Dengan mengancam pelayaran di Laut Merah dan memutus akses di Selat Hormuz, Iran dan Houthi dapat mendongkrak harga minyak dan memicu inflasi di berbagai negara.
14 Sep 2026 10:10 WIB · Internasional
AFP/Khaled ZIAD
ANKARA, SENIN – Penguasaan kelompok Houthi atas garis pantai Laut Merah di Yaman mengubah peta kekuatan di kawasan Teluk. Posisi Iran menguat, sementara Arab Saudi dan negara-negara tetangganya menghadapi pilihan sulit. Mereka mesti menanggung dampak eskalasi konflik atau mengupayakan kesepakatan dengan Teheran.
Laporan Reuters, Senin (14/9/2026), menyebutkan, dengan menguasai posisi yang menghadap Selat Bab el-Mandeb, Houthi yang didukung Iran telah menciptakan titik tekanan kedua pada energi global. Apalagi kini Oman menunda perundingan soal Selat Hormuz dengan Iran dan negara-negara Teluk.
Menurut sejumlah pejabat dan analis kawasan, perhitungannya sederhana. Dengan mengancam pelayaran di Laut Merah dan memutus akses di Selat Hormuz, Iran dan Houthi dapat mendongkrak harga minyak dan memicu inflasi di berbagai negara. Ini sekaligus mempersempit peluang kawasan untuk mengandalkan Amerika Serikat untuk menyelesaikan krisis di Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/f356bf304796cab68a3e13a685e4ce6e-wires_photo_2026_09_14T083055.397.jpg)
Strategi ini, menurut mereka, dirancang untuk memaksa negara-negara Teluk menghadapi pilihan berat. Mereka harus menanggung dampak ekonomi yang kian berat akibat tekanan terhadap ekspor minyak dan serangan Iran, atau menjalin hubungan dengan Iran demi melindungi perdagangan, arus energi, dan stabilitas ekonomi.
“Keberhasilan Houthi merebut pulau-pulau strategis di Bab el-Mandeb adalah terobosan. Ini mengubah perimbangan kekuatan dan memberi mereka daya tawar lebih kuat secara geopolitik dan geoekonomi terhadap Arab Saudi, negara-negara Teluk, Amerika Serikat, dan perdagangan global,” kata analis Timur Tengah Fawaz Gerges.
Tekanan Iran-Houthi itu juga memaksa negara-negara Teluk untuk menimbang dan menerima kondisi nyata bahwa Iran dan sekutu memiliki kendali atas perekonomian regional, ekspor energi, dan stabilitas ekonomi. Padahal selama ini semua hal itu menjadi andalan negara-negara yang kaya tersebut.
Presiden AS Donald Trump dikabarkan menolak permintaan Arab Saudi untuk menyerang Houthi. Perekonomian AS saat ini tertekan karena agresi AS ke Iran mengakibatkan kinerja ekonomi memburuk dan masyarakat kesulitan menghadapi lonjakan biaya hidup.
Sementara AS akan menyongsong pemilu sela pada November 2026 dan Trump membutuhkan kemenangan kubu Republikan. Ia pun disebutkan mendorong negosiasi dengan Iran demi kepentingan politiknya yang kini semakin terpuruk di dalam negeri.
“Terserah mereka (Negara Teluk) jika ingin berunding sendiri dengan Iran,” kata Trump yang ditanya wartawan terkait perkembangan situasi di Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/cb6743b8ba166cad3b1c289ea5d8b5af-Mideast_Wars_Yemen_1_.jpg)
Upaya diplomasi di Timur Tengah menjadi goyah akibat penundaan pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk Persia terkait Selat Hormuz. Semula perundingan menteri luar negeri negara-negara Teluk dan Iran dijadwalkan digelar di kota pelabuhan utama Salalah, Oman, Senin. Tiba-tiba pertemuan ditunda tanpa kejelasan kapan dilanjutkan.
Menurut Menlu Oman Badr Albusaidi, pertemuan ditunda demi mencapai konsensus. “Kami selalu siap mendukung dialog demi stabilitas dan kerja sama abadi di kawasan,” katanya di X tanpa menjelaskan alasan penundaan.
Sebelumnya, para pejabat Iran menyatakan akan menghadiri pertemuan dengan negara-negara Arab Teluk untuk memaparkan kesepakatan dengan Oman mengenai pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Minggu (14/9/2026), mengatakan, dia sudah berbicara dengan Putera Mahkota Uni Emirat Arab Sheikh Khaled bin Zayed Al Nahyan di New Delhi di sela KTT BRICS.
“Kami sepakat mengesampingkan perbedaan dan melihat ke masa depan bagaimana bisa maju bersama,” kata Pezeshkian.
Kantor berita Iran, Fars, mengutip pernyataan seorang pejabat Kemenlu Iran, menyebutkan, pertemuan di Oman ditunda atas permintaan sejumlah negara kawasan. Penundaan diumumkan tak lama setelah Arab Saudi memutuskan menutup jalur pipa minyaknya yang selama ini menjadi rute utama bagi minyak Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/476a0b3cf774800463b679192224502b-wires_photo_2026_09_14T083228.174.jpg)
Dilema yang dihadapi negara-negara Teluk adalah bahwa faktor geografis tidak dapat diubah. Konfrontasi selama beberapa dekade gagal mengubah satu kenyataan: posisi Iran yang berada di sepanjang jalur vital energi dan perdagangan kawasan menjadikannya aktor yang tak bisa dikesampingkan dalam setiap perhitungan keamanan Teluk.
Apa pun pandangan para pemimpin Teluk terhadap Iran, negara itu tetaplah kenyataan yang tidak bisa mereka abaikan atau mereka harapkan lenyap begitu saja. Di sisi lain, konflik yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran telah menghancurkan upaya diplomatik selama puluhan tahun untuk membendung pengaruh Iran.
Analis Institut Timur Tengah, Alex Vatanka mengatakan, negara-negara Teluk dihadapkan pada pilihan berunding langsung dengan Iran atau menunggu langkah AS yang terseret dalam perang berkepanjangan tanpa akhir yang jelas. Mereka lambat laun akan terlibat dalam diplomasi pararel dengan Iran demi kepentingan keamanan strategis dan semakin terlepas dari pengaruh AS.
“Negara Teluk sedang menimbang kenyataan bahwa lebih baik mengambil kesepakatan langsung dengan Iran demi kepentingan mereka tanpa mempedulikan AS. Selama ini pun AS tidak mampu melepaskan Teluk dari Iran,” kata Vatanka.
Sejak AS-Israel menyerang Iran, Februari 2026, praktis ekspor migas negara-negara Teluk terganggu. Iran bahkan mampu menghancurkan pangkalan logistik Komando Tengah AS (Centcom) di Manama, Bahrain dan sejumlah pangkalan penting AS di Timur Tengah. Kapal induk AS dan satuan pendukungnya pun belum pernah melintasi Selat Hormuz sejak awal perang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/5ef1ff66325f8f66f2b3971c4c7a48f6-wires_photo_2026_09_14T083129.978.jpg)
Konflik yang meluas saat ini adalah buntut panjang dari konflik AS-Iran sejak 1979. Houthi adalah kelompok pemberontak di Yaman yang terlibat perang melawan Arab Saudi sebelum akhirnya merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Hal itu memicu Arab Saudi memimpin perang koalisi di Yaman yang berlarut tanpa akhir.
Houthi digempur bertahun-tahun tetapi mampu bertahan dan menyerang balik. Houthi membuktikan diri menjadi sekutu efektif Iran di kawasan.
Houthi sedang melancarkan serangan besar terhadap Arab Saudi dan memperkuat posisi tawar mereka di kawasan. “Houthi bukan sekadar kekuatan proksi yang bisa diatur sekehendak hati. Mereka dapat menggunakan geografi sebagai kekuatan (penguasaan Selat Bab el Mandeb) dan berdampak luas terhadap perdagangan internasional dan eskpor minyak dunia,” kata mantan perunding AS, Aaron David Miller.
Seorang pejabat Timur Tengah menyebut serangan Houthi terakhir merupakan hasil rancangan strategis Iran yang dijalankan dengan cermat.
“Bagi Iran ini seperti permainan catur. Mereka menetapkan langkah berikut, mereka tidak memainkan bidak catur pada saat bersamaan karena panik. Houthi adalah satu-satunya proksi Iran yang tersisa dengan kemampuan serang yang ampuh,” kata pejabat tersebut.
Dampak serangan terakhir Houthi diperkirakan membuat harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Lembaga maritim Inggris, UKMTO, Minggu, melaporkan, kembali terjadi serangan terhadap tanker yang melintasi Selat Hormuz yang mengakibatkan kapal terbakar dan awak kapal dievakuasi. Iran menyatakan, seorang awak kapal tewas dan empat lainnya terluka ketika sebuah kapal niaga Iran diserang. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase