Harga minyak kembali mendekati 100 dolar AS per barel. Serangan Houthi ke Arab Saudi, negara eksportir minyak, berpotensi semakin membebani pasar energi dunia.
08 Sep 2026 18:35 WIB · Internasional
AFP
RIYADH, SELASA — Serangkaian serangan Houthi membakar sejumlah fasilitas energi Arab Saudi, Selasa (8/9/2026). Harga minyak dunia naik lagi mendekati 100 dolar AS per barel. Serangan ini juga melukai lebih dari 70 orang.
Serangan tersebut meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah yang memanas akibat serangan AS dan Israel ke Iran. Saudi adalah sekutu penting AS di kawasan. Sementara Houthi merupakan proksi Iran di Yaman.
”Serangan itu menghantam fasilitas sipil dan ekonomi di kota-kota Saudi, seperti Abha, Jazan, Najran, dan Khamis Mushait,” ujar juru bicara koalisi pimpinan Saudi di Yaman, Turki al-Malki.
Al-Malki mengatakan, serangan di kawasan selatan Saudi tersebut melukai 73 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Namun, ia tidak merinci lebih lanjut mengenai para korban. Operasionalisasi di sejumlah fasilitas minyak yang terbakar pun dihentikan akibat serangan tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/04/24/ea517534-32ee-4215-9d1e-2693ade2d08b.jpg)
Wilayah selatan Saudi menampung sejumlah fasilitas minyak utama, termasuk kilang minyak berkapasitas 400.000 barel per hari di Jazan. Fasilitas ini merupakan salah satu kilang terbesar di negara berpenduduk lebih dari 35 juta jiwa itu.
Al-Malki menyebut serangan-serangan Houthi sebagai eskalasi serius dan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Kerajaan Saudi. Ia menilai serangan itu merupakan ancaman langsung terhadap keamanan serta keselamatan warga negara.
”Koalisi pimpinan Arab Saudi akan mengambil semua langkah operasional yang diperlukan untuk menangkal milisi Houthi dengan tekad bulat,” katanya.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan, pihak berwenang sedang menangani dampak dari serangan tersebut. ”Langkah-langkah yang diperlukan akan diambil untuk menjamin keselamatan fasilitas dan pekerja serta kelangsungan operasional sesuai dengan rencana kerja yang telah disetujui,” tulis pernyataan kementerian itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/08/04cf47c2b4e3ad1a0c3db789d0c67a26-wires_photo_1_.jpg)
Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia. Meningkatnya ketegangan Saudi-Houthi berpotensi semakin memperparah gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah yang selama ini telah macet akibat perang Iran.
Iran memblokade Selat Hormuz yang mengalirkan seperlima minyak mentah dunia dari kawasan Teluk. Blokade dilakukan sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel. Kondisi ini memicu krisis energi di sejumlah negara dan memicu kenaikan harga minyak.
Pertempuran Saudi dan Houthi mengancam akan menghambat pelayaran melalui Selat Bab al-Mandeb, jalur vital di Semenanjung Arab untuk pengiriman minyak dan perdagangan global. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap pasar energi dunia yang sudah terbebani akibat konflik berkepanjangan di Selat Hormuz.
Setelah Saudi mengumumkan serangan tersebut, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional mencapai 98 dolar AS per barel, naik 1 dolar AS dari sehari sebelumnya. Harga minyak terus merangkak mendekati 100 dolar AS per barel.
Serangan tersebut meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah yang memanas akibat serangan AS dan Israel ke Iran. Saudi adalah sekutu penting AS di kawasan. Sementara Houthi merupakan proksi Iran di Yaman.
Terakhir kali harga minyak menembus 100 dolar AS per barel terjadi pada Juli lalu. Harganya sempat berangsur turun di tengah perundingan AS-Iran. Namun, kebuntuan perundingan itu membuat harga minyak kembali melonjak. Sebagai gambaran, sebelum AS-Israel menyerang Iran, harga minyak sekitar 72 dolar AS per barel.
Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menyasar fasilitas energi Saudi. Mereka menyatakan tindakan itu merupakan respons terhadap serangan Saudi baru-baru ini yang menargetkan kelompok tersebut di wilayah Yaman.
Dalam rekaman video, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan, pihaknya meluncurkan puluhan rudal balistik dan wahana nirawak (drone) ke arah fasilitas minyak dan ekonomi Saudi. Serangan juga menargetkan sebuah pangkalan udara di wilayah selatan Saudi.
”Saudi harus memahami masa melakukan kejahatan dan pembantaian terhadap rakyat Yaman tanpa adanya balasan, tindakan pencegahan, atau konsekuensi yang harus dibayar, telah berakhir,” ujar Nasruddin Amer, wakil kepala kantor media Houthi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/08/0799451d3f03a9f22d841efa534fb743-wires_photo_2_.jpg)
Serangan ini terjadi beberapa jam setelah Houthi menuding Saudi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan udara yang menghantam sebuah penjara di Provinsi Jawf, Yaman bagian utara. Menurut Houthi, setidaknya tujuh orang tewas, termasuk seorang anak, dalam serangan tersebut.
Krisis di Yaman telah memaksa banyak warganya mengungsi. Konflik tak hanya melibatkan pasukan pemerintah dan Houthi, tetapi juga pasukan sekutu Saudi. Konflik terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Jawf, Marib, dan Bayda.
Badan Imigrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (IOM) menyebutkan, lonjakan konflik di Yaman menyebabkan sekitar 18.500 orang mengungsi di Taiz dan Hodeida. Kondisi itu juga semakin menekan masyarakat di wilayah selatan Taiz dan Pesisir Barat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/07/10/6cb7b692-0b24-4f69-9d13-51259f16b6aa.jpg)
”Keluarga-keluarga tiba tanpa membawa apa pun, tanpa tempat berlindung, tanpa makanan, dan tanpa kepastian apakah aman untuk kembali. Banyak di antara mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah pernah mengungsi,” ujar Abdusattor Esoev, Kepala Misi IOM di Yaman.
Perang saudara di Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa serta sebagian besar wilayah utara Yaman. Hal ini memaksa pejabat pemerintah negara itu mengungsi ke luar negeri. Setahun berselang, koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi untuk memulihkan kekuasaan pemerintah.
Menurut perkiraan PBB, perang saudara ini telah menewaskan sedikitnya 150.000 orang. Kondisi tersebut membawa Yaman mengalami berbagai krisis, mulai dari pangan, kesehatan, hingga pengungsian. (AP/Reuters/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Retma Wati