Negara minim sumber daya energi akan terdampak negatif dari konflik yang melibatkan kawasan produsen energi. Asia Pasifik dan Eropa merupakan wilayah defisit energi
01 Mar 2026 16:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
AFP/COSTAS METAXAKIS
Serangan Amerikat Serikat dan Israel ke Iran saat ini berpotensi besar memengaruhi situasi ekonomi dunia. Serangan AS dengan dalih menghancurkan kekuatan militer berikut pangkalan rudal balistik antarbenua milik Iran disikapi negeri Persia ini dengan menutup Selat Hormuz dan melakukan serangan balasan ke sejumlah negara. Selain menyasar Israel, Iran juga menyerang sejumlah aset AS di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Jordania, Arab Saudi, dan Irak. Potensi resesi ekonomi di ambang pintu.
Operasi militer AS dan Israel yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) dini hari waktu AS telah menghantam sejumlah titik lokasi, temasuk area di sekitar kantor agung Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Akibat serangan gabungan ini, Pemimpin Tertinggi Iran dikabarkan terbunuh. Stasiun televisi Iran dan kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan Khamenei meninggal dan mengumumkan masa berkabung selama 40 hari di seluruh negeri.
Selain Khamenei, ada sejumlah pejabat tinggi pertahanan yang juga dilaporkan tewas dalam serangan gabungan itu. Mereka, antara lain, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh, Panglima Angkatan Darat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Pakpour, Kepala Biro Militer Pemimpin Tertinggi Khamenei Mohammad Shirazi, dan Sekretaris Dewan Keamanan Ali Shamkhari.
Terbunuhnya sejumlah tokoh penting tersebut membuat Presiden Iran Masoud Pezeshkian berjanji akan merespons agresi militer AS-Israel dengan segenap kekuatan. IRGC juga mengatakan akan mulai melakukan operasi penyerangan dengan skala besar dalam sejarah Republik Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/01/857c3181-5d98-4679-83bd-48c494297076.jpg)
Kemelut yang terjadi di Timur Tengah itu berisiko bagi kondisi geoekonomi global. Apabila konflik tidak segera mereda, akan terjadi kenaikan harga energi dunia yang sangat berisiko memicu inflasi dan juga resesi ekonomi.
Hal itu disebabkan kawasan Timur Tengah merupakan produsen dan sekaligus pengekspor minyak bumi terbesar di dunia. Sebagian besar komoditas ini didistribusikan secara internasional melalui Selat Hormuz, yang sedang ditutup oleh otoritas Iran akibat serangan AS dan Israel.
Memanasnya ketegangan AS dan Iran sejak awal tahun ini dalam negosiasi program nuklir Iran membuat sentimen negatif terhadap pergerakan harga minyak dunia. Pada pertengahan Februari lalu, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, meninggalkan kawasan Karibia dan menuju ke Timur Tengah.
Menjelang akhir Februari, kapal induk terbesar ini telah tiba di pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Souda, Kreta, Yunani, untuk bergabung dengan kapal induk USS Abraham Lincoln. Kekuatan militer besar ini untuk merespons antisipasi ketegangan antara AS dan Iran.
Situasi geopolitik tersebut mendorong harga minyak dunia beranjak naik. Berdasarkan data Bloomberg, minyak bumi jenis Nymex pada 17 Februari 2026 senilai 62,22 dolar AS/barel. Seiring meningkatnya ketegangan negosiasi AS-Iran, harga minyak terus merangkak naik menjadi 66,31 dolar AS/barel pada 23 Februari 2026.
Sehari sebelum serangan AS-Israel terjadi, yakni pada 27 Februari 2026, harga minyak kembali naik menjadi 67 dolar AS/barel. Kemungkinan besar, pascaserangan AS-Israel pada akhir pekan kemarin membuat harga minyak dunia pada perdagangan aktif minggu depan akan terus meningkat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/dd14400adabffd1f1c5235338f1cad89-24022026_ANU_AFP_Jalur_Penting_Selat_Hormuz_mumed.jpg)
Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah sangat rawan membuat harga minyak dunia melonjak dan berisiko bagi resesi dunia. Berdasarkan data Energy Institute Statistical Review of World Energy 2025, wilayah Timur Tengah pada tahun 2024 mampu memproduksi minyak bumi sebanyak 30,12 juta barel per hari (BPH).
Setidaknya, ada lima negara Timur Tengah yang berkontribusi besar pada tingginya produksi minyak, yakni Arab Saudi sekitar 10,86 juta BPH, Iran 5 juta BPH, Irak 4,3 juta BPH, Uni Emirat Arab 4 juta BPH, dan Kuwait 2,7 juta BPH. Negara lainnya, seperti Oman, Suriah, dan Yaman, rata-rata kurang dari 1 juta BPH.
Dari seluruh produksi yang mencapai 30 juta BPH tersebut, sekitar 70 persen atau lebih dari 20 juta barel per hari diekspor ke luar Timur Tengah. Sebagian besar produk ekspor minyak bumi tersebut dikapalkan melalui Selat Hormuz yang saat ini tengah ditutup Iran.
Dapat dibayangkan, ketika kebutuhan minyak bumi dunia yang berkisar 100 juta BPH mengalami gangguan suplai sekitar 20 juta BPH, hal itu akan memicu lonjakan harga yang sangat tinggi. Bahkan, potensi dampak buruknya jauh lebih besar dibandingkan lonjakan harga minyak dunia saat dimulainya krisis Rusia-Ukraina beberapa tahun silam.
Jika dibandingkan secara neraca perdagangan, Rusia sebagai salah satu produsen minyak bumi dunia rata-rata memproduksi sekitar 10 juta BPH dengan konsumsi dalam negerinya sekitar 3,8 juta BPH. Artinya, ada sekitar 6 juta BPH yang didistribusikan ke negara lain sebagai produk ekspor.
Pada masa sebelum konflik Rusia-Ukraina, pasar energi Rusia sebagian besar untuk memenuhi konsumsi wilayah Eropa. Jadi, meletusnya konflik Rusia-Ukraina kala itu berdampak pada inflasi yang tinggi di sebagai besar Eropa dan kenaikan harga minyak dunia secara umum. Bahkan, Indonesia pun terimbas sehingga pemerintah mengurangi subsidi BBM pada Oktober 2022.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/04/a13b50df-ad93-4060-9f17-2e3d6e9ab175.jpg)
Konflik AS-Israel dan Iran saat ini potensi dampaknya kemungkinan akan jauh lebih besar secara global. Pasalnya, ada sekitar 20 juta BPH atau seperlima suplai energi minyak bumi dunia akan terimbas penutupan Selat Hormuz. Apalagi, produk minyak bumi dari Timur Tengah disuplai ke sejumlah negara di dunia. Beberapa di antaranya ialah India, China, Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Indonesia, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya.
Dapat dibayangkan risiko yang ditimbulkan akibat kelangkaan suplai energi yang memicu kenaikan impor minyak bumi sehingga berimbas pada inflasi harga-harga secara umum di sejumlah negara tersebut. Indonesia akan menjadi salah satu negara yang akan mengalami tekanan berat secara ekonomi akibat fenomena konflik di Timur Tengah saat ini.
Berdasarkan data Energy Institute Statistical Review of World Energy 2025, produksi minyak bumi Indonesia tahun 2024 hanya 613.000 BPH. Jumlah ini terus menyusut dari satu dekade silam yang pernah mencapai 840.000 BPH. Jumlah produksi saat ini sangat timpang dengan kebutuhan konsumsi produk minyak bumi per hari yang sekitar 1,6 juta BPH pada 2024. Kondisi ini membuat Indonesia menjadi negara berstatus net importer, yang kebutuhan konsumsi minyaknya sebagian besar disuplai dari impor asing.
Jadi, dengan kenaikan harga yang tinggi pada komoditas minyak bumi, tekanan terhadap anggaran pemerintah akan sangat besar. Lebih dari 80 persen konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional merupakan produk subsidi dan sekitar 90 persen elpiji di pasar Indonesia juga merupakan komoditas yang mendapat subsidi pemerintah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/13/cc8a5d82-e876-4f45-bdfe-3b303512f2e9.jpg)
Sejarah telah mencatat serangkaian resesi ekonomi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Pertama, Perang Yom Kippur pada 1973 yang melibatkan Mesir dan Suriah melawan Israel demi merebut kembali wilayah yang lepas ke tangan Israel dalam Perang Arab-Israel tahun 1967. Dalam peperangan ini, kekuatan geopolitik negara-negara pemilik sumber daya minyak dipergunakan.
Negara pengekspor minyak yang tergabung dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memotong produksi minyak dunia dan mengembargo beberapa negara pendukung Israel. Akibat kebijakan geopolitik negara-negara produsen minyak terbesar di dunia itu, harga minyak global meroket dari yang sebelumnya kurang dari 5 dolar AS/barel menjadi lebih dari 10 dolar AS/barel.
Negara-negara pengimpor minyak dunia yang tidak terlibat konflik itu turut merasakan dampak kebijakan geopolitik anggota-anggota OPEC tersebut. Salah satu efek instannya adalah terjadi lonjakan inflasi yang mengancam pertumbuhan ekonomi semua negara di dunia.
Kedua, peristiwa geopolitik berikutnya yang berdampak terhadap situasi perekonomian global adalah revolusi Iran. Gerakan internal dalam negeri Iran yang berupaya mengubah sistem monarki menjadi republik Islam itu menimbulkan sejumlah pergolakan politik dan konflik horizontal. Konflik geopolitik dalam negeri Iran yang bermula sekitar tahun 1978 itu turut berimbas pada melonjaknya harga minyak dunia.
Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah sebagai produsen minyak bumi terbesar di dunia turut terbelah dalam revolusi Iran tersebut. Ada yang mendukung revolusi, tetapi ada juga yang tetap mempertahankan model konservatif kerajaan. Pro-kontra ini akhirnya mendorong menculnya Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang terdiri dari Oman, Bahrain, UEA, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/12/17/Arab-Spring-A-Decade-Later_93526346_1608195822.jpg)
Pembentukan GCC pada 1981 itu merupakan upaya untuk membendung meluasnya pengaruh revolusi Iran yang identik dengan Islam Syiah. Dampak dari revolusi Iran dan ketegangan di kawasan Timur Tengah itu turut berdampak pada melonjaknya harga minyak bumi dunia dari sebelumnya sekitar 15 dolar AS/barel menjadi sekitar 38 dolar AS/barel.
Ketiga, konflik geopolitik lain yang juga mendorong melonjaknya harga minyak bumi secara fantastis adalah peristiwa Arab Spring. Peristiwa yang terjadi pada 2011 itu menjadi semacam transisi di mana masyarakat negara-negara Arab berupaya beralih dari sistem monarki menuju masyarakat yang jauh lebih demokratis.
Muncul sejumlah gerakan di beberapa negara di sekitar kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti di Tunisia, Mesir, Aljazair, Jordania, Irak, dan Suriah, yang berupaya mereformasi pemerintahan yang memimpin. Pergerakan kekuatan rakyat ini menimbulkan sejumlah pertentangan dan dukungan di kawasan tersebut.
Sama seperti sebelumnya, kemelut di kawasan penghasil minyak terbesar itu segera memicu kenaikan harga minyak dunia. Kala itu harga minyak rata-rata global meroket hingga hampir mencapai 130 dolar AS/barel atau tertinggi sepanjang sejarah dunia. Kenaikan harga ini tentu saja membuat sejumlah negara di dunia berada dalam bayang-bayang resesi ekonomi, terutama negara-negara yang memiliki ketergantungan besar terhadap importir energi (Kompas.id, 30/9/2024).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/efdde894e1d28ae51a2e8e1d11809eec-Untitled_1.jpg)
Negara yang minim sumber daya alam energi akan merasakan dampak negatif dari konflik yang melibatkan negara produsen energi. Dari tujuh kawasan di dunia, hampir semuanya mengalami surplus produksi minyak bumi di wilayahnya masing-masing, kecuali kawasan Eropa dan Asia Pasifik. Kedua wilayah ini memiliki defisit produksi minyak bumi di negaranya. Artinya, jumlah konsumsi energi minyak melebihi dari kapasitas produksi minyak di kawasan bersangkutan.
Berdasarkan laporan Energy Institute Statistical Review of World Energy 2025, wilayah Eropa mengalami defisit sekitar 11 juta BPH, sedangkan wilayah Asia Pasifik mencapai 31 juta BPH. Kawasan yang mengalami surplus produksi minyak bumi terbesar di dunia adalah Timur Tengah hingga sebesar 20,22 juta BPH, disusul wilayah CIS atau bekas Uni Soviet yang surplus sekitar 8,5 juta BPH. Selanjutnya kawasan Amerika utara, tengah, dan selatan yang mencapai 6,2 juta BPH; dan Afika yang surplus sekitar 2,7 juta BPH.
Deskripsi tersebut mengindikasikan bahwa wilayah yang paling rentan terhadap suplai energi global adalah Eropa dan Asia Pasifik. Jadi, dengan adanya konflik yang memanas di Timur Tengah saat ini, potensi terjadinya gejolak ekonomi di kedua kawasan tersebut sangatlah besar.
Indonesia, sebagai salah satu negara di kawasan Asia Pasifik sekaligus negara net importer minyak, wajib mewaspadai situasi ini. Pemerintah harus menyiapkan skenario kebijakan fiskal dan juga moneter guna mengantipasi kemungkinan ancaman perekonomian dari konflik tersebut. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Budiawan Sidik AEditor:
Andreas Yoga PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji