereka ”kemungkinan besar akan terpaksa menghentikan operasi mereka sepenuhnya”.
Dalam pernyataan bersama, mereka mengatakan bahwa rumah sakit dan ambulans tidak bisa lagi beroperasi. Tanpa bahan bakar, transportasi, produksi air, sanitasi, dan telekomunikasi akan terhenti, sementara toko roti dan dapur umum tidak dapat beroperasi.
Badan-badan tersebut mengonfirmasi bahwa sekitar 150.000 liter bahan bakar telah tiba di Gaza minggu lalu dalam pengiriman pertama dalam 130 hari. Namun, mereka mengatakan jumlah tersebut hanya sebagian kecil dari kebutuhan harian untuk menjaga kehidupan sehari-hari dan operasi bantuan penting tetap berjalan.
”Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mitra kemanusiaan meminta agar bahan bakar harus diizinkan masuk ke Gaza dalam jumlah yang cukup dan konsisten untuk mendukung operasi penyelamatan jiwa,” kata mereka.
Badan-badan yang menandatangani pernyataan tersebut adalah kantor kemanusiaan PBB (OCHA), badan pangan (WFP), organisasi kesehatan (WHO), badan anak-anak (Unicef), badan yang membantu pengungsi Palestina (UNRWA), badan kependudukan (UNFPA), badan pembangunan (UNDP), serta UNOPS yang mengawasi pengadaan dan menyediakan layanan manajemen.
Perang udara dan darat Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza dan mengusir sekitar 90 persen penduduk dari rumah mereka. Untuk bertahan hidup, mereka bahkan bertaruh nyawa demi sepiring nasi.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan