Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, negara itu hanya memproduksi 1 juta barel minyak.
04 Jan 2026 15:56 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Hendra A Setyawan
JAKARTA, KOMPAS — Para analis menilai, dampak serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela terhadap pasar minyak global dalam jangka pendek relatif terbatas. Saat ini, pasar minyak global sedang kelebihan pasokan, sementara permintaan melemah. Akan tetapi, dampak jangka panjang tetap harus diwaspadai.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal melihat, meski Venezuela tercatat sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, perannya dalam produksi dan ekspor global telah merosot tajam dalam dua dekade terakhir. Dengan demikian, dampak serangan terhadap negeri itu terhadap harga minyak dunia dalam jangka pendek akan terbatas.
”Venezuela dulu memang merupakan eksportir minyak yang sangat besar dan ekonominya sangat bergantung pada minyak. Namun, karena mismanajemen dan infrastruktur yang menua, produksinya terus menurun. Yang besar saat ini adalah cadangannya, bukan produksinya,” ujar Faisal, saat dihubungi.
Saat ini, Venezuela diperkirakan hanya memproduksi 1 juta barel minyak per hari, atau kurang dari 1 persen produksi minyak global. Sekitar setengah dari produksinya, yakni 500.000 barel, diekspor.
Berdasarkan data Trade Map, pada 2024 Venezuela hanya berada di peringkat ke-24 eksportir minyak dunia dengan nilai ekspor sekitar 9,8 miliar dollar AS. Sebelumnya, pada 2005, Venezuela masih berada di jajaran lima besar eksportir minyak dunia dengan nilai ekspor sekitar 33 miliar dollar AS.
Produksi minyak Venezuela pada 2024 jauh tertinggal dibandingkan Rusia yang menjadi eksportir terbesar dengan nilai ekspor mencapai 122,5 miliar dollar AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/19/8a12573f-fd9b-4c3e-a6cf-89504e8dc64a_png.png)
Penurunan produksi minyak Venezuela disebabkan oleh berbagai persoalan domestik, mulai dari salah kelola ekonomi, korupsi, hingga kerusakan infrastruktur perminyakan yang tidak terawat.
Menurut Faisal, kondisi ini menjelaskan mengapa eskalasi geopolitik di Venezuela tidak serta-merta mengguncang pasar minyak global. ”Karena secara produksi dan ekspor, kontribusi Venezuela saat ini relatif kecil. Maka, kenaikan harga minyak memang ada, tetapi tidak signifikan,” ujarnya.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan konflik Iran-Israel sebelumnya yang sempat mendorong harga minyak mendekati 80 dollar AS per barel. Dalam kasus Venezuela, lonjakan harga minyak mentah Brent diperkirakan jauh lebih terbatas.
Namun, Faisal menilai kepentingan Amerika Serikat di Venezuela bersifat strategis dan berjangka panjang. Meski AS kini menjadi produsen minyak terbesar dunia berkat lonjakan produksi shale oil, jenis minyak yang dihasilkan sebagian besar adalah minyak ringan (light crude). Sementara itu, banyak kilang minyak di AS justru membutuhkan pasokan minyak berat (heavy crude).
”Refinery atau kilang di Texas dan Louisiana selama ini bergantung pada pasokan minyak berat dari Amerika Latin, termasuk Venezuela. Jadi, meskipun AS surplus produksi minyak ringan, mereka tetap membutuhkan minyak berat dari luar,” kata Faisal.
Dengan cadangan minyak Venezuela yang sangat besar dan didominasi minyak berat, penguasaan ladang minyak di negara tersebut menjadi daya tarik besar bagi AS. Apalagi, pengelolaan sektor minyak Venezuela kini banyak diarahkan ke skema swastanisasi, yang membuka persaingan antara perusahaan-perusahaan AS dan China.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/03/129c718e-6707-4c7c-aa04-cd0f38283ca9.jpg)
Bagi Indonesia, dampak langsung dari perkembangan tersebut dinilai relatif kecil dalam jangka pendek. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia memang rentan terhadap kenaikan harga minyak global, tetapi karena lonjakan harga diperkirakan terbatas, tekanannya belum signifikan.
Namun, Faisal mengingatkan, dominasi sumber energi global oleh satu negara berpotensi menimbulkan risiko jangka panjang. ”Bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga tata kelola dan geopolitik global. Indonesia, secara tidak langsung, juga akan terdampak dalam jangka panjang,” katanya.
Militer Amerika Serikat menyerang Venezuela pada Sabtu (3/1/2026). Presiden AS Donald Trump mengklaim telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. Selanjutnya, Trump mengatakan, AS berencana mengambil alih dan menghidupkan kembali sektor energi Venezuela.
Mengutip laman The Globe and Mail, Minggu (4/1/2026), Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia telah ”mencuri” aset AS hampir dua dekade lalu setelah perusahaan minyak AS mengembangkan ladang minyak di negara tersebut. Pasca-serangan AS ke Venezuela, mereka akan kembali mengambil alih dan menghidupkan kembali industri tersebut.
”Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dollar untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara,” kata Trump dalam konferensi pers.
Trump mengisyaratkan untuk meningkatkan persaingan di pasar minyak seiring dengan meningkatnya produksi di Venezuela. ”Kita akan menjual sejumlah besar minyak ke negara lain,” katanya.
Mengutip laman CNBC, penggulingan Presiden Maduro oleh Presiden Trump di Venezuela yang kaya minyak kemungkinan tidak akan mengguncang pasar energi dalam waktu dekat.
Kepala Analis dan Kepala Penelitian Global Risk Management Arne Lohmann Rasmussen mengatakan, meskipun skala serangan AS tidak terduga, pasar telah memperhitungkan dampak konflik dengan AS dan Venezuela terhadap pasar minyak dunia.
Menurut Rasmussen, konflik AS dan Venezuela terjadi ketika pasar minyak global mengalami kelebihan pasokan dan permintaan relatif lemah. Hal ini merupakan sebuah pola yang lazim terjadi pada kuartal pertama tahun ini.
Kalaupun ada dampaknya, lanjut Rasmussen, harga minyak mentah Brent hanya akan naik 1 dollar AS hingga 2 dollar AS, atau bahkan kurang ketika perdagangan berjangka dibuka pada Minggu malam. Dia memproyeksikan, harga minyak mentah Brent akan sedikit lebih rendah pekan depan dibandingkan dengan harga penutupan pada Jumat, yaitu 60,75 dollar AS.
”Intinya adalah masih ada banyak minyak di pasar, dan itulah sebabnya harga minyak tidak akan meroket,” kata Rasmussen.
Senada dengan Rasmussen, analis Bob McNally dari Rapidan Energy mengatakan, sekitar sepertiga produksi minyak Venezuela berisiko terhenti. Namun, hal itu tidak akan menimbulkan risiko yang berarti bagi pasar minyak dalam jangka pendek.
Pasar minyak pada 2025 mencatat penurunan terbesar secara tahunan dalam lima tahun terakhir. Patokan harga global Brent turun sekitar 19 persen tahun lalu, sementara minyak mentah AS kehilangan hampir 20 persen.
Pasar berada di bawah tekanan karena OPEC+ meningkatkan produksi setelah bertahun-tahun memotong produksi. AS juga memproduksi pada tingkat rekor, yaitu sedikit di atas 13,8 juta barel per hari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/09/14e443b9-3c11-4332-8aad-e5ec963f953d.jpg)
Sementara itu, berdasarkan siaran pers Pertamina Patra Niaga, PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading Pertamina, kembali menyesuaikan harga berkala untuk produk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Mulai 1 Januari 2026, Pertamax Series dan Dex Series mengalami penyesuaian harga. Khusus di tiga wilayah bencana, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, harga Pertamax Series tidak mengalami penyesuaian harga sejak November 2025 sehingga masih di bawah harga di provinsi lain pada pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) yang sama.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyampaikan, penyesuaian harga ini dilakukan dengan mengacu pada formula harga dari pemerintah serta mengikuti tren harga rata-rata publikasi minyak dunia, seperti Argus atau Mean of Platts Singapore (MOPS), dan mempertimbangkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
”Penyesuaian harga ini kami lakukan secara berkala dan tetap menjadikan harga Pertamax Series dan Dex Series sebagai yang paling kompetitif,” ujar Roberth.
Adapun harga BBM Nonsubsidi yang berlaku mulai 1 Januari 2026 ialah Pertamax Rp 12.350 per liter (Desember, Rp 12.750 per liter); Pertamax Green 95 Rp 13.150 per liter (sebelumnya, Rp 13.500 per liter); Pertamax Turbo Rp 13.400 per liter (sebelumnya, 13.750 per liter); Pertamina Dex Rp 13.600 per liter (sebelumnya, 14.700 per liter).
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji