Sepotong Harapan di Gaza

Sudah saatnya penderitaan warga Gaza berakhir. Setipis apa pun harapan yang ada patut diperjuangkan.

20 Jan 2025 07:10 WIB · Internasional

Oleh Fransisca Romana Ninik W

Ada secercah harapan bagi warga Gaza saat Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata. Merekalah yang paling menderita selama perang berkecamuk antara kedua pihak sejak Oktober 2023. Sekuat tenaga mereka bergantung pada harapan itu karena begitu rapuhnya gencatan senjata yang telah disepakati.

Jeda pertempuran pernah disepakati di Gaza pada November 2023. Tak urung perang pecah lagi. Israel terus menggempur Gaza. Kondisi kehidupan warga Gaza makin terpuruk.

Meski demikian, pengumuman gencatan senjata oleh mediator pada Rabu (15/1/2024) tetap membawa asa bagi mereka. Di tengah buruknya kondisi hidup, Mohammed Hanoun bertekad kembali ke tempat tinggalnya di Al-Karama, Gaza utara, bersama keluarganya. Dilansir laman UN News, Hanoun mendapat kabar rumahnya rata dengan tanah akibat serangan pesawat nirawak (drone).

”Rencana saya adalah membersihkan puing-puing, mendirikan tenda di atas tanah saya, dan hidup di sana. Yang saya pikirkan hanya melihat rumah saya. Saya harap Gaza akan dibangun kembali seperti sebelumnya dan hidup kami kembali seperti semula,” tutur Hanoun.

A man sits outside a tent at a camp for people displaced by conflict in Bureij in the central Gaza Strip on January 17, 2025 following the announcement of a truce amid the ongoing war between Israel and Hamas. (Photo by Eyad BABA / AFP)

”Saya ingin kembali ke kota Gaza untuk satu alasan, bertemu ayah saya,” ujar Sami Abu Tahoun, anak yang terpaksa meninggalkan kota Gaza akibat perang.

Seperti Abu Tahoun, Ayman Abu Radwan kehilangan rumahnya. ”Kami sekarang ingin berpikir tentang masa depan. Sudah cukup kematian dan kehancuran ini. Kami lelah. Kami harus bertahan di tengah musim panas menyengat dan musim dingin membeku. Anak-anak sekarat. Saya berharap keadaan kami membaik. Kami layak mendapatkan hidup lebih baik,” papar Abu Radwan.

Harapan-harapan semacam itu menggema di sejumlah tempat di Gaza. Hanya itu yang bisa mereka pegang saat ini. Sebab, banyak pihak menilai betapa mudahnya kesepakatan gencatan senjata itu berakhir dalam sekejap.

Bukan penghentian konflik

Para pengamat mengatakan, penting untuk menekankan bahwa kesepakatan itu adalah gencatan senjata, bukan penghentian konflik. Para pejabat Israel telah menekankan ini bukan kesepakatan untuk mengakhiri perang, sementara Hamas masih berkuasa di Jalur Gaza.

Al Jazeera melaporkan, kesepakatan gencatan senjata Hamas-Israel membawa optimisme akan berakhirnya perang selama 15 bulan terakhir di Gaza. Namun, masih ada ketidakpastian apakah kesepakatan itu akan berjalan sesuai rencana.

Gencatan senjata disepakati berjalan dalam tiga tahap. Pertama, pertempuran di Gaza berhenti selama enam pekan. Hamas membebaskan 33 sandera warga Israel dari Gaza, ditukar dengan 737 tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Kedua, semua sandera Israel dibebaskan dengan imbalan penarikan sepenuhnya militer Israel dari Gaza dan menjaga ketenangan. Ketiga, mencakup pembangunan kembali Gaza dan pengelolaan pemerintahan.

A woman speaks on a phone outside a tent pitched by the rubble of a destroyed building at a camp for people displaced by conflict in Bureij in the central Gaza Strip on January 17, 2025 following the announcement of a truce amid the ongoing war between Israel and Hamas. (Photo by Eyad BABA / AFP)

”Israel sangat jago dalam hal menghancurkan gencatan senjata dan membuatnya tampak itu bukan kesalahannya. (Kesepakatan) Ini lebih sebagai jeda sementara dibandingkan solusi jangka panjang,” kata Mairav Zonszein, pakar Israel-Palestina pada International Crisis Group, kepada Al Jazeera.

Diana Buttu, pakar Palestina dan mantan negosiator Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), juga khawatir ketidakjelasan kesepakatan memungkinkan Israel mengakhirinya setiap saat. Kata-kata dalam kesepakatan, menurut dia, tidak jelas sehingga bisa saja tidak dipatuhi.

Quote

(Kesepakatan) Ini lebih sebagai jeda sementara dibandingkan solusi jangka panjang.

Sementara Marika Sosnowski, pakar keamanan Universitas Melbourne dengan spesialisasi isu Timur Tengah, menilai kesepakatan gencatan senjata tidak akan mengakhiri perang atau membawa perdamaian abadi. ”Gencatan senjata bukan obat ampuh bagi perang, trauma, penghilangan tempat tinggal, kelaparan, dan kematian yang harus ditanggung warga Palestina dan Israel sejak 7 Oktober 2023, dan mungkin akan terus mereka tanggung hingga lama kemudian,” katanya.

Perlu ada pemantauan terus-menerus dan tanggung jawab dari kedua pihak yang berkonflik. Mereka perlu secepatnya kembali ke meja perundingan untuk menjaga tahap-tahap gencatan senjata berjalan.

Momentum

Meski demikian, Yossi Mekelberg, rekanan konsultasi senior Program Timur Tengah dan Afrika Utara di laman Chatham House, mengungkapkan, ada prospek realistis bahwa gencatan senjata akan menciptakan momentum konstruktif. Momentum ini akan mengarah pada fase-fase lanjutan untuk mengakhiri perang di Gaza, mengembalikan semua sandera, dan membebaskan para tahanan.

”(Gencatan senjata) Juga akan menciptakan cakrawala baru bagi pembangunan kembali masyarakat dan politik Gaza sebagai bagian dari pemerintahan Palestina yang lebih luas,” kata Mekelberg.

Di samping berhentinya pertempuran, hal penting lain dari kesepakatan gencatan senjata adalah mengalirnya bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza. Bantuan bisa didistribusikan secara lebih aman jika pertempuran berhenti. Dengan demikian, bantuan benar-benar sampai kepada warga Gaza.

A man speaks with a boy standing on a broken concrete beam by the rubble of a collapsed building at a camp for people displaced by conflict in Bureij in the central Gaza Strip on January 17, 2025 following the announcement of a truce amid the ongoing war between Israel and Hamas. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Tidak ada warga Gaza yang tidak menderita. Meningkatnya jumlah bantuan dan distribusi yang makin efektif bisa mencegah penderitaan lebih jauh bagi warga sipil. Hal ini pada akhirnya memungkinkan mereka mulai membangun kembali hidup.

Menurut media Israel, Haaretz, skenario paling optimistis adalah ketenangan abadi di Gaza, ditambah aliran dana rekonstruksi sebagai imbalan atas dilucutinya kekuasaan Hamas. Meski demikian, semua masih bergantung pada banyak faktor: kesediaan Israel berkompromi, agenda presiden terpilih AS Donald Trump di kawasan, dan aktor-aktor di Palestina.

Trump pada menit-menit terakhir ”masuk” ke perundingan gencatan senjata dengan mengirimkan utusan, yaitu Steve Witkoff. Kehadiran Witkoff mengubah dinamika perundingan yang pada akhirnya disepakati.

Yang paling penting dari seluruh pusaran proses itu semestinya adalah warga Gaza. Sudah saatnya penderitaan mereka berakhir. Setipis apa pun harapan di Gaza patut diperjuangkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi